Tuesday, July 23, 2024
spot_img
HomeSudut PandangMemetik Hikmah Dalam Segala Sesuatu

Memetik Hikmah Dalam Segala Sesuatu

Dalam pandangan yang lebih luas, semua yang ada di semesta ini sesungguhnya mengandung pelajaran atau hikmah yang dapat dipetik. Mulai dari pergantian siang dan malam, jatuh bangunnya kekuasaan, sampai pada ragam manusia yang ada di berbagai tempat di dunia. Semuanya yang ada di atas dunia ini mengandung hikmah untuk dipetik.

Kita ambil contoh paling mudah. Facebook yang kita pakai sebenarnya adalah ‘ruang bebas’ bagi semua orang untuk berekspresi dan saling menghubungkan diri antara satu dan lainnya. Ruang bebas maksudnya ruang dimana orang bisa mengeluarkan apa yang dia pikirkan yang mungkin tidak bisa ia keluarkan di ruang-ruang lainnya.

Tapi walaupun bebas, sepertinya tak ada ruang yang betul-betul bebas dari aturan. Apa yang ditulis orang di Facebook sedikit banyaknya akan berdampak pada orang lain. Jika orang suka, orang akan senang, jika tidak suka orang akan tidak senang. Di tengah kebebasan tersebut kita juga tetap diingatkan oleh aturan sosial yakni keterbatasan bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang disepakati umum.

Hikmah lainnya, Facebook mengajarkan kita untuk berani berinovasi. Dulunya tak hanya ada Friendster, orang-orang biasa berbagi pesan di situ. Saya masih ingat dulu termasuk sering berbagi tulisan secara berkala di situ. Bahkan, untuk tahu kabar kawan kita melihatnya di Friendster. Saat ini, kabar kawan selain bisa kita lihat di Facebook, Instagram, Twitter, atau Tiktok, juga bisa via status Whatsapp.

Dalam bidang apapun aktivitas kita, menjadi inovator sepertinya menantang untuk diwujudkan. Menjadi guru atau dosen, apakah hal-hal inovatif yang telah kita lakukan? Menjadi pengusaha, apakah hal inovatif bagi dunia usaha, misalnya apakah kita bisa membuatkan ekosistem bisnis untuk memudahkan dalam berbagai hal? Dalam profesi lainnya, pertanyaan tentang apakah kita telah melakukan inovasi rasanya jadi penting, agar hidup sekadar berjalan biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang bermakna bagi sesama.

***

Kalau lagi ada kesempatan berjalan ke suatu tempat, saya kadang suka mikir, apa hikmah yang dapat saya pelajari dari tempat itu?

Ketika berkunjung ke Kepulauan Riau, saya bertemu berbagai orang, bercerita, dan mendapatkan kesan betapa pentingnya semangat untuk mengajar mereka yang tidak bisa membaca. Saat itu, saya dapat tugas ke situ, terbang dari Jakarta, naik mobil kemudian naik kapal. Di atas kapal kayu–saat pergi dan pulangnya–saya merasakan betapa pentingnya memiliki hati yang luas dan mau mengajar kepada mereka yang tidak bisa, khususnya di pelosok negeri.

Waktu jalan ke Tanimbar juga saya merasakan hal serupa. Terbang dari Jakarta ke Ambon, istirahat sebentar kemudian terbang lagi. Di pulau yang dekat dengan utara Australia tersebut saya bertemu dengan masyarakat yang bersemangat untuk belajar membaca dan menulis. Orientasi terbanyaknya adalah agar bisa bekerja, sebab perusahaan besar terdekatnya butuh orang yang bisa membaca dan menulis. Dalam makna praktis, kemampuan baca-tulis jadi penting untuk ‘menyambung hidup.’

Dari dua perjalanan itu, saya lihat orang-orang di pelosok negeri ingin juga bisa pandai seperti orang-orang di kota. Kadang mereka jadi minder sebab tidak memiliki kecakapan tersebut. Rasa minder itu sepertinya tidak hanya terjadi pada mereka yang illiterate tapi juga ada pada masyarakat modern yang telah literate namun entah kenapa senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena orang lain dilihat lebih hebat, keminderan itu pun muncul. Padahal, dalam pandangan yang luas, semua orang memiliki kelebihannya masing-masing. Atau, tiap kita adalah pakar di bidang yang kita kuasai.

