Mengapa Arab Saudi Dukung Azerbaijan dalam Konflik dengan Armenia?

49
ilustrasi. (foto: istimewa)

Arab Saudi menegaskan mendukung Azerbaijan dalam Konflik dengan Armenia. Hal itu dinyatakan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan ketika menerima telepon dari mitranya Menlu Azerbaijan Jeyhun Bayramov, Minggu, 11 Oktober 2020, sebagaimana dilaporkan kantor berita “Saudi Press Agency” (SPA),” Senin, 12 Oktober 2020.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan juga menyebutkan, Menteri Faisal mengungkapkan keprihatinan atas ketegangan di Nagorno-Karabakh.

Dia mendapat penjelasan dari Bayramov, adanya penargetan warga sipil Azerbaijan serta infrastruktur oleh pasukan separatis Armenia.

Sebelumnya diberitakan, setelah gencatan senjata disepakati pada Jumat lalu, militer Armenia menembakkan roket ke kota terbesar kedua Azerbaijan, Ganja, menewaskan warga sipil serta melukai 34 lainnya, termasuk anak di bawah umur.

Menteri Faisal menegaskan serangan yang disengaja Armenia terhadap warga sipil, rumah, serta petugas medis, merupakan bagian dari kebijakan agresif terhadap Azerbaijan.

Posisi Arab Saudi dalam sengketa perbatasan Azerbaijan-Armenia sedikit rumit, karena di Azerbaijan itu, mayoritas penduduknya adalah Islam Syiah, sementara di Arab Saudi berpenduduk Islam Sunni. Bahkan di Azerbaijan dianggap sebagai negara kedua bagi Iran, karena mayoritas penduduknya adalah Islam Syiah.

Ada kemungkinan besar, berpihaknya Arab Saudi ke Azerbaijan karena Israel merupakan pemasok senjata mutakhir untuk Azerbaijan, sehingga Arab Saudi yang sangat mendukung Barat tidak mungkin punya pilihan lain. Pun kalau pun mendukung Armenia, tidak mungkin. Mayoritas penduduk Armenia beragama Kristen.

Hal ini kalau dihadapkan kepada dua pilihan kepada Arab Saudi. Jangan lupa, selama ini Arab Saudi dianggap sahabat baik bagi Amerika Serikat (AS). Kalau hanya bicara agama, bukankah mayoritas penduduk di AS beragama Kristen? Jadi bukan hanya masalah agama yang menjadi pilihan Arab Saudi mendukung Azerbaijan.

Lebih jauh dari itu, yang sangat penting, wilayah Nagorno-Karabakh yang terus disengketakan, diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai wilayah Azerbaijan.

Awalnya Azerbaijan dan Armenia menjadi negara bagian Uni Soviet. Tetapi di masa Uni Soviet dipimpin Mikhail Gorbachev, Azerbaijan dan Armenia memisahkan diri dan menyatakan kemerdekaannya.

Perang antara Azerbaijan dan Armenia di Nagorno-Karabakh, setidaknya akan ada tiga negara asing yang terlibat. Kawasan ini kembali memanas setelah terjadi pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia sejak 27 September 2020.

Seperti perang pada umumnya, sejumlah pihak asing juga ikut terlibat di dalam konflik Azerbaijan dan Armenia kali ini.

Keterlibatan pihak asing dalam hal ini bisa jadi berupa suplai senjata hingga keterlibatan personel tempur. Kembali kita mengatakan, keterbukaan yang dikumandangkan Gorbachev sebagai pemicunya.

Nama lengkap Gorbachev adalah Mikhail Sergeyevich Gorbachyov. Ia adalah politikus dan pemimpin Uni Soviet periode 1985 hingga bubarnya pada tahun 1991. Pada tanggal 11 Maret 1985, ia menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet kelima.

Gorbachev lahir pada 2 Maret 1931, berarti usianya sekarang, 89 tahun. Di usia senja seperti itu, ia baru saja muncul di “TIME,” 15 April 2020.

Dalam wawancara itu, Gorbachev menegaskan, ia masih berharap, dunia setelah virus corona bisa bersatu lagi. Ia mengakui virus corona bisa membuat perpecahan, tetapi yakin seusai virus corona, bisa bersatu kembali.

