Berita Terpercaya Tajam Terkini

Taufik Abdullah 85 Tahun

0

Ketika saya diundang oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi, S. Hum., M. Hum, untuk menyaksikan acara melalui aplikasi zoom, hari Minggu, 3 Januari, 2021, mengawali tahun baru, tentang usia Sejarawan Indonesia Taufik Abdullah, yang tepat 85 tahun, sudah tentu ingatan saya tertuju kepada rumusan, siapa sebenarnya sebenarnya seorang ilmuwan atau intelektual, atau juga disebut cendekiawan itu.

Vaclav Havel, Presiden pertama dan terakhir Republik Cekoslovakia sesudah tahun 1989, mengatakan bahwa tugas seorang ilmuwan membaktikan hidupnya berpikir untuk kepentingan umum.

W.S. Rendra, budayawan Indonesia malah lebih sederhana mengatakan, bahwa ilmuwan itu, atau di sini disebutkan golongan cendekiawan, yaitu ia harus berumah di angin. Ia harus tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

Itu pula sebabnya, istilah yang dipakai buat judul buku Sejarawan Taufik Abdullah, adalah: “85 Tahun Taufik Abdullah, Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik” (Jakarta: Penerbit Buku Obor Indonesia, 2020).

Pandangan publik memang ingin menegaskan, bahwa ilmuwan itu jangan terasing dari masyarat atau tidak dikenal oleh masyarakat.

Putra Minangkabau

Prof. Dr. H. Taufik Abdullah lahir di Bukuttinggi (Sumatera Barat) pada tanggal 3 Januari 1936. Berarti waktu itu masih di zaman penjajahan Belanda. Biasanya jika lahir di daerah Minangkabau pasti akan mendapat gelar. Gelarnya adalah Tuangku Pujangga Diraja.

Usia Taufik Abdullah pada hari Minggu, 3 Januari 2021, genap 85 tahun. Suatu usia penuh pengalaman sebagai seorang ilmuwan. Sudah tentu jika berbicara tentang menulis buku, tidak terhitung banyaknya. Tidak asing lagi, karena ilmuwan tugasnya selain mengajar untuk mentransfer ilmu kepada generasi muda, ia juga disibukkan dengan berbagai penelitian.

Taufik Abdullah pernah menjabat sebagai KetuaLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2000-2002, dan Wakil Presiden “Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama.”

Taufik memperoleh gelar kesarjanaannya dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Universitas Yogyakarta (1961). Kemudian dia melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar master dan doktor di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat (1970). Disertasinya “Scholl and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra,” diterbitkan oleh Universitas Cornell pada tahun 1971.

Selain jalur formal, Taufik Abdullah juga pernah mengikuti orientasi program “East-West Centre” di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.

Taufik mengawali karier sebagai peneliti di LIPI, dengan jabatan Kepala Bagian Umum Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI), Jakarta (1962-1963) dan Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967). Kemudian ia menjadi Peneliti Leknas (1967-1974), Direktur Leknas LIPI (1974-1978) dan Peneliti Leknas LIPI (1978), sampai menjabat sebagai Ketua LIPI (2000-2002).

Di luar negeri, Taufik aktif sebagai peneliti dan pegiat sosial. Dia menjadi peneliti di Departemen Ilmu Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan “Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar.”

Lalu Taufik, menduduki posisi penting di institusi lintas bangsa, seperti Ketua “Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara (ISEAS) Singapura,” Wakil Presiden “Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara Kuala Lumpur,” serta Wakil Presiden “Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama.”

Selain sebagai seorang peneliti, Taufik juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif. Tulisannya tersebar di berbagai media dan jurnal, baik lokal maupun luar negeri. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 30 buku yang berhasil diselesaikannya. Atas karya-karyanya itu, pada tahun 2009 Taufik memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia.

Taufik dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tidak sulit untuk mengkaitkan Taufik Abdullah dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang selama ini menerbitkan buku-buku bermutu, termasuk buku: “85 Tahun Taufik Abdullah,” karena ia termasuk salah seorang pengurus di penerbitan buku itu.

Penerbit buku itu pula tidak dapat pula melepaskan nama besar Mochtar Lubis. Ia adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Dia merupakan lulusan HIS dan Sekolah Ekonomi Kayu Tanam yang belajar tentang jurnalisme dan beberapa bahasa asing secara autodidak. Mochtar Lubis telah meninggal dunia pada 2 Juli 2004 dan dimakamkan di Jakarta. Ia lahir
7 Maret 1922, di Padang.

Mochtar Lubis mewariskan banyak buku. Hal itu bisa kita lihat jika berkunjung ke Yayasan Pustaka Obor Indonesia di Jakarta.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.