
TRENGGALEK, CAKRAWARTA.com – UPN Veteran Jawa Timur berkolaborasi dengan Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, dalam riset lapangan dan program pengabdian kepada masyarakat berbasis ekosistem mangrove. Kegiatan yang berlangsung pada 14-30 Desember 2025 itu menjadi bagian dari upaya penerapan konsep blue economy di kawasan pesisir selatan Jawa Timur.
Kolaborasi ini sejalan dengan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan 8 tentang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan pekerjaan layak, tujuan 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim, serta tujuan 15 terkait perlindungan dan pemulihan ekosistem darat dan pesisir.
Sebanyak lima sukarelawan muda direkrut melalui seleksi terbuka di media sosial untuk terlibat dalam kegiatan riset lapangan. Para sukarelawan tersebut difasilitasi akomodasi selama kegiatan berlangsung dan ditugaskan melakukan pemetaan awal ekosistem mangrove di Wonocoyo, termasuk mengidentifikasi pola pengelolaan serta tantangan yang dihadapi masyarakat setempat.
Pada tahap awal, tim peneliti muda melakukan observasi di kawasan mangrove yang berdekatan dengan lokasi konservasi penyu di Pantai Kili-Kili. Bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek, mereka juga melakukan penanaman 700 bibit mangrove sebagai bagian dari upaya rehabilitasi pesisir.
Selain observasi, tim melakukan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemilik lahan, pelaksana budidaya mangrove, perwakilan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Mangrove Wonocoyo, pemerintah desa, hingga tokoh pemuda. Para peneliti juga berkesempatan mengikuti proses pembuatan sirup dari buah bogem atau pedada (Sonneratia caseolaris), salah satu produk olahan mangrove yang dikembangkan masyarakat lokal.
Salah satu inisiator program, Praja Firdaus, mengatakan pemetaan ekosistem mangrove menjadi fondasi penting agar gerakan penanaman tidak berhenti pada kegiatan simbolik. “Pemetaan ini diperlukan supaya budidaya mangrove tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan melalui perawatan dan pengelolaan yang tepat,” ujarnya pada media ini, Senin (12/1/20266).
Dari hasil riset awal, tim menemukan persoalan utama berupa sampah kiriman dari hulu sungai yang bermuara di kawasan mangrove Wonocoyo. Saat curah hujan tinggi, aliran sungai dari wilayah Panggul dan Watulimo membawa sampah dalam jumlah besar yang kerap menghambat pertumbuhan bibit mangrove.

Kondisi tersebut berbeda dengan kawasan mangrove di wilayah perkotaan seperti Surabaya, di mana pengelolaan sampah relatif lebih terkendali. Temuan ini mendorong pengelola mangrove Wonocoyo melakukan adaptasi, antara lain dengan menanam bibit mangrove lokal yang tumbuh alami di kawasan tersebut. Strategi ini dinilai lebih efisien dari sisi biaya sekaligus lebih sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Sementara itu, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono, menilai kolaborasi riset ini sebagai langkah strategis bagi pengembangan desa. “Wonocoyo baru saja meraih Juara II Nasional Desa Wisata Berbasis Atraksi Alam dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Penelitian ini dapat menjadi rujukan penting dalam pengembangan ekosistem mangrove ke depan,” katanya.
Selain melibatkan UPN Veteran Jawa Timur dan Pemerintah Desa Wonocoyo, program ini juga menggandeng Yayasan Mangrove Indonesia Lestari dalam proses rekrutmen sukarelawan serta Yayasan Abyakta Acitya Bhumi (Akta Bumi) dalam pelaksanaan kegiatan lapangan. Kolaborasi lintas kampus, komunitas, dan pemerintah desa ini diharapkan mampu memperkuat pengelolaan pesisir yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Trenggalek.(*)
Editor: Abdel Rafi



