Wednesday, January 14, 2026
spot_img
HomeGagasanReorientasi Kebijakan Luar Negeri Syria Di Era Ahmad al-Sharaa

Reorientasi Kebijakan Luar Negeri Syria Di Era Ahmad al-Sharaa

 

Kunjungan pimpinan Syria, Ahmad al-Sharaa, ke Gedung Putih menjadi peristiwa politik menarik di November 2025.  Beberapa poin menarik dalam kunjungan al-Sharaa ke Amerika Serikat (AS) diantaranya, pertama, kunjungan al-Sharaa ke Gedung Putih adalah kunjungan pertama pimpinan Syria ke Gedung Putih sejak kemerdekaan penuh Syria tahun 1946. Kedua, al-Sharaa, atau yang dahulu populer dengan nama Abu Muhammad al-Jaulani, memiliki track record sebagai teroris buronan AS. AS bahkan mengadakan sayembara senilai 10 Juta Dollar AS bagi siapapun yang dapat menangkap Julani. Ketiga, pertemuan Trump dan al-Sharaa menandakan pulihnya hubungan antara Amerika Serikat dan Syria, setelah hubungan kedua negara memburuk selama beberapa dekade. Keempat, pertemuan Trump-al-Sharaa menjadi penanda bagi bergesernya kebijakan luar negeri Syria, yang baru mengalami pergantian kekuasaan dari Presiden Assad ke rezim al-Sharaa.

Pergeseran Kebijakan Luar Negeri Syria

Dibawah al-Sharaa, Syria mengubah orientasi kebijakan luar negerinya terhadap AS. Di bawah pemerintahan Assad, kebijakan luar negeri Syria bersifat ”resisten” terhadap AS. Namun al-Sharaa justru ”membuka hati” terhadap AS. Al-Sharaa memohon kepada AS untuk mencabut sanksi bagi Syria yang dikenakan sejak masa pemerintahan Assad. Syria juga berkomitmen untuk tergabung dalam koalisi militer bikinan AS untuk memerangi kelompok ISIS. Utusan khusus pemerintah AS untuk Syria, Tom Barrack, mengatakan bahwa al-Sharaa  berkomitmen untuk menghabisi sisa kelompok bersenjata dukungan Iran di Syria. Trump mengatakan bahwa dirinya menyukai al-Sharaa. Pemerintah AS juga mengumumkan penghentian parsial sanksi AS terhadap Syria.

Perubahan lainnya juga ditunjukkan dalam hubungan Syria dan Israel. Pada Mei 2025,  al-Sharaa secara eksplisit mengatakan bahwa ”security talks” dengan Israel adalah penting untuk deeskalasi dan keamanan kedua negara. Al-Sharaa menyatakan bahwa pembicaraan ini dimediasi oleh AS. Pembicaraan-pembicaraan ini berlanjut hingga Israel menawarkan proposal baru terkait pengaturan keamanan dengan Syria pada September 2025. Ironinya, ketika tentara Israel terus memperluas kehadirannya di berbagai wilayah Syria seperti di Quneitra, Daraa, dan sekitar Gunung Hermon wilayah Syria, tidak terdapat tindakan dari tentara rezim al-Sharaa untuk mengusir tentara Zionis Israel. Ketika pesawat tempur Israel mengebom beberapa target strategis di kota Homs, Latakia, bahkan Damaskus, tidak terdapat tindakan penghalauan dari tentara rezim al-Sharaa. Kontras dengan orientasi pada kebijakan luar negeri yang ”resisten” terhadap AS dan Israel sebagaimana pada masa pemerintahan Assad, kebijakan luar negeri rezim al-Sharaa bersifat pragmatis dan kompromis terhadap ”musuh-musuh tradisional” Syria.

Lensa Teoritik

Perubahan tersebut dapat dilihat dari berbagai macam lensa teoritik. Salah satunya, jika  meminjam teori klasik perubahan kebijakan luar negeri oleh Charles Hermann (1990), didapati bahwa perubahan kebijakan luar negeri Syria tidak sebatas adjusment changes, program changes, maupun goal changes yang bersifat minor dan bersifat teknis. Menurut kriteria Hermann, apa yang terjadi dalam konteks Syria adalah international orientation changes. Bentuk perubahan kebijakan luar negeri yang paling ekstrim karena mengubah peran dan aktivitas internasional aktor secara mendasar. Reorientasi ini sekaligus mengubah retorika dan program negara terkait urusan luar negeri.

Lantas mengapa Syria berubah ? Jika merujuk pada kriteria Hermann, maka perubahan politik luar negeri sebuah negara dapat dianalisa dari 4 faktor, yaitu leader driven, bureaucratic advocacy, domestic restructuring, dan external scock. Dalam konteks Syria, faktor leader driven dan domestic restructuring menjadi faktor dominan, serta external shock menjadi faktor penunjang.

