Pantai Desa Tabanio Kabupaten Tanah Laut Jadi Lokasi Aksi Indonesia Clean Up Day 2017

0 61
Para peserta
Para peserta Indonesia Clean Up Day (ICUD) 2017 berfoto bersama seusai melakukan aksi bersih-bersih di pantai Desa Tabanio Kabupaten Tanah Laut, Minggu (8/10/2017).
TANAH LAUT  – Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) dan himpunan mahasiswa serta UKM di lingkungan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama masyarakat serta TNI Angkatan Laut menjadi relawan dalam aksi bersih-bersih di Pantai Desa Tabanio Kabupaten Tanah Laut, Minggu (8/10/2017).
Kegiatan ini merupakan bagian dari aksi nasional Indonesia Clean Up Day (ICUD) 2017 yang berlangsung secara serentak di 22 provinsi dengan 140 lokasi clean up yang melibatkan 97.650 ribu relawan. Sebelumnya, para relawan tersebut telah mendaftarkan diri melalui situs laman relawan (www.indorelawan.org/icud) dan memilih lokasi yang diinginkan.
ICUD adalah sebuah gerakan bersih-bersih secara serentak yang dilaksanakan oleh relawan di seluruh Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2017 jam 07.00 – 09.00 pagi waktu setempat. Kegiatan ini diadakan dalam rangka mendukung World Clean Up pada 15 September 2018 mendatang yang akan diikuti 150 negara dengan melibatkan 35 juta penduduk atau 5 persen populasi di dunia. World Clean Up Day diinisiasi oleh Lets Do It World.
Nursalam, selaku koordinator ICUD Kalimantan Selatan mengatakan, dipilihnya Desa Tabanio didasari karena wilayah pesisir merupakan pintu utama masuknya sampah ke laut. Menurutnya, sampah saat ini telah menjadi masalah dunia dimana sampah plastik yang dibuang ke laut Indonesia saja angkanya mencapai 1,2 juta ton tiap tahunnya.
“Sampah plastik yang masuk ke laut akan dimakan oleh biota laut yang mengira makanannya dan akhirnya mati. Kejadian ini menyebabkan terganggunya rantai makanan,” jelas staf pengajar Ilmu Kelautan ULM ini.
Hal senada disampaikan Ketua BEM FPK ULM, Rizal. Menurutnya, sampah plastik yang mengalami proses pelapukan dan penguraian menjadi pecahan plastik pun tak luput dimakan oleh biota laut. Biota yang bertahan hidup sebagai pengkonsumsi sampah plastik dimakan oleh predator yang lebih tinggi hingga akhirnya sampai ke manusia. Akibatnya, manusia dan keturunannya merasakan dampaknya. Mulai dari suplai makanan biota laut yang berkurang hingga pengaruhnya bagi kesehatan.
”Banyak biota laut yang tertipu plastik tersebut adalah makanan, seperti penyu yang mengira sampah adalah ubur-ubur,” jelas Rizal.
Rizal juga mengungkapkan, Indonesia merupakan negara penghasil sampah laut terbanyak kedua di dunia setelah China, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.
“Jika kita tidak melakukan upaya-upaya pencegahan dari sekarang, maka ke depan anak cucu kita akan sengsara,” terangnya.
Sengsara yang dimaksud adalah ke depannya nelayan akan kesulitan mendapatkan ikan yang segar serta dampak penyakit yang diturunkan karena akumulasi sampah di dalam tubuh manusia.
Aksi bersih-bersih di Pantai Tabanio ini didukung oleh Ketua DPRD Kabupaten Tanah Laut serta pengusaha pencucian mobil di ibu kota Tanah Laut.
(bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.