Menteri Keuangan “Terbaik” Dunia, Menggantang Asap?

Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan yang terlanjur diberi prestasi sebagai Menteri Keuangan terbaik dunia itu beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa pelemahan rupiah akan perkuat daya saing. Menurut saya statement seperti itu hanyalah pernyataan seorang dosen kepada mahasiswanya. Itupun pernyataan monolog tanpa ada dialog di ruang kelas kuliah mata pelajaran yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Nampaknya Menteri Keuangan “terbaik” ini perlu banyak dialog dengan para ekonom lainnya. Jangan mengunci diri duduk di atas menara gading.

Pelemahan rupiah perkuat daya saing ekspor harus disertai dengan beberapa syarat. Harus dilihat juga komposisi ekspor dan impor dan kecenderungannya. Pertanyaannya, apakah sebaiknya rupiah melawan USD untuk menguat? Atau mengikuti arus melemah? Trend pelemahan nilai tukar tidak hanya semata-mata karena membaiknya data perekonomian Amerika Serikat (AS) saja yang kemudian mengakibatkan investor pindahkan asetnya ke USD, tekanan terhadap rupiah akibat pelebaran defisit fiskal AS, reformasi perpajakan AS yang mengakibatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan lain-lain, tetapi juga karena tidak adanya inovasi dalam kebijakan tepat guna ekonomi yang disesuaikan dengan situasi medan lapangan hari ini.

Memang banyak negara yang sengaja lemahkan dollar-nya dengan maksud tertentu. Contohnya: Jepang, pelemahan nilai tukar “by design” ini merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi Jepang yang terus melambat sebagai akibat konsumsi domestiknya rendah.

Jepang kemudian mengandalkan ekspor sebagai basis pertumbuhan ekonomi mereka walaupun ini bersifat temporer. Dengan melemahnya nilai tukar diharapkan barang Made in Japan akan jadi lebih kompetitif dan akan memberikan pendapatan lebih bagi eksportir sehingga pertumbuhan ekonomi yang berasal dari ekspor diharapkan dapat terlaksana sesuai rencana. Karakteristik ini sepintas lalu nampaknya cocok dengan Indonesia yang memiliki tujuan untuk menurunkan impor. Masyarakat Indonesia yang berada pada kategori middle income, memiliki kecenderungan yang tinggi untuk konsumsi. Kemudian konsumsi ini ternyata sampai saat ini masih dipenuhi dengan barang impor yang tidak diimbangi dengan perbaikan ekspor.

Untuk mengurangi tingginya impor agaknya pelemahan nilai tukar akan membuat harga barang impor menjadi mahal. Cara lain, pemerintah terapkan aturan terkait pembatasan impor. Tapi hal ini justru menimbulkan kelangkaan barang dan menyebabkan instabilitas harga barang dan akhirnya mempengaruhi inflasi dan perekonomian Indonesia.

Tugas pemerintah adalah harus dapat mensubstitusi barang-barang yang dikonsumsi masyarakat dari impor tadi melalui supply dari dalam negeri. Masalah yang utama saat ini adalah, banyak raw material untuk ekspor tadi justru harus diimpor. Padahal 60% bahan baku kita masih diimpor, tentu kita harus cari penggantinya, ada 3 produk bahan baku yang paling tinggi yakni suku cadang otomotif, baja dan baja terapan dan petrokimia.

Sebagai contoh dalam industri otomotif, komponen impor lebih banyak dari komponen lokal. Satu lagi contoh dalam industri tekstil, kapas 100% harus impor karena kapas Indonesia tidak memenuhi syarat untuk tekstil kualitas tertentu, karena hanya bisa untuk produk tertentu dengan kualitas rendah rendah saja. Industri benang polyester sebagai bahan lain dari tekstil juga impor, dan sudah lama kalah dari Cina. Semua mesin-mesin industri tekstil impor, kita tidak pernah mampu memproduksi mesin industri sendiri. Sementara industri tekstil Indonesia saat ini hanyalah sebagai tukang saja (upah saja), walaupun membutuhkan tenaga kerja banyak (labor intensive). Jadi sama sekali tidak benar jika SMI beranggapan bahwa pelemahan mata uang rupiah akan memperkuat posisi ekspor. Artinya, opsi pelemahan rupiah ini untuk sementara waktu hanya tinggal angan-angan, mungkin nanti. Tapi bukan untuk saat ini!

Pelemahan rupiah saat ini menurut saya, merugikan. Karena jika saat ini pemerintah lakukan intervensi dengan menggunakan cadangan, maka akhirnya sia-sia. Hal yang penting lagi adalah bahwa berbeda antara strategi pelemahan rupiah dengan pelemahan rupiah akibat tekanan (atau todongan) dan sebagai akibat salah mengambil kebijakan. Yang disalahkan kenapa malah orang luar? Buruk muka, cermin dibelah.

Nampaknya pemerintah khususnya Menteri Keuangan sudah mulai panik karena mulai tidak fokus terhadap prioritas what to do! Padahal banyak sekali tindakan inovatif dan kreatif yang bisa dilakukan, daripada mengelabui rakyat bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan ekspor.

Jakarta, 30 April 2018.

MUHAMMAD E. IRMANSYAH

Direktur Eksekutif Institute for Studies and Development of Thought (ISDT )

author