Saturday, February 21, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (3): Etika Puasa dan Spirit Kapitalisme

Esai Ramadan (3): Etika Puasa dan Spirit Kapitalisme

(foto: diunggah dari laman Youtube Islamic capitalism @DanielHannan dan Max Weber and the Protestant Ethic @bbcradio4)

“Hakikat puasa adalah mempuasakan seluruh anggota badan dari segala perbuatan yang dibenci Allah, walaupun sedikit.” — Al Ghazali (1058-1111), Asrār al-Shaum (Rahasia Puasa) dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din (Terjemahan Prof. TK Ismail Yakub, 1980)

Bisakah etika puasa menenggang kebuasan dan keserakahan kapitalisme?

Pertanyaan ini bukan sekadar memenuhi hasrat pengetahuan akan fondasi etika sebagai nilai universum, melainkan juga upaya menilai ulang kinerja kapitalisme yang selama ini hanya berpedoman pada lima prinsip: modal, produksi, distribusi, akumulasi, dan profit belaka.

Sebelum mengaitkan dengan prinsip dasar etika puasa yang didasarkan pada pengendalian diri, social charity (zakat), keadilan, dan neraca (al-mizan), penting meresapkan gagasan John Mackey dan Raj Sisodia dalam Conscious Capitalism: Liberating the Heroic Spirit of Business (2014).

Mereka -Mackey(72), salah satu pendiri Whole Foods Market dan Sisodia (67), profesor pemasaran di Bentley University, serta salah satu pendiri gerakan Conscious Capitalism- menekankan bahwa bisnis tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga harus berlandaskan kesadaran moral, kepedulian sosial, dan keberlanjutan.

Kapitalisme yang sadar berusaha menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dengan kesejahteraan masyarakat luas.

Dan biasanya, korporasi kapitalis menjadikan CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai sarana pendistribusian modal untuk kesejahteraan sosial (social welfare).

Sebagai tinjauan lanjut, dua karya klasik tentang relasi kapitalisme dan agama melalui prinsip etika memberi perspektif yang berbeda.

Pertama, Max Weber (1864-1920), sosiolog, sejarawan, dan ekonom politik asal Jerman, dalam Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus (1905; Inggris 1930; Indonesia 2003), menjelaskan bahwa etika Protestanisme, khususnya Calvinisme, menekankan kerja keras, disiplin, dan hidup hemat sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Konsep calling (keterpanggilan) menjadikan pekerjaan duniawi sebagai tugas religius, sementara doktrin predestinasi mendorong individu mencari tanda keselamatan melalui keberhasilan ekonomi.

Spirit kapitalisme lahir dari etos kerja sistematis, rasionalitas, dan keteraturan yang berakar pada nilai religius Protestan.

Kesimpulan Weber adalah bahwa kapitalisme modern tumbuh bukan hanya dari faktor ekonomi, tetapi juga dari nilai budaya dan agama.

Kedua, Maxime Rodinson (1915-2004), sejarawan, sosiolog, dan orientalis asal Perancis, dalam Islam et le capitalisme (1966; Inggris 1974; Indonesia 2003) menolak tesis Weber bahwa Islam tidak mendukung rasionalitas kapitalisme.

Ia menunjukkan bahwa Islam tidak anti kapitalisme, tetapi memberi batasan moral agar tidak jatuh pada eksploitasi.

Prinsip keadilan sosial, larangan riba, kewajiban zakat, serta etika kerja dan perdagangan menjadi mekanisme etis untuk mengurangi kesenjangan sosial.

Rodinson menawarkan Islam sebagai kerangka etika yang menyeimbangkan kapitalisme tetap berkembang.

Akan tetapi, kapitalisme harus diarahkan agar tidak hanya mengejar akumulasi modal dan profit belaka, juga menjaga keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, etika puasa dapat dibaca sebagai kritik sekaligus koreksi terhadap hajat kapitalisme.

Puasa mengajarkan pengendalian diri, solidaritas sosial dan kesadaran akan keseimbangan hidup yang berpedoman kesungguhan ikhtiar untuk mencapai tujuan utama hidup: ketaqwaan (laallakum tattaqun).

Nilai-nilai ini, bila diinternalisasi dalam praktik ekonomi, dapat menenggang kebuasan dan keserakahan kapitalisme, serta mengarahkan sistem ekonomi menuju kesejahteraan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Bila membandingkan dua pandangan ini, Weber melihat kapitalisme sebagai buah dari etos kerja religius yang mendukung rasionalitas dan akumulasi, sedangkan Rodinson menekankan kapitalisme yang dibatasi oleh prinsip moral Islam agar tidak eksploitatif.

Perbedaan ini memperlihatkan dua jalan etika:

1. Yang satu menekankan disiplin dan rasionalitas sebagai fondasi kapitalisme.

2. Yang kedua menekankan keadilan sosial dan solidaritas sebagai koreksi atas kapitalisme.

Pengaruh dan implikasi praktis dari perspektif Weber dan Rodinson terhadap kapitalisme kontemporer, ikut membuka ruang refleksi yang sangat relevan dengan isu kesenjangan sosial dan keberlanjutan ekonomi nyaris tak pernah teratasi.

Dari sisi Weber, etika Protestan yang melahirkan spirit kapitalisme modern dan lebih menekankan rasionalitas, disiplin, dan etos kerja keras.

Dalam praktik kontemporer, nilai ini masih terlihat dalam budaya korporasi yang menekankan produktivitas, efisiensi, dan akumulasi modal.

Namun, orientasi yang terlalu fokus pada profit sering kali memperlebar jurang kesenjangan sosial. Terutama, pada korporasi-korporasi besar dan global yang bernaung di bawah hasrat buruk kapitalisme.

Sementara, kapitalisme yang berakar pada etos kerja religius cenderung mengabaikan distribusi kekayaan, sehingga menghasilkan sistem ekonomi yang kuat secara produktif tetapi rapuh secara sosial.

Sebaliknya, Rodinson menekankan bahwa Islam menawarkan kerangka etika yang dapat menyeimbangkan kapitalisme.

Prinsip zakat, larangan riba, dan keadilan sosial -dua di antaranya menjadi penyempurna etika puasa- dalam kapitalisme menjadi mekanisme korektif terhadap keserakahan sistem.

Dalam konteks kontemporer, nilai-nilai ini dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan redistributif, regulasi keuangan yang lebih adil, serta praktik bisnis yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Ada teks ayat dalam Quran yang mengingatkan ini:

“…mā āfā’a Allāhu ‘alā rasūlihi min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasūli wa li dhīl-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabni-sabīl, kay lā yakūna dūlatan baynal-aghniyā’i minkum…”

“Apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk kota-kota, maka itu adalah untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian…”(QS. Al-Hashr: 7)

Dengan demikian, kapitalisme tidak hanya menjadi mesin akumulasi modal dan distribusi produk, tetapi juga instrumen solidaritas dan keadilan sosial.

Jika Weber memberi fondasi bagi kapitalisme modern melalui etos kerja Kekristenan, Rodinson memberi koreksi dengan moral Islam, antara keadilan, distribusi dan timbangan agar kapitalisme tidak jatuh pada eksploitasi, baik pada manusia maupun alam.

Dalam menghadapi tantangan global seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan, kedua perspektif ini dapat saling melengkapi.

Pendekatan rasionalitas dan produktivitas dari Weber perlu dipadukan dengan keadilan sosial dan keseimbangan (al-mizan) dari Rodinson.

Hanya dengan kombinasi keduanya, kapitalisme kontemporer dapat bergerak menuju sistem yang berkelanjutan, adil, dan manusiawi.

#coversongs: Lagu “This Worldly Life” karya Maher Zain dirilis pada 17 Juni 2015 di bawah label Awakening Worldwide Ltd. Makna utama lagu ini adalah pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan tidak boleh dijadikan tujuan akhir. Maher Zain (44) menekankan bahwa segala kenikmatan duniawi akan berakhir, sementara kehidupan sejati dan abadi ada di akhirat.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular