Revolusi Islam Iran dan Pengaruhnya di Irak

0 35
ilustrasi. (foto: AFP)

 

Iran memperingati Revolusi Islam dengan cara yang tidak biasanya, Rabu, 10 Februari 2021, karena masih berjuang keras menghadapi wabah virus corona terburuk di kawasan itu, rakyat negara itu tidak merayakannya dengan berbagai rapat umum dan parade seperti biasanya, melainkan dengan pawai kendaraan bermotor dan sepeda.

Terlihat tentara Iran berdiri di samping foto besar mendiang pendiri Iran dari Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini dalam sebuah upacara dalam rangka peringatan 42 tahun kembalinya Khomeini dari pengasingan dari Paris, di makamnya di Teheran selatan.

Puluhan ribu orang berpartisipasi dalam pawai itu. Mereka bergerak melalui jalan-jalan yang terlihat meriah di sejumlah kota di negara itu.

Di ibu kota, Teheran, jalan-jalan dihiasi dengan bendera-bendera besar Iran dan lautan balon, sementara lagu-lagu revolusioner dan patriotik dikumandangkan dari sejumlah pengeras suara yang dipasang di sepanjang rute pawai.

Radio dan televisi pemerintah menyiarkan lagu-lagu revolusioner dan patriotik, serta rekaman audio dan gambar yang membanggakan mengenai pencapaian ilmiah dan militer Iran, termasuk dalam bidang satelit dan rudal balistik.

Tanggal 11 Februari memang selalu diperingati seluruh rakyat Iran, baik di dalam negeri maupun oleh rakyat Iran di berbagai negara.

Sejauh ini Revolusi Iran (juga dikenal dengan sebutan Revolusi Islam) merupakan revolusi yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam.

Sering juga Revolusi Islam Iran disebut “revolusi besar ketiga dalam sejarah,” setelah Prancis dan Revolusi Bolshevik.

Di awal Revolusi Islam Iran terjadi unjuk rasa di alun-alun Azadi, Teheran, tahun 1979. Dimulai dari bulan Januari 1978 – Februari 1979. Revolusi itu mampu menggulingkah pemerintahan Shah Mohammed Rezā Pahlavi. Waktu itu berakhirlah Dinasti Pahlavi.

Dibentuknya Republik Islam Iran berada di tengah-tengah krisis energi 1979 dan berlanjut ke Perang Iran–Irak yang dimulai sejak 22 September 1980, ketika Presiden Irak Saddam Hussein memerintahkan invasi militer ke Khuzestan, provinsi penghasil minyak di Iran. Serbuan itu mengawali salah satu pertempuran paling berdarah dan merusak setelah Perang Dunia II.

Iran menamakan awal penggulingan Shah Iran sebagai sebuah Revolusi yang adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Di Iran bolehlah disebut revolusi dengan kekerasan.

Tanggal 11 Februari 1979 merupakan pengambilalihan kekuasaan oleh Ayatollah Khomeini, sekaligus dinyatakan pula sebagai ‘Hari Revolusi Islam’. Tanggal itu sebenarnya ditetapkan, tetapi sebenarnya pada hari itu pemerintahan di bawah Shahpur Bakhtiar sebagai pemerintahan terakhir yang diangkat oleh Shah Reza Pahlevi, mengundurkan diri, dan militer menyatakan akan bersikap netral menghadapi sengketa dengan rezim lama.

Imam Khomeiniu, tanggal 1 Februari 1979 , kembali ke Iran dari pengasingannya di Paris dan tanggal 12 April, 1979 Khomeini memproklamirkan ‘Republik Islam Iran.”

Sebaliknya Mohammad Reza Pahlavi, yang dinobatkan sebagai shah Iran pada 1941, setelah ayahnya dipaksa turun takhta oleh Inggris dan Soviet, mengasingkan diri ke Mesir dan meninggal dalam pengasingan pada 27 Juli 1980. Ia meninggal karena kanker. Sedangkan Imam Khomeini  meninggal di Tehran, Iran, pada 3 Juni 1989 diusia 86 tahun.

AS Berhati-Hati Pada Iran

Jika ingin melihat perkembangan Iran sekarang ini lihatlah Irak.Kenapa demikian ? Revolusi Iran berhasil mengubah wajah Irak. Sekarang yang berkuasa penuh sebagai Perdana Menteri Irak adalah Islam Syiah. Penduduk mayoritas di Iran. Jabatan perdana menteri sama dengan presiden di masa Presiden Saddam Hussein (Islam Sunni).

Dalam sejarah Irak sebelumnya, sekarang Syiah kembali berkuasa. Sebelumnya pemerintahan dikuasai segelintir orang dari golongan Sunni, yang sama sekali tidak tertarik untuk berbagi kekuasaan dengan kelompok Syiah yang menjadi mayoritas di sana. Sekarang Irak memiliki Perdana Menteri baru yakni Mustafa al-Kadhimi setelah lima bulan terjadi dua kali kegagalan untuk membentuk pemerintahan. Dia dinominasikan oleh Presiden Irak Barham Salih yang berasal dari Suku Kurdi setelah dua calon sebelumnya gagal membentuk pemerintahan.

Sementara di manakah pembagian kekuasaan untuk kelompok Sunni  yang minoritas dan pernah memimpin Irak di masa Presiden Irak Saddam Hussein. Terlihat, kekuasaan mereka sekarang hanya di Dewan Perwakilan Rakyat Irak.

Itulah strategi AS setelah negara tersebut bersama sekutunya menyerang Irak dan tentaranya berhasil menemukan presidennya Saddam Hussein di lubang persembunyiannya, setelah itu mengadili dan menggantungnya. Sepintas tidak terlihat bahwa AS bertanggungjawab menggantung Presiden Irak Saddam Hussein, tetapi kaki tangan negara tersebut yang membuat skenario politik, sehingga rakyat Irak menggantungnya.

Juga jangan lupa hancurnya Irak dikarenakan strategi Presiden AS ke-41 Herbert Walker Bush (sang ayah) dan sang anak, Presiden AS ke-43, George Walker Bush. Kedua presiden ini memang bertanggungjawab atas hancurnya Irak. Bahkan AS juga yang bertanggungjawab mendirikan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan sekarang berusaha menghancurkannya.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior

Leave A Reply

Your email address will not be published.