Sangat mungkin, makna dari perintah Allah agar kita melihat berbagai negeri adalah agar menumbuhkan semangat belajar, memberikan sesuatu kepada sesama, serta memiliki pemikiran yang luas. Kata orang, semakin panjang kita berjalan semakin luas juga pemikiran kita. Tapi, lebih dari itu sebenarnya adalah lebih bersemangat kita untuk berbagi kepada sesama. Artinya, jika perjalanan kita sudah teramat jauh tapi kita belum bisa memberikan manfaat bagi sesama, berarti ada hal yang perlu kita perbaiki.

***

Belakangan ini saya sering teringat dengan kata ‘makna batin.’ Kadang kalau mau beraktivitas, saya bertanya pada diri sendiri, apa makna batin aktivitas tersebut? Ketika saya merasa ada makna batinnya, saya pun jadi bersemangat untuk melakukannya.

Dalam perjalanan mobil di Kyiv beberapa waktu lalu, seorang di sampingku bercerita tentang pentingnya mencari apa yang betul-betul kita sukai, kemudian kita berfokus mengembangkan itu. Pada usia tertentu, mungkin kita akan mau bisa semua, tapi pada usia yang mulai matang kita akan mencari hal-hal yang paling kita senang, dan memiliki ‘makna batin’ tadi.

Beberapa waktu lalu, saya mengobrol dengan seorang diplomat yang tak lama lagi akan pensiun. Ia bercerita, bahwa ia ingin liburan yang panjang, pergi ke beberapa tempat untuk menikmati liburan dalam arti sebenarnya setelah puluhan tahun bekerja. Mungkin bisa sekalian menulis, kata saya. Jawabnya, saya hanya ingin fokus liburan dulu. Di sini, makna batinnya adalah: ia telah memberikan yang terbaik bagi negaranya, dan saat istirahat ia ingin betul-betul menikmati istirahatnya tersebut.

Bulan yang lebih lama lagi, saya mengobrol dengan seorang profesor. Melihat pintarnya, saya penasaran bertanya bagaimana perjalanan hidupnya. Ia cerita bahwa ia dibesarkan dari keluarga terdidik. Ia senang belajar, hingga akhirnya sekarang kariernya sebagai guru besar di salah satu kampus. Setelah pensiun rencana kemana, Prof? tanya saya. Jawabnya, ia akan jalan-jalan ke beberapa tempat untuk refreshing. Kesan saya, refreshing dari pekerjaan tahunan di dunia akademik itulah yang menjadi makna batinnya ketika telah pensiun.

***

Saat mau menulis esai ini saya teringat seorang kawanku bernama Miftahul Anwar. Saya sama-sama kuliah di FISIP Unhas angkatan 99. Waktu kuliah dulu kami pernah sama-sama demo, dan pernah sama-sama dalam kegiatan keislaman. Waktu kami mau buat kegiatan di Pesantren Darul Istiqamah, Maros, Miftah adalah salah seorang yang mendukung untuk itu. Ia senang dengan aktivisme, ‘tidak bisa diam’, dan kadang senang berontak.

Tadi di Facebook saya lihat foto anaknya yang membawa robot dan diletakkan di atas makam ayahnya. Ingin perlihatkan ke abah, katanya. Saya terharu melihatnya. Seorang kawanku yang sangat kuat perlawanannya terhadap ‘status quo’, kini telah tiada. Sebagai teman, saya berdoa semoga kawanku Miftahul Anwar mendapatkan tempat terbaik di jannah-Nya, dan anak-anaknya dapat terus tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan bermakna bagi hidupnya. Ayah mereka adalah ayah terbaik, dan patut untuk menjadi teladan. Kalau main ke Barru, saya berharap suatu saat bisa ziarah ke makam kawanku Miftah, insya Allah.

Menutup tulisan ringan ini, kalimat ‘hikmah’ dan ‘makna batin’ sepertinya menarik untuk kita renungkan dalam bentuk pertanyaan: apa hikmah dari berbagai fenomena alam dan sosial yang ada di depan mata kita? Kemudian, apakah makna batin yang memberikan kita kebahagiaan dari aktivitas yang kita lakukan? Jika kita bahagia, senang, dan dapat makna batin, biasanya kita lebih produktif. Dan, rahasia orang produktif terletak pada ditemukannya makna batin dari aktivitas yang ia lakukan.

Depok, 17 Januari 2024

 

YANUARDI SYUKUR

Hanya Manusia Biasa Yang Sentiasa Berusaha Bersyukur

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular