
SIDOARJO, CAKRAWARTA.com – Upaya memperkuat kesiapsiagaan satuan pendidikan terhadap ancaman bencana terus digencarkan. Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur menggelar Training of Facilitator (ToF) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Batch 2 yang diikuti 39 peserta dari berbagai latar belakang. Pelatihan berlangsung selama dua hari di Fave Hotel Sidoarjo, Sabtu (10/1/2026) hingga hari ini, Minggu (11/1/2026).
Peserta berasal dari kalangan akademisi, organisasi kebencanaan, lembaga swadaya masyarakat, hingga relawan kemanusiaan yang tergabung dalam 17 organisasi dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Ketua Pelaksana ToF SPAB, Dini Prastyo Wijayanti, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu mendampingi satuan pendidikan dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan.
“Mereka datang dari latar belakang dan daerah yang beragam. Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan ini dapat diterapkan di komunitas masing-masing dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Dini, Minggu (11/1/2026).
Kegiatan dibuka oleh perwakilan BPBD Jawa Timur, Muhammad Habibi, yang menekankan pentingnya peningkatan literasi kebencanaan sejak dini di lingkungan pendidikan. Ia menilai sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang aman sekaligus pusat edukasi kebencanaan bagi generasi muda.
“Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana. Peserta diharapkan memperoleh wawasan seluas-luasnya agar mampu mengedukasi dan mendampingi masyarakat, khususnya di satuan pendidikan,” kata Habibi.
Materi kebencanaan juga disampaikan oleh Alif Haidar Safrian dari BPBD Jawa Timur yang memaparkan risiko bencana geologi di wilayah Jawa Timur. Sementara itu, Asep Koswara dari Sekretariat Nasional SPAB menyoroti tingginya kerentanan satuan pendidikan terhadap bencana.
Menurut Asep, dalam 15 tahun terakhir sekitar 500.000 sekolah dan lebih dari 60 juta siswa di Indonesia terdampak bencana.
“Fasilitator SPAB menjadi ujung tombak untuk memasyarakatkan pendidikan kebencanaan, mendampingi sekolah, serta mendorong lahirnya regulasi SPAB di satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal seperti PKBM,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap satuan pendidikan idealnya melakukan simulasi kebencanaan minimal setahun sekali agar warga sekolah terlatih dan terbiasa menghadapi situasi darurat.
Fasilitator Nasional SPAB, Mariana Pardede, menegaskan bahwa esensi SPAB bukan semata-mata penyusunan dokumen administratif. “Yang terpenting adalah pemahaman sekolah terhadap ancaman bencana di lingkungannya. Seperti medical check up, dilakukan sebelum penyakit datang,” tutur Mariana.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan komprehensif, mulai dari kajian risiko bencana, pembentukan Tim Satuan Bencana Sekolah (TSBS), teknik pertolongan pertama seperti pembidaian dan resusitasi jantung paru (RJP), penggunaan tandu, teknik berlindung yang aman, hingga simulasi pemadaman kebakaran dengan alat pemadam api tradisional (APAT). Peserta juga dikenalkan dengan Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena), strategi media dan komunikasi kebencanaan, serta evaluasi hasil pelatihan.
Kegiatan ini didukung oleh BPBD Jawa Timur, Seknas SPAB, Poltekkes Kerta Cendekia Sidoarjo, serta Nurul Hayat. Dukungan lintas lembaga ini diharapkan memperkuat sinergi dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman dan tangguh bencana.(*)
Kontributor: Rizki D
Editor: Abdel Rafi



