
NGANJUK, CAKRAWARTA.com – Jalan menuju sejumlah desa di Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tidak selalu bersahabat. Di beberapa titik, akses komunikasi masih terbatas, bahkan sinyal telepon seluler belum sepenuhnya menjangkau wilayah itu. Namun, dari kawasan yang berada di ujung utara kabupaten tersebut, upaya merawat dakwah Islam moderat terus dihidupkan.
Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Selasa (17/2/2026), menerjunkan para da’i melalui Program Da’i Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah. Program yang bertepatan dengan momentum menjelang Ramadan 1447 Hijriah ini akan berlangsung hingga 10 Maret 2026.
Melalui program tersebut, para da’i tidak sekadar hadir untuk menyampaikan ceramah keagamaan, tetapi juga tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat desa. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun kedekatan sosial dengan warga.
Koordinator Program Da’i Bina Desa Aswaja An-Nahdliyah, KH Imam Mawardi, mengatakan bahwa dakwah di wilayah pedesaan membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar penyampaian materi keagamaan.
“Dakwah harus menghadirkan kesejukan dan kedamaian. Para da’i diharapkan mampu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat serta menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat dan penuh rahmat,” ujarnya.
Program tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, Pengurus Cabang NU Kabupaten Nganjuk, serta sejumlah pesantren dan perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama, seperti Universitas Islam Malang, Pesantren Lirboyo, Pesantren Tebuireng, Pesantren An Nur Bululawang, dan Pesantren Al Azhaar Tulungagung.
Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, Suhadi, menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Menurut dia, penguatan dakwah di tingkat desa merupakan bagian penting dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis di tengah masyarakat.
“Kegiatan seperti ini penting untuk terus dilanjutkan agar masyarakat mendapatkan pendampingan keagamaan yang memadai,” katanya.

Ketua PCNU Kabupaten Nganjuk, KH Hasyim Affandi, menilai wilayah Ngluyu memerlukan perhatian khusus karena kondisi geografis dan keterbatasan akses yang dihadapi masyarakat. Kehadiran para da’i diharapkan dapat membantu memperkuat kehidupan keagamaan warga.
“Kehadiran para da’i menjadi bagian dari upaya memperkuat amaliah keagamaan masyarakat, terutama di wilayah yang relatif terpencil,” ujarnya.
Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur, KH M Syukron Djazilan, menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan pendekatan yang humanis dan penuh keteladanan. “Dakwah bukan memaksa, tetapi merangkul. Keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Ngluyu, Roji, mengatakan para da’i akan menghadapi tantangan tersendiri di lapangan, mulai dari keterbatasan akses hingga kondisi sosial masyarakat yang beragam.
“Diperlukan kesabaran dan keteguhan untuk berdakwah di wilayah seperti ini,” ujarnya.
Camat Ngluyu, Sanusi, menambahkan bahwa masyarakat setempat memiliki tradisi dan kearifan lokal yang masih terjaga. Menurut dia, pendekatan dakwah yang menghargai budaya lokal akan membantu memperkuat penerimaan masyarakat.
Melalui program tersebut, para da’i diharapkan tidak hanya menjadi penyampai ajaran agama, tetapi juga menjadi pendamping masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dari desa-desa di pelosok Nganjuk, upaya merawat dakwah moderat itu terus dijaga, menguatkan nilai-nilai keagamaan sekaligus mempererat kehidupan sosial masyarakat.(*)
Kontributor: Jumari
Editor: Abdel Rafi



