Monday, February 16, 2026
spot_img
HomePendidikanDunia KampusDari Chip Taiwan Hingga Soft Power Jepang, UNAIR Jadi Arena Diplomasi Dunia

Dari Chip Taiwan Hingga Soft Power Jepang, UNAIR Jadi Arena Diplomasi Dunia

Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Takonai Susumu (kiri) saat memaparkan mengenai diplomasi budaya ala Jepang di hadapan civitas akademika dan mahasiswa di Aula Gedung C FISIP UNAIR, Surabaya, Jumat (13/2/2026). (foto: banyu bening winasis)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di sebuah “auditorium mini” di jantung Kota Surabaya, diplomasi global hadir dalam bentuk yang tak biasa. Ia tidak datang melalui perundingan tertutup antar negara, melainkan melalui layar film, percakapan akademik, dan rasa ingin tahu mahasiswa. Selama dua hari, 12–13 Februari 2026, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) menjelma menjadi arena tempat teknologi, budaya, dan kepentingan negara saling bertemu.

Di ruang itulah, Taiwan berbicara tentang chip semikonduktor yang menopang dunia, sementara Jepang memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa-bangsa. Airlangga Diplomacy Forum, yang diselenggarakan Cakra Studi Global Strategis (CSGS) FISIP UNAIR bekerja sama dengan Taipei Economic and Trade Office (TETO) Surabaya dan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, menghadirkan diplomasi dalam wujud yang nyata dan dekat.

Semua bermula dari sebuah film dokumenter berjudul A Chip Odyssey. Film itu mengisahkan perjalanan panjang Taiwan membangun industri semikonduktor hingga menjadi salah satu pemain paling penting dalam rantai pasok teknologi global. Di balik gambar pabrik dan laboratorium, tersimpan cerita tentang strategi negara, investasi pendidikan, dan visi jangka panjang.

Direktur Jenderal TETO Surabaya Isaac Chiu berdiri di hadapan mahasiswa, menjelaskan bahwa kekuatan Taiwan tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebijakan industri yang konsisten, kemitraan strategis, dan kesadaran bahwa teknologi adalah fondasi kedaulatan ekonomi.

“Industri semikonduktor Taiwan akan terus berkembang, meski menghadapi dinamika geopolitik dan perubahan global,” ujar Chiu.

Bagi mahasiswa yang memenuhi ruangan, diskusi itu membuka perspektif baru. Chip, yang selama ini hanya dipahami sebagai komponen elektronik, ternyata merupakan bagian dari percaturan kekuatan dunia. Ia menentukan daya saing ekonomi, stabilitas industri, bahkan posisi suatu negara dalam peta geopolitik global.

Wakil Dekan II FISIP UNAIR A. Safril Mubah mengatakan bahwa pemahaman terhadap industri strategis seperti semikonduktor menjadi semakin penting dalam studi hubungan internasional.

“Teknologi hari ini tidak hanya soal inovasi, tetapi juga soal kekuatan, kedaulatan, dan masa depan negara,” katanya.

Namun, diplomasi tidak selalu berbicara dalam bahasa teknologi. Sehari kemudian, Jepang hadir dengan pendekatan yang berbeda, sebuah pendekatan yang lebih halus, tetapi tidak kalah kuat. Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Takonai Susumu menjelaskan bagaimana budaya, pendidikan, dan interaksi masyarakat menjadi jembatan yang menghubungkan negara.

Direktur Jenderal TETO Surabaya Isaac Chiu (tengah) berfoto bersama Wadek II FISIP UNAIR A Safril Mubah dan dosen HI FISIP UNAIR seusai menyampaikan materi dalam momen Airlangga Diplomacy Forum di Aula Gedung C FISIP UNAIR, Surabaya, Kamis (12/2/2026). (foto: banyu bening winasis)

Diplomasi, menurut Susumu, bukan sekadar negosiasi formal, melainkan proses membangun saling pengertian di tengah perbedaan. “Diplomasi adalah cara negara menjembatani perbedaan budaya, sistem, dan kepentingan, sambil tetap menjaga identitas dan kepentingan nasionalnya,” ujarnya.

Melalui budaya populer, bahasa, pendidikan, dan pertukaran masyarakat, Jepang membangun kedekatan yang melampaui hubungan formal antar negara. Apa yang dikenal sebagai soft power itu bekerja secara perlahan, membentuk persepsi, kepercayaan, dan kemitraan jangka panjang.

Di ruang “auditorium mini” yang berlokasi di Gedung C FISIP UNAIR itu, dua wajah diplomasi tampak berdampingan. Taiwan menunjukkan bagaimana teknologi menjadi sumber kekuatan strategis, sementara Jepang memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi jembatan antar bangsa. Keduanya mengajarkan satu hal yang sama bahwa diplomasi adalah tentang bagaimana negara bertahan dan berpengaruh di dunia yang terus berubah.

Dekan FISIP UNAIR M. Muttaqien mengatakan, kampus memiliki peran penting sebagai ruang pertemuan gagasan global. “Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat memahami dunia secara langsung. Mahasiswa perlu melihat bagaimana diplomasi bekerja dalam praktik,” ujarnya.

Airlangga Diplomacy Forum memperlihatkan bahwa diplomasi hari ini tidak lagi terbatas pada ruang perundingan antar negara. Ia hadir di ruang kelas, di tengah diskusi, dan dalam interaksi antara diplomat dan generasi muda. (*)

Kontributor: Banyu Bening Winasis

Editor: Tommy dan Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular