Tuesday, February 3, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaMozaik Toleransi dari Malang, Gereja Katedral Ijen Sesuaikan Jadwal Misa demi Mujahadah...

Mozaik Toleransi dari Malang, Gereja Katedral Ijen Sesuaikan Jadwal Misa demi Mujahadah Satu Abad NU

Gereja Katedral Santa Perawan Maria di Jalan Ijen, Kota Malang. (foto: istimewa)

MALANG, CAKRAWARTA.com – Di Kota Malang, toleransi antarumat beragama tidak berhenti sebagai slogan. Menjelang pelaksanaan Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama pada 7-8 Februari 2026, Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Katedral Ijen) memilih menyesuaikan jadwal misa sebagai bentuk dukungan terhadap agenda keagamaan besar tersebut.

Keputusan itu diambil setelah koordinasi intensif antara pihak gereja, Pemerintah Kota Malang, serta aparat kewilayahan, menyusul rencana penutupan sejumlah ruas jalan di kawasan Ijen—wilayah yang menjadi salah satu pusat kegiatan Mujahadah Kubro.

“Kami menerima penjelasan dari pemerintah kota mengenai penutupan sekitar 12 ruas jalan, termasuk di kawasan Ijen. Penutupan ini juga terkait dengan agenda kenegaraan karena Presiden dijadwalkan hadir,” ujar Romo Paroki Katedral Ijen, Petrus Prihatin, Selasa (3/2/2026).

Secara teknis, misa sebenarnya tetap dapat dilaksanakan. Namun, Romo Petrus menjelaskan, akses umat menuju gereja menjadi pertimbangan utama. Jarak parkir yang jauh dan keharusan berjalan kaki cukup lama berpotensi menyulitkan umat, terutama lansia dan keluarga.

“Kalau misa tetap digelar seperti biasa, umat harus parkir jauh dan berjalan kaki cukup lama. Kami lalu berdiskusi dengan pengurus gereja dan para uskup untuk mencari keputusan terbaik,” kata Romo Petrus.

Hasilnya, Gereja Katedral Ijen memutuskan meniadakan sebagian besar jadwal misa selama dua hari pelaksanaan Mujahadah Kubro. Dari enam kali misa akhir pekan, hanya dua misa yang tetap dilaksanakan, yakni pada Minggu sore pukul 16.30 WIB dan 18.30 WIB, saat rangkaian Mujahadah Kubro telah selesai dan arus lalu lintas mulai normal.

“Misa tetap ada, tetapi kami geser ke waktu yang lebih memungkinkan bagi umat,” ujarnya.

Dengan kebijakan tersebut, misa Sabtu pagi dan sore, serta Minggu pagi dan siang, untuk sementara ditiadakan. Pihak gereja telah menyampaikan pengumuman resmi kepada umat melalui misa pekan sebelumnya, serta melalui media komunikasi internal gereja.

“Respons umat sangat baik. Mereka menerima keputusan ini dengan dewasa dan penuh pengertian. Ini menjadi praktik nyata toleransi dalam kehidupan beragama,” kata Romo Petrus.

Sebagai alternatif, umat yang ingin mengikuti misa pada waktu yang ditiadakan diimbau beribadah di gereja lain yang tidak terdampak penutupan jalan, seperti Gereja Tidar, Langsep, Landungsari, dan Sengkaling.

Tidak hanya itu, Gereja Katedral Ijen juga membuka area samping gereja sebagai tempat transit dan istirahat jamaah Mujahadah Kubro, lengkap dengan fasilitas toilet yang dapat digunakan.

“Kami membuka area samping gereja untuk transit jamaah. Toilet juga kami sediakan. Yang tidak dibuka hanya ruang ibadah utama karena memang tidak ada kegiatan misa di jam tersebut,” ujar Romo Petrus.

Sikap tersebut mendapat apresiasi dari panitia Mujahadah Kubro. Ketua Panitia Lokal Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad NU PCNU Kota Malang, Edy Hayatullah, menyebut kebijakan Gereja Katedral Ijen sebagai teladan nyata persaudaraan lintas iman.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Sikap Gereja Katedral Ijen menunjukkan bahwa Harlah Satu Abad NU adalah momentum kebersamaan seluruh elemen masyarakat,” ujar Edy.

Menurutnya, dukungan lintas iman tersebut memperkuat pesan bahwa Mujahadah Kubro tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan.

“Apa yang dilakukan Gereja Katedral Ijen menegaskan bahwa perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk saling menghormati dan membantu. Inilah wajah Indonesia yang ingin terus kami rawat,” katanya.

Selama pelaksanaan Mujahadah Kubro pada 7-8 Februari 2026, sebanyak 12 ruas jalan di kawasan Ijen dan sekitarnya ditutup sementara, antara lain Jalan Besar Ijen, Jalan Wilis, Jalan Semeru, Jalan Retawu, Jalan Lawu, Jalan Merapi, Jalan Welirang, Jalan Sumbing, Jalan Guntur, Jalan Buring, Jalan Taman Slamet, dan Jalan Pahlawan Trip.

Panitia mencatat rangkaian Mujahadah Kubro meliputi sholawatan, khatmil Quran, salat malam, mujahadah dan ijazah kubro, salat Subuh berjamaah, hingga resepsi yang dihadiri jajaran PWNU dari berbagai daerah, Gubernur Jawa Timur, dan Presiden.

Di Malang, penyesuaian jadwal misa Gereja Katedral Ijen menjadi bagian dari mozaik toleransi, sebuah praktik keseharian yang menguatkan pesan bahwa kerukunan bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular