Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur hingga Ketua Umum LVRI (8)

0

Rais Abin cakrawarta

Tahun 1979, Rais Abin dipanggil pulang ke Indonesia. Sudah tentu tugasnya sebagai Panglima Pasukan Perdamaian PBB, usai. Juga setelah laporannya kepada Sekjen PBB Dr. Kurt Waldheim tentang keinginan kedua belah pihak, Mesir dan Israel untuk berdamai ditindaklanjuti Amerika Serikat (AS) di meja perundingan Camp David.

Sudah tentu pertama kali yang ditemuinya di Jakarta, adalah pimpinannya, Menteri Pertahanan/ Panglima TNI yang pada waktu itu dijabat Jenderal TNI M Jusuf.

Setelah melapor, Rais Abin baru tahu bahwa surat minta persetujuan pemerintah Indonesia agar dirinya diizinkan bertugas di Namibia yang dikirim Wakil Sekjen PBB Brian Urquhart, belum dijawab.

Oleh karena itu, Rais Abin membuat surat jawaban tidak bisa memenuhi permintaan Wakil Sekjen PBB itu. Ia ingat ucapan M. Jusuf dengan logat Bugisnya, “Cukuplah itu kau naik kuda putih. Sekarang kau bantulah aku di sini.” Akhirnya Rais Abin bisa memahami.

Secara protokoler, setelah bertemu Menteri Pertahanan/Panglima ABRI (sekarang TNI), Rais Abin harus melapor kepada presiden. Jadwal pertemuan sudah diatur M. Jusuf. Kembali dengan logat Bugisnya, M Jusuf mengatakan, “Nantilah itu. Aku sudah atur, nanti kau akan ketemu Presiden di Pekanbaru.” Pertemuan dilakukan pada saat Presiden Soeharto menghadiri Latihan Gabungan ABRI.

Pada saat latihan gabungan berlangsung di Pekanbaru, Rais Abin berperan besar dalam persiapan tersebut saat membantu M. Jusuf. Meskipun yang memimpin latihan, sesungguhnya adalah Himawan Soetanto. Pada saat itulah Rais Abin dipertemukan M. Jusuf dengan Presiden Soeharto.

Pak Harto bertanya, “Sudah kembali? Kita belum bertemu ya?”

“Belum,” jawab Rais Abin, “menunggu izin Pak Jusuf.” Presiden Soeharto mengangguk-angguk.”

Jenderal M. Jusuf memegang jabatan sebagai Menteri Pertahanan/Panglima ABRI pada tanggal 17 April 1978. Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai orang yang bersih, jujur dan Muslim yang taat.

Menarik untuk disimak adalah dialog antara M. Jusuf mengenai pesawat buatan dalam negeri. Dialog ini terekam dalam buku yang saya tulis, “Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah, Penerbit buku Kompas, dimulai dari halaman 101.

Di ruang kerja M. Jusuf, Rais Abin menjelaskan pembicaraannya dengan Kepala Staf Angkatan Udara Ashadi Cahyadi yang baru menemuinya di luar. “Ashadi menghadapi dilema dalam urusan pembelian helikopter. Menurut Habibie, kalau mau beli helikopter tipe itu ambil saja di IPTN,” jelas Rais Abin menirukan pembicaraan Ashadi.

“Aku tidak mau itu,” ujar M. Jusuf.

“Tetapi ini peraturan dan ditandatangani Soeharto,” jelas Rais Abin lagi.

“Jadi bagaimana akal kau?,” tanya M. Jusuf kepada Rais Abin.

“Cari peluang lah. Kan ada klausul. Kita prasyaratkan “avionics” (peralatan elektronik pesawat) yang tidak ada di IPTN. Kita katakan butuh segera. Jadi tidak ada persoalan, karena kita memilih ini demi teknologi “avionics”. Karena di IPTN tidak ada, ya, terpaksa kita beli di luar,” jelas Rais Abin memberi solusi.

“Aku harus bilang apa?” kembali M. Jusuf minta pemikiran lagi dari Rais Abin dan pemikiran pertama tadi seolah-olah masuk akal juga.

“Bilang begitulah kepada Habibie. Bilang saja IPTN bagus barangnya, tetapi kebutuhan kita agak khusus,” kembali Rais Abin menyarankan M. Jusuf.

Setelah itu, Rais Abin tidak mengikuti proses pembelian pesawat itu lagi. Menurut Rais Abin itu bukan menjadi wewenangnya. Dia hanya bisa menyarankan kepada pimpinannya sebagai orang kepercayaan. Sebatas itu.

Hubungan persahabatan antara Rais Abin dan M. Jusuf sudah terjalin sejak lama. Hubungan itu telah terjalin sejak M. Jusuf menjadi ajudan Kawilarang dan Rais Abin sebagai asisten Islam Salim. Rais Abin menjadi Kepala Staf Penguasa Perang Daerah, sedangkan M. Jusuf, Panglima Hasanuddin. Hal ini dikatakan M. Jusuf dalam biografinya.

Sejak tahun 1950, persahabatan Rais Abin dan M. Jusuf tetap terjalin baik. Hubungan di antara sesama militer waktu itu sangat akrab. Rais Abin mengetahui bahwa M. Jusuf sejak dulu tidak mau dikawal, walau pernah mau dibunuh di dekat Pare-Pare. Ketika M. Jusuf menjadi Menhan/Panglima ABRI, ia pun menolak dikawal. Akhirnya, Benny Moerdani terpaksa menempatkan beberapa intel di depan rumah M. Jusuf, menyamar sebagai penjual rokok.

Sebenarnya M. Jusuf juga memahami betul karakter Rais Abin sejak tahun 1959. Pada waktu itu M. Jusuf yang sudah menjabat Kepala Staf Kodam Hasanudin mendatangi Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Ahmad Yani agar Rais Abin bisa membantunya di Makasar.

Selanjutnya Ahmad Yani langsung memanggil Rais Abin dan menceritakan apa yang diminta M. Jusuf. Esok harinya M. Jusuf datang pula ke kantor Rais di Inspektoriat Teritorial dan mengatakan,”Sudahlah Is, kau ikut aku lah.”

Rais Abin agak berpikir, kalau dia ke Makasar, bagaimana pembangunan di Jalan Daksa, Kebayoran Baru yang belum sempat diselesaikannya. Ia melontarkan masalahnya kepada M. Jusuf.

“Sudahlah, nanti aku bantu,” ujar M. Jusuf.

Akhirnya Rais Abin berangkat ke Makasar sebagai asisten M. Jusuf. Jadi sudah dua kali menjadikan Rais Abin sebagai asistennya. Pertama, di Makasar ketika M. Jusuf sebagai Kepala Staf Kodam Hasanudin tahun 1959. Kedua, ketika Rais Abin dipanggil dari Timur Tengah tahun 1979.
(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior

Leave A Reply

Your email address will not be published.