Thursday, January 15, 2026
spot_img
HomePendidikanDunia KampusInovasi Deteksi CTS Antar Mahasiswa UNAIR Raih Emas di Thailand

Inovasi Deteksi CTS Antar Mahasiswa UNAIR Raih Emas di Thailand

Ilustrasi.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Inovasi deteksi dini carpal tunnel syndrome (CTS) karya mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) meraih medali emas dan penghargaan khusus pada International Invention and Innovation Competition dalam rangkaian Thailand Inventors Day 2026.

Kompetisi internasional tersebut diselenggarakan melalui Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) pada 5-9 Januari 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre, Bangkok, Thailand. Ajang ini diikuti peserta dari berbagai negara dan berada di bawah koordinasi National Research Council of Thailand.

Tim Handy UNAIR yang beranggotakan tujuh mahasiswa yaitu Adisti Irtifa Amalia, Tasya Amalia Dwiyanti, Nadya Chaerani, Mochammad Ivan Abdillah Putra Ginka, Rizwar Fazl Ghaisan, Desak Made Dinar Indraswari, dan Anindia Dwi Astutik, berkompetisi di kelas G yang mencakup robotika, elektronika, otomasi, Internet of Things (IoT), serta teknologi informasi dan komunikasi.

Melalui inovasi bertajuk HANDY (Hand Assistance for Carpal Tunnel Syndrome Detection and Therapy), tim ini menghadirkan alat bantu tangan berbasis teknologi kesehatan. Perangkat tersebut dirancang untuk mendeteksi gejala awal CTS sekaligus mendukung terapi dan rehabilitasi pergelangan tangan.

“Ide ini berangkat dari tingginya kasus gangguan pergelangan tangan, terutama pada mahasiswa, pekerja kantoran, dan pengguna perangkat digital. Kami ingin mendorong pencegahan sejak dini agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius,” ujar Adisti, Kamis (15/1/2026).

Ia menuturkan, proses pengembangan inovasi hingga presentasi di hadapan juri internasional menuntut kerja sama tim yang solid. Tantangan utama adalah menyampaikan konsep teknologi secara sederhana namun tetap ilmiah, mengingat latar belakang anggota tim yang beragam. “Kami mengatasinya dengan pembagian peran yang jelas dan latihan presentasi intensif,” katanya.

Keikutsertaan dalam IPITEx 2026, menurut Adisti, juga menjadi ruang pembelajaran untuk keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan masa perkuliahan secara optimal. “Kompetisi ini bukan semata soal gelar juara, tetapi proses belajar, membangun kepercayaan diri, dan memperluas pengalaman internasional,” ujarnya.

Prestasi tersebut diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berani berinovasi dari persoalan-persoalan sederhana di sekitar. Dengan pendekatan ilmiah dan kolaboratif, inovasi dinilai dapat memberi manfaat nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.(*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular