Kenapa Kincir Air Hilang?

394 views

Image result for kincir air

 

Ketika menempuh pendidikan tingkat dasar di Kenagarian Air Angat, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, saya masih ingat sejumlah kincir air yang berada di jorong Kandang Sampir. Jorong itu tak jauh dari sebuah lapangan bola yang sering juga digunakan untuk lomba adu kerbau dan adu layang-layang. Berbeda dengan Pariaman, layang-layangnya bulat, lebar, menggunakan dangung-dangung, serta tali plastik yang kuat. Sementara layang-layang di Aie Angek lebih kecil, berekor dan menggunakan tali benang nilon yang biasa untuk memancing ikan ambu-ambu.

Air Angat dulunya pusat tanaman kopi. Bila panen tiba, kami memanjat pohon kopi, terutama untuk mencari buah yang berwarna merah ranum, lalu melepaskan dari bijinya dan menelannya. Rasanya manis di lidah. Asupan gizi kami tentu tak cukup dari itu. Sebagai anak Pegawai Negeri Sipil, saban bulan keluarga saya mendapatkan pembagian sanden, kacang hijau, roti, gula dan sebagainya. Beberapa kali saya mengiringi Inyiak (nenek dari pihak ayah) untuk menumbuk kopi di Kincir Air yang letaknya lumayan jauh dari arah tempat kami tinggal. Keluarga dari almarhum istri pertama ayah saya kebetulan juga berdagang kopi.

Bukan hanya kopi yang ditumbuk di Kincir Air itu, tetapi juga padi. Tangan kudu cekatan di area tempat alu menumbuk padi atau kopi itu. Apabila sudah halus, posisi alu yang terus menumpuk itu diputar pakai pegangan kayu. Air juga bisa dimatikan di alu yang kita pakai, sehingga berhenti. Sementara, aliran air yang tidak dimatikan, akan terus bekerja menumbuk padi atau kopi. Sungguh sebetulnya teknik yang sangat sederhana, tetapi menumbuhkan sikap giat dan rajin bagi ibu-ibu dan anak-anak yang membantu. Jarang bapak-bapak yang bekerja menumpuk padi atau kopi itu.

Bapak-bapak atau anak laki-laki yang dewasa biasanya bekerja di tempat pembuatan gula dari pohon tebu. Gula merah atau saka, bahasa Minangnya. Yang bekerja adalah seekor kerbau yang ditutup kedua matanya, lalu mengelilingi area penggilingan tebu. Tugas pekerja adalah memasukkan batangan-batangan tebu di pusat lingkaran, sehingga menghasilkan air. Air itu lalu dimasak di dalam batok kelapa, sehingga jadilah gula merah. Bagi anak-anak, gula merah yang masih seperti coklat dan belum mengeras adalah favorit untuk ditunggu. Rasanya enak. Jangan-jangan, itulah yang disebut sebagai kembang gula.

Saya tidak tahu, untuk apa segala infrastruktur yang dibangun pemerintahan dewasa ini. Untuk apa memperpendek jarak antara Padang-Pekanbaru menjadi dua atau tiga jam, misalnya. Ini pertanyaan awam, sekaligus mendasar. Yang saya lihat di Jakarta atau kota-kota besar lainnya, begitu mudahnya uang dibuang sia-sia, di atas jalan yang sama. Usai dibuat aspal, lalu dibongkar, ditanami beton lagi, bahkan jalan layang. Jalan Tol Jagorawi adalah contoh terbaik, bagaimana di area itu kini berdiri pilar-pilar beton untuk rel kendaraan lainnya nanti.

Apa yang diangkut di atas rel-rel itu? Atau di jalan-jalan itu? Yang saya rasakan tiap hari adalah lautan kendaraan yang bahkan di negara-negara maju tak lagi dipakai. Yakni, kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil. Kemacetan sudah sampai di garasi rumah. Jalanan Hayam Wuruk dan Gajah Mada adalah contoh terbaiknya. Tak siang, tak malam, bahkan dengan naik motorpun tetap sulit mencari celah sempit.

Apakah infrastruktur yang dibangun itu guna mengangkut seluruh kendaraan itu? Di Jakarta saja, jumlah kendaraan ini sudah dua setengah kali lipat jumlah penduduk. Konsumsi bahan bakar fosil dan harga kendaraan inikah yang menjadi sumber kesejahteraan penduduk? Atau semata-mata area pembuangan devisa ke negara-negara penghasil seluruh kendaraan itu, mulai dari India, China, Eropa, Amerika Serikat dan lain-lainnya?

Sumatera Barat juga sudah menjadi area bermacet-macet ria. Banyak sekali keluhan tentang macet setiap pekan, jika kita mengikuti media sosial penduduk. Ketika jalan tol dibangun, asumsi dua jam jarak tempuh seperti Bandung–Jakarta, pada kenyataannya bisa memakan waktu lebih, bahkan tujuh hingga sembilan jam pada hari-hari pekan atau libur. Hampir tak ada yang namanya pelarangan jumlah kendaraan, apalagi sampai penghancuran mobil-mobil mewah sebagaimana dilakukan Presiden Duterte di Filipina. Dulu, sempat ada diskusi hangat soal ini. Tetapi sekarang, hampir tak ada lagi yang menganggap banyaknya kendaraan di jalan-jalan adalah sumber penurunan kinerja ekonomi negara. Biarlah yang ahli yang bicara ini.

Tentu yang saya bayangkan, justru pembangunan kincir air yang merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belandalah yang dibangun. Apalagi di area-area ketinggian yang banyak air, seperti di Sumatera Barat atau kaki Gunung Salak dan Gunung Halimun di Kabupaten Bogor. Teknologinya bisa diperbaharui, tidak lagi menggunakan ilmu akal dan kerja tukang seperti era Belanda. Yang saya bayangkan juga bagaimana teknologi pembuatan gula merah atau gula batu atau gula enau atau gula kela, tidak lagi menggunakan tenaga manusia dan kerbau. Yang saya bayangkan sesederhana itu, termasuk bagaimana agar buah kelapa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak diserbu buah kelapa impor dari Thailand.

Saya juga membayangkan, jalanan berisi segala macam buah, rempah, sayuran, ikan dan segala macam produk dalam negeri itu. Sehingga jalanan menjadi terasa tak asing, melainkan berbau pedalaman, beraroma pedesaan dan sekaligus bernuansa keindonesiaan. Jalanan bukan arena gank-gank motor yang kini menjadi primadona polisi masuk acara televisi. Jalanan betul-betul menjadi ajang unjuk keringat, semangat dan hakikat kemerdekaan hakiki. Bukan sebaliknya, jalanan –dalam bahasa keren infrastruktur– bukanlah arena pertunjukkan kolonialisme baru dalam bentuk kendaraan yang menjajah manusia, bukan sebaliknya sebagai alat angkut yang murah.

Tatkala kincir air hilang, kincir anginpun tak datang sebagai sumber energi murah. Tanah akhirnya menjadi soal besar, berhubung bersertifikat kepemilikan pribadi, bukan negara atau kaum seperti di Sumatera Barat. Air sudahlah semakin mahal, apalagi tanah. Air yang lebih mahal dari minyak yang berasal dari tanah dan udara. Butuh jutaan tahun bagi fosil-fosil untuk berubah menjadi bahan bakar. Tapi air? Sebetulnya sangat mudah didapat, namun harganya berkali-kali lipat harga bahan bakar fosil dalam arti yang sebenarnya. Perusahaan tinggal membuat merek, lalu menyimpan dalam bentuk kemasan, iklan-iklan disebarkan sebagai bentuk gaya hidup, sehingga anak-anak kecil tak lagi tahu bagaimana cara mencari air minum segar di area pegunungan. Naik gunung atau berkemahpun kini membawa air dalam kemasan.

Atau, barangkali karena saya awam, jadi terlihat tak memahami apa arti pembangunan infrastruktur dewasa ini? Uang begitu banyak ditimbun di sektor ini. Padahal, di sejumlah negara, laju pembangunan industri dan infrastruktur malahan dihambat. Yang dimaksimalkan adalah laju pertumbuhan pohon-pohon yang dijadikan semak belukar hingga hutan. Sudah banyak contoh, dari negara-negara pasar sosial di Skandinavia, hingga Costa Rika yang membubarkan tentaranya lalu menghutankan negaranya. Costa Rika lebih makmur ketimbang era hutan ada dalam jumlah yang sedikit.

Ataukah, saya hanya sedang mengigau dengan buku-buku lama seperti karya Vandana Shiva atau Amartya Sen? Saya sungguh akan sangat kebingungan, kemana jalan tol Padang-Padang Panjang lewatnya, kalau bukan menembus area Lembah Anai tempat harimau, siamang, monyet dan segala macam binatang dan tumbuhan alam liar bersemayam? Belanda jauh lebih “hewani” dengan cara membuat lubang kalam untuk melajunya kereta api yang menembus kedalaman. Di zaman yang serba instan ini, kerja-kerja yang bersahabat dengan alam sudah dijinakkan demi yang namanya kelajuan.

Jakarta, 11 Februari 2017

 

INDRA J PILIANG
Direktur Sang Gerilya Institute dan putera Minang

author