Kirab Merah Putih Raksasa 100 Meter Membanjiri Diwek, Berakhir di Pesantren Tebuireng

Penerimaan bendera Merah Putih dan NU dan tim kirab Hari Santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (22/10/2026). (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ribuan peserta memadati jalanan Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam apel dan kirab Hari Santri, Kamis (22/10/2026). Mengarak bendera Merah Putih raksasa sepanjang 100 meter, rombongan bergerak dari kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek menuju Pondok Pesantren Tebuireng, tempat kirab berakhir sekaligus menjadi momentum mengenang perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sedikitnya 3.000 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pengurus NU dari seluruh wilayah Kecamatan Diwek, badan otonom, lembaga NU, serta para santri pondok pesantren.

Apel digelar selepas salat Zuhur di halaman kantor MWCNU Diwek. Sejumlah unsur pemerintah dan keamanan setempat turut hadir, di antaranya Camat Diwek, Kapolsek, dan Danramil.

Usai apel, peserta bergerak menuju Pesantren Tebuireng dengan mengarak bendera Merah Putih raksasa. Besarnya jumlah peserta membuat arus lalu lintas di jalan raya provinsi yang menghubungkan Jombang dengan Malang dan Kediri mengalami kemacetan total. Petugas keamanan pun mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif.

Ketua panitia, Adi Purnomo, mengatakan pengibaran dan pengarakkan bendera raksasa tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat dan organisasi di lingkungan NU.

“Bendera raksasa itu selama perjalanan diarak oleh para santri, Banser, Ansor, pendekar Pagar Nusa dan para pengurus NU lainnya,” ujar Adi.

Ia menambahkan, sebelum mengikuti prosesi seremonial di halaman masjid pondok, rombongan kirab terlebih dahulu menggelar tahlil di makam pendiri NU, KH M Hasyim Asy’ari.

“Rombongan kirab juga menggelar tahlil di makam pendiri NU KH M Hasyim Asy’ari, sebelum seremonial di halaman masjid pondok,” tambahnya.

Rais Syuriah MWCNU Diwek, KH Nur Hadi, yang akrab disapa Mbah Bolong, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ikhtiar untuk mengharap keberkahan para pendiri NU. Menurut dia, apel dan kirab Hari Santri telah menjadi agenda rutin tahunan.

“Rutin setiap tahun apel dan kirabnya,” ujarnya.

Mengenang Resolusi Jihad dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Setibanya di Pesantren Tebuireng, para peserta disambut KH Mohammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, salah satu cucu KH M Hasyim Asy’ari yang kini menjabat Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia.

Mewakili pihak pesantren, Gus Irfan mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri memiliki makna historis yang erat dengan Resolusi Jihad, yakni seruan perjuangan ulama dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Indonesia yang baru merdeka 17 Agustus 1945, Belanda datang lagi untuk menyerang, maka para kiai dan santri berjuang untuk mempertahakan kemerdekaan sehingga berhasil. mengusir Belanda,” ujarnya.

Ia berharap semangat perjuangan para pendahulu tetap hidup di kalangan generasi santri dan masyarakat NU.

“Semoga kalian para peserta kirab mewarisi perjuangan NU dan perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaam lndonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh, menegaskan bahwa Resolusi Jihad memiliki makna mendalam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Ia mengingatkan peran NU dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“NU punya andil besar dalam mewujudkan kemerdekaan lndonesia,” ujarnya.

Hamdi berharap NU senantiasa mengambil peran ketika bangsa dan negara membutuhkan kontribusinya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan bendera Merah Putih raksasa kepada Gus Irfan. Doa penutup dipimpin Mbah Bolong, mengakhiri kirab yang tidak hanya menjadi peringatan Hari Santri, tetapi juga peneguhan kembali semangat kebangsaan dan penghormatan terhadap perjuangan para ulama.(*)

Kontributor: Ani Tazkiyatum

Editor: Abdel Rafi