
SURABAYA, CAKRAWARTAcom – Memasuki usia 121 tahun, Syarikat Islam (SI) kembali menegaskan komitmennya memperjuangkan kemandirian ekonomi rakyat. Melalui Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-42 di Surabaya, organisasi pergerakan yang memiliki akar sejarah kuat dalam perjuangan bangsa itu mengusung tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati” sebagai penegasan bahwa kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan politik, tetapi juga harus diwujudkan melalui kedaulatan ekonomi.
Kongres yang berlangsung pada 17-20 Oktober 2026 di Asrama Haji Sukolilo dan Jatim Expo, Surabaya, tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan ekonomi kerakyatan yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang Syarikat Islam.
Di hadapan kader dan simpatisan yang memadati arena kongres, pimpinan senior Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, menegaskan bahwa penyelenggaraan Majelis Tahkim merupakan bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi organisasi sekaligus momentum memperkuat gerakan dakwah ekonomi.
“Hari ini insyaa Allah kita memenuhi amanat konstitusi Majelis Tahkim, kongres bertema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati,” tutur Hamdan Zoelva.
Menurut Hamdan, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini memang berbeda dengan masa kolonial. Namun, persoalan ketimpangan ekonomi dan kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan gerakan kolektif dan keberpihakan nyata kepada masyarakat.
Bagi Syarikat Islam, perjuangan ekonomi bukan agenda baru. Organisasi ini tumbuh dari kesadaran untuk memperkuat posisi kaum pribumi dalam aktivitas perdagangan dan menghadapi ketidakadilan ekonomi pada masa kolonial.
Semangat tersebut, menurut Hamdan, perlu diterjemahkan ke dalam gerakan yang relevan dengan persoalan masyarakat masa kini. Kemiskinan dan ketimpangan tidak cukup dihadapi dengan retorika, tetapi harus dijawab melalui penguatan ekonomi umat.
“Masalah ekonomi dan kemiskinan. Kita hendak bangkit dan melawan. Gerakan perbaikan umat, lewat ekonomi,” tegas Hamdan.
Zulkifli Hasan Soroti Sejarah Kebangkitan Nasional
Pesan tentang pentingnya kebangkitan ekonomi rakyat juga mengemuka dalam pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam kongres tersebut.
Zulkifli mengangkat kembali peran historis Sarekat Islam dalam perjalanan kebangkitan nasional. Ia menilai kontribusi organisasi tersebut dalam membangun kesadaran dan persatuan bangsa patut mendapatkan perhatian lebih besar dalam ingatan sejarah nasional.
“Kalau boleh jujur, gerakan kebangkitan nasional pertama adalah Sarekat Islam, tapi yang kita peringati Boedi Oetomo. Persatuan nasional, Sumpah Pemuda, padahal Sarekat Islam yang pertama,” ungkap Zulkifli Hasan blak-blakan.
Selain menyoroti sejarah pergerakan nasional, Zulkifli menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan negara kepada petani dan peternak Indonesia. Menurutnya, ketimpangan perlakuan terhadap pelaku usaha domestik masih menjadi persoalan yang harus dibenahi secara serius.
Ia mengingatkan bahwa penguatan ekonomi nasional tidak akan berjalan optimal apabila kelompok yang menjadi fondasi ketahanan pangan justru terus berada dalam kondisi rentan.
“Petani kita miskin, petani luar kita untungkan. Dan itulah yang terjadi berpuluh tahun. Kita perlu berpihak pada petani dan peternak Indonesia,” serunya.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan petani dan peternak sebagai salah satu isu penting dalam agenda kedaulatan ekonomi. Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan, keberpihakan kepada produsen domestik menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Zulkifli Hasan juga mengapresiasi upaya Syarikat Islam dalam mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, termasuk melalui pengembangan Koperasi Desa.
Menurutnya, koperasi merupakan salah satu instrumen penting untuk memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah. Pengembangan koperasi juga sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian pangan dan memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi produktif.
“Koperasi Desa merupakan salah satu perwujudan cita-cita koperasi Syarikat Islam. Meski banyak perlawanan, Pak Prabowo bilang jalan terus. Untuk mewujudkan cita-cita Syarikat Islam sebagaimana disebut Bung Hamdan Zoelva,” ujar Zulkifli Hasan.
Penguatan koperasi menjadi relevan dalam konteks pembangunan ekonomi nasional yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan semata-mata sebagai konsumen. Melalui kelembagaan ekonomi yang kuat, petani, peternak, pelaku usaha mikro, dan masyarakat desa diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam rantai produksi dan distribusi.
Semangat tersebut juga beririsan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan perekonomian sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam konteks ini, koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan salah satu instrumen untuk memperluas partisipasi ekonomi dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Festival Koperasi Perkuat Kolaborasi Ekonomi
Rangkaian Majelis Tahkim ke-42 turut dimeriahkan melalui Festival Koperasi in Conjunction with SI Connect Expo 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku usaha kecil, koperasi, dan komunitas dalam ruang kolaborasi yang diharapkan mampu memperluas jejaring usaha serta membuka peluang pengembangan ekonomi kerakyatan.
Kehadiran festival dan pameran tersebut memperlihatkan bahwa agenda kongres tidak hanya berkutat pada pembahasan organisasi dan refleksi sejarah. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk menghadirkan ruang interaksi bagi pelaku ekonomi agar gagasan kemandirian dapat diterjemahkan menjadi kerja sama dan kegiatan usaha yang konkret.
Bagi Syarikat Islam, penguatan ekonomi umat merupakan bagian dari kesinambungan perjuangan organisasi. Warisan sejarah perlu dijaga, tetapi tantangan masa kini menuntut pembaruan strategi, penguatan kelembagaan, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor.
Dari Surabaya, kota yang memiliki tempat penting dalam perjalanan Syarikat Islam pada awal abad ke-20, pesan perjuangan itu kembali ditegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada kedaulatan politik, tetapi harus hadir dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Memasuki usia 121 tahun, Syarikat Islam dihadapkan pada tantangan untuk membuktikan bahwa semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu tetap relevan dalam menjawab kemiskinan, ketimpangan, dan persoalan kemandirian ekonomi bangsa.
Kongres Nasional ke-42 pun menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah perjuangan tersebut. Bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu, melainkan memperkuat ikhtiar agar ekonomi rakyat tumbuh mandiri, berkeadilan, dan mampu menjadi fondasi bagi kemerdekaan yang sesungguhnya.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








