Tuesday, June 25, 2024
spot_img
HomeGagasanKontemplasi Haji: Spirit Para Imigran

Kontemplasi Haji: Spirit Para Imigran

Prof Daniel Mohammad Rosyid cakrawarta

Tak terasa, sudah 8 hari kami berada di Madinatul Munawarah, kota yang dirintis dan dibangun Rasulullah Muhammad SAW sebagai model masyarakat modern metropolis dengan para mukminnya sebagai teladan warga kota terbaik. Kota yang semula disebut Yastrib itu lalu disebut Madinah yang secara fisik tidak seberapa dibanding Roma waktu itu yang megah dan dipenuhi patung-patung para dewa, juga budak-budak. Tapi secara manajemen, secara governance, Madinah jauh meninggalkan Roma di belakang. Inspirasi Madinah itu kemudian menyapu bersih hampir seluruh kawasan luas yang pernah ditaklukkan oleh Iskandar Zulkarnain dari Macedonia dan Kaisar Augustus sekitar 1000 tahun sebelumnya hanya dalam waktu kurang dari 200 tahun.

Perlu segera dicatat bahwa Madiinah berasal dari kata diin yang oleh pandangan sekuler diartikan sebagai agama, lalu disejajarkan dengan agama-agama lain seperti Hindu dan Kristen. Urusan dunia urusan Kaisar, urusan akhirat urusan Paus. Padahal Islam, oleh Al-Qur’an disebut dalam frasa addiinul Islam, adalah pranata kehidupan bersama manusia, secara individu, keluarga dan masyarakat, bahkan masyarakat global dalam semua aspek kehidupannya (sosial, ekonomi, politik). Kehidupan di Madinah terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di Roma di abad ke-7 setelah Yesus itu.

Siapakah orang ini, Rasulullah Muhammad yang menyeru Islam dari pedalaman Hijaz yang tidak masuk dalam pantauan Kaisar Romawi? Who the hell is this guy coming out of nowhere? Muhammad putra Abdullah itu sebenarnya adalah imigran (pendatang) generasi ke-5 atau lebih dari klan Quraisy keturunan Nabi Ismail -putra Ibrahim yang berasal dari Mesopotamia- yang mengawini perempuan Arab lokal dari suku Jurhum. Oleh Philip K. Hitti, Muhammad bin Abdullah ini disebut musta’ribah (yang diarabkan). Situasi Mekkah saat kelahiran Muhammad ini oleh para ulama disebut sebagai situasi jahily, buah dari pengaruh kekuasaan Romawi yang jahily. Pemujaan pada berhala, perdukunan, judi, perbudakan, pelecehan pada perempuan, mitos dan tahayul adalah kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tentu Muhammad bukan siapa-siapa jika ditidak dikarunia Allah SWT dengan Al-Qur’an. Rasulullah selanjutnya berpesan bahwa jika kita mau berpegang teguh pada Al-Qur’an dan aplikasinya menurut sunahnya, maka kita tidak akan pernah tersesat selamanya. Dengan inspirasi Al-Qur’an dan sunnah RasulNya itulah, masyarakat Arab yang jahily diubah menjadi masyarakat ilmy, yaitu masyarakat yang semula hidup dalam mitos dan tahayul kemudian berubah menjadi masyarakat yang hidup dalam pedoman yang ilmiy. Masyarakat madiinah inilah yang menyelamatkan peradaban manusia dari kebangkrutan moral dan memungkinkan renaissance beberapa ratus tahun kemudian.

Muhammad datang membawa konsep dari Allah SWT dan menerapkannya dalam masyarakatnya yang semula hidup dalam kegelapan al-dzulumaat kemudian hidup dalam keterangbenderangan cahaya an-nuur. Muhammad, seperti juga Yesus dan para Nabi pendahulunya adalah para penggerak sosial radikal yang meruntuhkan kemapanan struktur sosial masyarakat yang bobrok, menindas dan eksploitatif. Kehadirannya sangat mengganggu kelompok elit Quraisy Mekah waktu itu. Tidak mengejutkan jika Michael Heart menempatkan Rasulullah Muhammad sebagai manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah ummat manusia.

Ajaran yang dibawanya sangat radikal, tidak hanya secara spiritual, tapi juga secara ekonomi, sosial dan politik. Secara spiritual, pada saat para pemuka agama sesat meminta upah tunai di muka bagi jasa mereka “menyelamatkan” wong cilik dari dosa, Muhammad (juga Yesus) melakukannya dengan cara pro-bono, tanpa bayar! Pasar fatwa runtuh akibat inovasi ini: berdoa bisa langsung pada Tuhan, tidak perlu perantara dan duit!

“Ya Rasuulallah, hari ini kami mau pamitan padaMu setelah 8 hari ini selalu bersamamu. Kami akan merindukanmu. Kami akan kembali ke kampung halaman kami untuk meneruskan misimu sebagai tanda cinta kami padamu.

Kami tahu memang kami bukan penduduk bumi yang merindukan surga al-jannah, tapi kami adalah penduduk surga yang sedang mencari jalan kembali.

Jalan panjang kembali ke surga itu ternyata tidak mudah dan gratis. Harus kami bayar dengan segala upaya tenaga, waktu, pikiran dan uang. Surga al-jannah itu adalah nilai iman yang kami cari selama perjalanan ini, dan harganya harus kami bayar dengan ber-Islam secara penuh. Tanpa diskon”.

Masjid Nabawi Madinah, 13 September 2017

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar ITS dan Pelaku Peradaban, Saat ini tengah melaksanakan Haji

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular