
BLITAR, CAKRAWARTA.com – Keterbatasan akses jalan dan jembatan selama bertahun-tahun telah membatasi ruang gerak ekonomi warga Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Kondisi itu pula yang mendorong desa tersebut ditetapkan sebagai sasaran Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 0808/Blitar.
Desa Krisik tercatat memiliki tingkat kemiskinan yang tergolong tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sekitar 67,07% warga masih berada dalam kategori miskin. Keterisolasian wilayah dan minimnya infrastruktur dasar menjadi salah satu faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.
“Kondisi infrastruktur di Desa Krisik masih tertinggal dibandingkan desa lain. Jalan dan jembatan yang terbatas membuat aktivitas ekonomi warga tidak berkembang optimal,” ujar Kepala Staf Korem 081/Dhirotsaha Jaya Letkol Inf Meina Helmi usai pembukaan TMMD di Lapangan Desa Krisik, Selasa (10/2/2026).
Padahal, secara geografis Desa Krisik memiliki posisi strategis sebagai salah satu jalur penghubung antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Namun, keterbatasan sarana transportasi membuat potensi tersebut belum mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh warga.
Melalui TMMD ke-127, fokus utama pembangunan diarahkan pada penyediaan infrastruktur dasar. Sasaran fisik yang dikerjakan meliputi pembangunan rabat jalan sepanjang 1.087 meter yang dilengkapi tujuh unit gorong-gorong, serta pembangunan satu unit jembatan. Infrastruktur ini diharapkan membuka akses distribusi hasil pertanian, memperlancar mobilitas warga, dan menurunkan biaya transportasi.
Selain pembangunan jalan dan jembatan, TMMD di Desa Krisik juga dilengkapi sejumlah program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat. Program tersebut meliputi TNI AD Manunggal Air di lima titik, rehabilitasi 15 unit rumah tidak layak huni, pembangunan 15 unit jamban sehat, penguatan ketahanan pangan di lahan seluas satu hektare, serta pemberian 100 paket makanan tambahan untuk penanganan stunting.
Pendekatan pembangunan tidak hanya berhenti pada aspek fisik. Berbagai kegiatan nonfisik turut digelar, seperti pembagian paket sembako, layanan pengobatan gratis, donor darah, pasar murah, pameran produk UMKM, sunatan massal, pelayanan posyandu dan imunisasi, serta program keluarga berencana dan kesehatan.
Helmi menilai, kombinasi pembangunan fisik dan penguatan sosial menjadi langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan desa.
“Ketika jalan dan jembatan terbangun, warga lebih mudah mengakses pasar, layanan pendidikan, dan kesehatan. Infrastruktur menjadi pintu masuk bagi peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Ia menambahkan, TMMD juga membawa misi jangka panjang berupa penguatan kemanunggalan TNI dan rakyat. Program yang berawal dari ABRI Masuk Desa pada 1980 itu dirancang untuk memastikan pembangunan menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal.
Melalui TMMD ke-127, pemerintah daerah bersama TNI berharap Desa Krisik dapat keluar dari keterisolasian, membuka peluang ekonomi baru, dan secara bertahap menurunkan angka kemiskinan warga.(*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi



