Friday, January 30, 2026
spot_img
HomePendidikanDunia KampusUNAIR Kukuhkan Lima Guru Besar Kedokteran, Dorong Transformasi Layanan Kesehatan Presisi

UNAIR Kukuhkan Lima Guru Besar Kedokteran, Dorong Transformasi Layanan Kesehatan Presisi

 

SURABAYA, CAKRAWARTA.com Universitas Airlangga (UNAIR) kembali meneguhkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu kedokteran nasional dengan mengukuhkan lima guru besar Fakultas Kedokteran dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang digelar di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C, Surabaya, Kamis (29/1/2026).

Kelima guru besar tersebut adalah Prof I Gde Rurus Suryawan (Intervensi Koroner), Prof Andrianto (Kegawatdaruratan Jantung), Prof Yunias Setiawati (Psikiatri Anak dan Remaja serta ADHD), Prof Muhammad Arifin Parenrengi (Bedah Saraf dan Neurotrauma), serta Prof Wahjoe Djatisoesanto (Urologi Onkologi). Bidang keilmuan yang mereka tekuni merepresentasikan spektrum luas tantangan kesehatan mutakhir, mulai dari penyakit jantung, kanker, kesehatan mental anak, hingga cedera otak.

Rektor UNAIR Prof Muhammad Madyan menegaskan bahwa pengukuhan guru besar bukan sekadar puncak karier akademik, melainkan amanah keilmuan untuk menghadirkan solusi atas persoalan kesehatan masyarakat. “Jabatan guru besar adalah pengakuan ilmiah sekaligus tanggung jawab etik untuk terus berkontribusi bagi kemajuan ilmu, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Menurut Prof Madyan, benang merah dari kelima orasi ilmiah tersebut adalah transformasi layanan kesehatan masa depan yang presisi, terintegrasi, dan berorientasi pada kualitas hidup manusia. Pendekatan berbasis biologi, teknologi medis, sistem layanan terpadu, serta penguatan peran masyarakat menjadi fondasi perubahan tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa pengukuhan ini harus diiringi penguatan tridarma perguruan tinggi, sejalan dengan Permendikbudristek Nomor 52 Tahun 2025 tentang optimalisasi kinerja dosen pada jenjang akademik tertinggi.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Andrianto menyoroti masih tingginya angka kematian akibat kegawatdaruratan jantung di Indonesia. Penyakit jantung koroner dan stroke, katanya, kerap berujung fatal bukan semata karena beratnya penyakit, melainkan akibat keterlambatan penanganan. Ia mendorong redesain sistem kegawatdaruratan jantung berbasis waktu, integrasi layanan pra-rumah sakit hingga rumah sakit, pemanfaatan telekardiologi, serta regionalisasi rujukan berbasis data geospasial. “Dalam kondisi ini, waktu adalah keadilan,” ujarnya.

Sementara itu, Prof I Gde Rurus Suryawan menekankan pentingnya inovasi teknologi intervensi koroner perkutan untuk menekan kerusakan otot jantung akibat serangan jantung. Selain mengulas evolusi stent hingga bioresorbable vascular scaffold (BVS), ia juga memperkenalkan Skor Rurus Suryawan, sistem prediksi klinis berbasis parameter sederhana untuk menilai peluang kelangsungan hidup pasien pascaserangan jantung.

Dari ranah kesehatan mental anak, Prof Yunias Setiawati mengungkap bahwa gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) masih kerap luput dari deteksi dini. Padahal, prevalensinya pada anak usia sekolah diperkirakan mencapai 5–10 persen. ADHD, menurutnya, merupakan gangguan neurodevelopmental multifaktorial yang melibatkan faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan, termasuk kondisi kesehatan ibu saat kehamilan. Ia menekankan pentingnya skrining dini, gaya hidup sehat, serta pendekatan intervensi berbasis keluarga dan sekolah.

Di bidang bedah saraf, Prof Muhammad Arifin Parenrengi mengingatkan bahwa cedera kepala-otak tidak bisa lagi dipahami sebagai persoalan mekanik semata. Cedera tersebut merupakan proses biologis kompleks yang berlanjut setelah fase akut dan sangat menentukan luaran neurologis jangka panjang, terutama pada anak. Ia menawarkan pendekatan personalized comprehensive neurotrauma care yang mengintegrasikan tindakan bedah, pemahaman biologis, serta karakteristik individual pasien.

Adapun Prof Wahjoe Djatisoesanto menyoroti penanganan kanker kandung kemih yang masih kerap terlambat akibat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal, seperti kencing bercampur darah tanpa nyeri. Ia menekankan pentingnya deteksi dini, pemanfaatan teknologi bedah invasif minimal, serta pendekatan multidisiplin yang memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, hingga kualitas hidup pasien pascapengobatan.

Melalui pengukuhan ini, UNAIR menegaskan komitmennya untuk menjadikan ilmu kedokteran tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir sebagai jawaban atas persoalan nyata kesehatan masyarakat. “Ilmu yang dikembangkan harus berakar pada kemanusiaan dan berdampak nyata bagi kehidupan,” tandas Prof Madyan.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular