
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Alumnus Universitas Airlangga (UNAIR), Jokhanan Kristiyono menjalani lintasan karier yang tidak sepenuhnya linear. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) itu justru menemukan panggilan akademiknya melalui persimpangan antara pengalaman teknis, praktik profesional, dan refleksi teoretis di bidang komunikasi.
Lulusan berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR ini mengawali pendidikan tinggi pada 1994 di bidang teknik mesin. Namun, sejak masa studi, ketertarikannya lebih condong pada desain komunikasi visual (DKV). Selepas lulus, Jo, sapaan akrabnya, sempat bekerja di sebuah perusahaan di Banyuwangi, sebelum kembali ke Surabaya pada 2000 untuk menempuh pendidikan sarjana di bidang yang sama hingga lulus pada 2005.
Dunia kerja membawanya ke ranah pengelolaan laman digital, promosi, dan pemasaran. Sekitar 2006, Jo mulai terlibat intens dalam marketing communication berbasis digital. Di titik inilah ia merasakan jarak antara kecakapan teknis dan kedalaman pemahaman teoretis.
“Saya merasa kompetensi teknis saja tidak cukup jika tidak ditopang landasan teoretis yang kuat. Dari situ muncul kesadaran untuk kembali belajar,” ujarnya.
Pilihan melanjutkan studi jatuh pada Program Studi Media dan Komunikasi, FISIP UNAIR. Bagi Jo, ruang akademik bukan sekadar tempat menimba teori, melainkan arena dialog dengan praktik yang telah ia jalani.
“Apa yang saya pelajari bisa langsung saya implementasikan, tentu dengan penyesuaian terhadap realitas sosial dan dinamika masyarakat,” katanya.
Studi magister ia selesaikan dalam waktu relatif singkat, tiga semester. Pada awal 2012, Jo menerima tawaran mengajar di STIKOSA-AWS. Dunia pendidikan bukan ruang asing baginya. Sebelumnya, ia juga sempat mengajar DKV dan komunikasi interaksi, yang kini lebih dikenal sebagai UI/UX, di sebuah perguruan tinggi swasta.
Mengajar, bagi Jo, justru memperbesar kewajiban untuk terus belajar. Pada 2017, melalui beasiswa khusus dosen, ia kembali ke almamater yang sama untuk menempuh pendidikan doktoral di FISIP UNAIR. Studi tersebut diselesaikan dan dinyatakan tuntas pada awal 2020.
Menata Budaya Akademik
Pengabdian panjang sebagai dosen mengantarkan Jo pada amanah baru. Ia ditunjuk sebagai Ketua STIKOSA-AWS periode 2023-2027. Penunjukan itu sempat ia ragukan, merasa masih banyak senior yang lebih layak. Namun, kepercayaan tersebut akhirnya ia terima sebagai tanggung jawab kolektif.

Tantangan utama yang ia hadapi bukan semata administratif, melainkan kultural. Menurut Jo, kampus yang telah lama berdiri tetap memerlukan pembaruan berkelanjutan, terutama dalam membangun budaya akademik yang konsisten antara nilai, aturan, dan praktik.
“SOP bisa saja tersedia, tetapi yang penting adalah bagaimana ia dihidupi dan dijalankan dalam keseharian,” ujarnya.
Dalam kepemimpinannya, Jo menekankan nilai berbudaya dan beradab sebagai fondasi bersama. Ia menjaga kedekatan antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, yang menurutnya merupakan penggerak utama kehidupan kampus.
Ia juga mendorong iklim akademik yang lebih egaliter dan kolaboratif lintas disiplin. Sekat-sekat keilmuan, kata Jo, kerap menghambat kreativitas dan inovasi, padahal tantangan ke depan justru menuntut kerja bersama yang multidisipliner.
“Kita bisa berkolaborasi meskipun latar keilmuan berbeda. Dukungan riset kolaboratif dari pemerintah sudah besar, sehingga tidak relevan lagi mempertahankan pengkotak-kotakan,” tuturnya.
Bagi Jokhanan Kristiyono, memimpin kampus komunikasi bukan soal jabatan, melainkan ikhtiar merawat ruang belajar bersama dimana tempat teori, praktik, dan etos akademik bertemu dan terus diperbarui.(*)
Kontributor: Khefti PKIP
Editor: Abdel Rafi



