
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ukuran besar perusahaan tidak lagi menjadi penentu utama kualitas kepemimpinan. Kepemimpinan perusahaan publik kini semakin dinilai dari kemampuannya menciptakan nilai pasar secara berkelanjutan, bukan semata dari besarnya aset atau pendapatan.
Pandangan tersebut mengemuka dalam laporan Wealth Creation Performance (WCP) 2022-2024 yang diluncurkan Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga (UNAIR). Memasuki tahun kedua, laporan ini menawarkan pendekatan alternatif untuk menilai efektivitas kepemimpinan perusahaan publik di Indonesia dengan menjadikan perubahan market capitalization sebagai indikator utama.
Menurut CESGS, nilai pasar mencerminkan respons kolektif investor terhadap keputusan strategis, pengelolaan risiko, dan arah kepemimpinan perusahaan. Dengan demikian, kepemimpinan tidak lagi diukur dari “seberapa besar” perusahaan, melainkan dari seberapa efektif pemimpin menciptakan kepercayaan dan nilai bagi pemegang saham.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan sejumlah riset akademik. Penelitian Bertrand dan Schoar (2003) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan manajer berpengaruh signifikan terhadap kebijakan investasi dan struktur permodalan perusahaan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja dan valuasi pasar. Meta-analisis tentang kepemimpinan transformasional juga menemukan hubungan positif antara kepemimpinan visioner dan kinerja jangka panjang perusahaan.
“Perbedaan gaya kepemimpinan menghasilkan variasi nilai pasar antarperusahaan. Karena itu, kualitas kepemimpinan paling nyata tercermin dalam pergerakan nilai pasar,” demikian disimpulkan CESGS dalam laporannya.
Dalam penyusunan Wealth Creation Performance 2022-2024, CESGS meneliti keterkaitan antara komposisi dewan direksi dan komisaris dengan perubahan nilai pasar perusahaan. Data dihimpun dari laporan tahunan perusahaan publik periode 2022-2024, mencakup kinerja keuangan, struktur kepemilikan, serta profil lengkap dewan pengelola.
Perubahan market capitalization kemudian dihitung dan ditelusuri kontribusinya hingga ke tingkat individu anggota direksi dan komisaris. Seluruh data digabungkan, dibersihkan, dan distandarisasi dalam basis data terpadu, sehingga kontribusi kepemimpinan terhadap penciptaan nilai bagi pemegang saham dapat terlihat lebih objektif dan transparan.
Hasil riset menunjukkan bahwa kepemimpinan berorientasi keberlanjutan cenderung menghasilkan nilai perusahaan yang lebih stabil dan menguntungkan dalam jangka panjang. Pemimpin dengan orientasi ini mempertimbangkan dampak strategis terhadap pasar, lingkungan, dan pemangku kepentingan. Perusahaan yang mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi bisnis dinilai lebih mampu membangun kepercayaan investor dan menciptakan nilai secara efisien.
CEO CESGS UNAIR, Iman Harymawan, menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian pasar global, kepemimpinan visioner menjadi faktor penentu. “Penghargaan Wealth Creation Performance mengapresiasi pemimpin yang mampu mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi bisnis dan secara konsisten menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya dalam keterangannya pada media ini, Senin (26/1/2026).
Melalui laporan ini, CESGS berharap semakin banyak perusahaan publik di Indonesia menggeser orientasi kepemimpinan dari sekadar pertumbuhan ukuran menuju penciptaan nilai pasar yang berkelanjutan. Laporan lengkap Wealth Creation Performance CESGS 2022–2024 dapat diakses melalui tautan berikut:
https://bit.ly/WealthCreation2024
Kontributor: Khefti PKIP
Editor: Abdel Rafi