Dalam leader driven, perubahan kebijakan luar negeri Syria didorong  visi al-Sharaa yang menghendaki perlunya pertemanan dengan AS. Visi mengenai perbaikan hubungan dengan AS telah diimpikan oleh al-Sharaa jauh sebelum dia menjadi pimpinan Syria. Dalam dokumenter ”The Jihadist: An Islamist Militant Jockeys for Power in Syria’s Idlib” yang terbit 2021,  utusan khusus AS untuk Syria, James Jeffry menyatakan al-Sharaa (saat itu dikenal sebagai Abu Muhammad al-Jaulani pimpinan kelompok Hay’at Tahrir Al-Sham) mengirim pesan ke AS. Intinya adalah kelompok al-Sharaa bukan teroris dan ingin berteman dengan AS. Al-Sharaa/al-Jaulani menegaskan bahwa kelompoknya hanya memerangi rezim Assad, bukan AS. Visi yang diwujudkan al-Sharaa ketika menjabat pimpinan Syria saat ini.

Kedua, domestic restructuring. Mengacu pada perubahan komposisi elite pendukung pemerintahan. Elite lama Syria seperti partai Baath, jaringan bisnis Assad, militer pro-Assad, ”hilang” bersamaan dengan runtuhnya pemerintahan Assad. Elite baru Syria terdiri atas faksi Islam ”moderat”, pimpinan kabilah lokal, teknokrat, dan jaringan bisnis baru yang menginginkan wajah baru Syria. Banyak di antara elite tersebut menginginkan Syria terintegrasi dengan dunia internasional lebih luas. Hal ini didasarkan pada kebutuhan rekonstruksi dan rehabilitasi ekonomi Syria yang membutuhkan pendanaan serta investasi dunia internasional.

Sedangkan faktor external shock menjadi faktor pendukung. External shock mengacu pada perubahan dramatis dalam dunia internasional yang memberi dampak langsung pada negara. Konteksnya, Syria pada masa pemerintahan Assad memiliki hubungan erat dengan Iran dan kelompok Hizbullah. Namun belakangan, Hizbullah dan Iran sibuk berkonflik dengan Israel. Akibatnya, Iran dan Hizbullah tidak banyak berkontribusi mempertahankan pemerintahan Assad dalam menghadapi serangan pasukan al-Sharaa. Mundurnya pasukan Assad di berbagai front menghantarkan keruntuhan pemerintahan Assad dan sebaliknya menghantarkan kemenangan al-Sharaa. Menurunnya pengaruh Iran dan Hizbullah di Syria, persepsi negatif rezim baru Syria terhadap Iran, ditambah dengan tawaran rekonsiliasi oleh AS terhadap pemerintah baru Syria, menjadi faktor pendukung perubahan kebijakan luar negeri Syria.

Implikasi Geopolitik      

Perubahan Syria berimplikasi pada geopolitik Timur Tengah. Sebagian diantaranya, pertama, jika pada masa Assad, Syria dikenal sebagai negara yang dekat dengan ”blok Perlawanan” bersama Iran dan Hizbullah, maka Syria di bawah al-Sharaa dikenal sebagai ”mitra strategis” baru bagi AS di kawasan Timur Tengah. Kedua,  pengaruh AS di kawasan meningkat,  sedangkan Iran berpotensi mengalami penurunan pengaruh di kawasan. Ketiga,  wilayah Syria yang dahulu menjadi jalur logistik antara Iran dan Hizbullah di Lebanon, maka jalur tersebut dapat terputus. Keempat, dengan terputusnya koridor logistik, dapat menguntungkan Israel karena akan mengurangi tekanan Iran dan Hizbullah pada negara Zionis tersebut.(*)

PRIHANDONO WIBOWO

Pengajar Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur dan Mahasiswa Program Doktoral FISIP Universitas Airlangga

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

  1. Meski artikel ini menyoroti perubahan kebijakan luar negeri Syria di era Ahmad al-Sharaa, ada alasan untuk skeptis.

    Pergeseran dari konfrontatif ke pragmatis memang signifikan, tetapi masa lalu al-Sharaa dan koneksinya dengan kelompok militan menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi jangka panjang kebijakan ini.

    Tanpa bukti konkret tentang langkah diplomasi yang berhasil dan penerimaan domestik, perubahan ini bisa jadi lebih bersifat simbolis daripada substansial. Tetap menarik untuk diamati, namun perlu hati-hati menafsirkan dampaknya di geopolitik Timur Tengah.

    Sekedar berbagi opini, Prof.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular