Indonesia Bubar: Nasib Atau Agenda?

436 views

 

Indonesia bubar 20 tahun mendatang sesungguhnya tidak setragis yang dibayangkan oleh sebagian elit Indonesia, termasuk elit muslimnya. Sebelum Indonesia diproklamasikan di 1945, di kawasan Nusantara ini hidup sebuah bangsa yang relatif makmur dan berbahagia, walaupun di bawah cengkraman Belanda. Justru setelah diproklamasikan kemerdekaannya, Indonesia mulai memasuki penjajahan model baru yang lebih eksploitatif. Sekalipun sudah diramalkan oleh Bung Karno, Indonesia terbukti kemudian jatuh ke dalam neokolonialisme dan imperialisme. Sungguh menyedihkan jika sebagian elit masih saja menggumam tengang “NKRI harga mati” justru dalam kenyarismatiannya saat ini.

Selama 700 tahun umat manusia hidup dalam masa yang relatif damai di bawah kekhalifahan Islam. Sejak kekhalifahan Turki Ottoman dijatuhkan pada 1924 melalui Perang Dunia I, umat manusia memasuki satu periode baru di mana dengan nasionalisme -ciptaan Zionis- mereka dikelompokkan ke dalam negara-negara bangsa. Negara bangsa tidak lebih sebuah nama baru bagi glorified tribalism yaitu kehidupan yang diikat oleh kesamaan suku; sebuah model kehidupan primitif tapi amat menggoda nafsu dangkal manusia.

Di atas kehidupan berbasis suku itulah penjajah melakukan penjarahan baru yg jauh lebih kejam sehingga melahirkan perbudakan baru hingga saat ini. Di awal abad 21 ini, jika rekan sebangsa tidak ada yang sudi melakukan pekerjaan tertentu, lalu hanya orang asing yang sudi melakukannya, maka orang asing itu praktis melakukan kerja budak. Lihatlah nasib tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia dimanapun seperti di Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Saudi Arabia.

Ada kasta baru dalam kehidupan global dimana dunia pertama, kedua, dan ketiga, justru di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). It may sound very nice, tapi sejak Liga Bangsa-Bangsa (LBB), lalu PBB, nasib manusia bahkan lebih buruk dari nasibnya 100 tahun sebelumnya. Sejak kejatuhan kekhalifahan Islam dan kelahiran Kerajaan Arab Saudi yang disponsori Inggris, dunia semakin terpuruk di bawah Pac Britanica, dan sejak Perang Dunia (PD) II selesai, dunia jatuh di bawah Pac Americana. Setelah dua perang dunia, hingga awal abad 21, kita menyaksikan sebuah perang yang tidak adil yang menghancurkan Afganistan, lalu Iraq, kemudian Libya. Lalu melalui Musim Semi Arab (Arab Spring), dunia Islam -yang terakhir Syiria- dilanda konflik berkepanjangan hingga hari ini di bawah PBB yang dimandulkan oleh Pac Americana.

Begitulah sekelompok elit yang menguasai Multi-National Companies (MNC) dan jejaring keuangan global ribawi, telah berhasil memaksakan sebuah New World Order yang secara sistemik menjarah manusia -apapun suku dan agamanya- yang telah disibukkan oleh sekulerisme dalam rumah negara-bangsa itu.

Mantra kemerdekaan, globalisasi dan perdagangan bebas serta demokrasi adalah sihir yang menipu. Setiap negara bangsa boleh berdemokrasi, tapi tidak boleh mempertanyakan sistem riba ini. Melalui riba inilah dunia pertama mampu membiayai mesin-mesin perang dengan daya hancur yang makin besar.

Noam Chomski mengatakan bahwa Partai Republik adalah lembaga yang paling berbahaya di planet ini karena telah mendorong perlombaan senjata nuklir dan enggan menghentikan emisi karbon yang tengah merusak ekosistem bumi. Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donal Trump, kebrutalan Partai Republik ini makin menjadi-jadi. Perang nuklir yang pernah diprediksikan Nabi Muhammad dalam Akhir Zaman hanya tinggal menunggu waktu saja.

Pada saat Putra Mahkota Muhammad bin Salman berunding dengan elit Yahudi di New York minggu ini, Indonesia sedang sibuk menyiapkan pesta demokrasinya. Entah untuk apa.

Sementara itu, di tengah harga berbagai kebutuhan pokok yang merangkak naik, angka kemiskinan yang persisten, ketimpangan sosial yang memalukan, hutang yang makin menggunung, sebagian elit muslim Indonesia masih percaya dengan demokrasi. Pada saat pengalaman berIndonesia terasa semakin pahit dan getir bagi banyak warganya, saya ragu apakah mereka masih sanggup mengimajinasikan Indonesia bahkan untuk 5 tahun ke depan ini.

Jatingaleh, 31/3/2018

 

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar, Pelaku Peradaban dan kini Tinggal di Surabaya

author