Konsepnya tentang persatuan masyarakat internasional pernah ia kemukakan sebelumnya. Ia pernah mengatakan di masa jabatan kepresidenannya pada 15 Maret 1990 – 25 Desember 1991. Bagi dunia internasional, kebijakan Gorbachev, glasnost (“keterbukaan”) dan perestroika (“restrukturisasi”) serta konferensi puncak dengan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan reorientasi tentang tujuan strategis Soviet, berkontribusi mengakhiri Perang Dingin.

Semua ini merupakan karya cemerlang Gorbachev. Meskipun dengan menghapus peran konstitusional Komunis, dan secara tidak sengaja menyebabkan bubarnya Uni Soviet, Gorbachev dianugerahi Medali Perdamaian Otto Hahn pada tahun 1989, Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1990 dan Harvey Prize pada tahun 1992 serta gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas.

Sebelumnya, peran Gorbachev di pemerintahan pun bertambah. Namanya cepat dikenal saat itu. Karena populernya nama Gorbachev, malah ketika Andropov meninggal pada 1984, muncul spekulasi bahwa Gorbachev akan naik menjadi penggantinya, meski tidak terjadi.

Konstantin Chernenko kemudian terpilih menggantikan Andropov. Namun Gorbachev tidak butuh waktu lama untuk kesempatan kedua, karena Chernenko meninggal tidak sampai setahun kemudian.

Tidak memiliki pesaing kuat lainnya, Gorbachev kemudian dipilih sebagai Sekjen Partai Komunis sekaligus pemimpin Soviet, pada 11 Maret 1985. Selama enam tahun berkuasa, Gorbachev melakukan banyak reformasi dan merubah kebijakan luar negeri. Dia juga membangun hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat.

Pada akhir 1980-an, Uni Soviet pun pecah berkeping-keping. Banyak wilayah menuntut untuk merdeka. Perekonomian jatuh, mendorong kehancuran Soviet dengan cepat.

Itulah sebabnya Gorbachev menyatakan mundur sebagai presiden pada Desember 1991.

Keruntuhan Tembok Berlin pada tahun 1989 dan berakhirnya Perang Dingin antara kubu Timur dan Barat yang telah berlangsung lama merupakan suasana yang melingkupi dasawarsa 80 hingga 90-an. Dan atas dasar dua kejadian tersebut, Komite Nobel memberikan penghargaan Nobel Perdamaian kepada Presiden Mikhail Gorbachev pada tahun 1991.

Presiden Soviet, Gorbachev, dikudeta pagi-pagi buta.  Uni Soviet kembali ke garis keras. Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, yang dikenal dengan politik pintu terbukanya (perestroika), akhirnya tersingkir. Berita menggemparkan dunia ini disiarkan kantor berita Soviet TASS. Di situ disebutkan, “Presiden Mikhail Gorbachev, karena alasan kesehatan, digantikan wakilnya Gennady Yanayev.” Namun, tak disebutkan, sebetulnya telah terjadi kudeta di Uni Soviet.

Mikhail Gorbachev, sebagai pemimpin terakhir Uni Soviet, dengan tenang mengatakan dia sebenarnya memperkirakan hasil yang berbeda dari perubahan 1989.

Namun dia tidak keberatan untuk mengulanginya lagi dengan hasil seperti yang sekarang ini.

Adalah kebijakan Gorbachev yang memicu Revolusi 1989, yang menyapu Komunisme dari Eropa Timur.

Dan dua tahun kemudian, Uni Soviet yang kemudian terpecah. Hal itu -bagi banyak warga Rusia- membuat kepemimpinan Gorbachev tetap menjadi perdebatan. Tetapi, runtuhnya tembok Berlin salah satu perubahan di negara komunis adalah pengaruh pembaruan Gorbachev.

Sayang sekali, walau mendapat sejumlah pengakuan internasional, Gorbachev tidak dianggap dalam politik Rusia.

Ketika Vladimir Putin naik ke puncak kekuasaan Rusia, dengan hati-hati Gorbachev memuji Vladimir Putin secara pribadi, sebagai pemimpin yang menstabilkan negara itu, namun mencatat sejumlah kekeliruan dalam cara pemerintahan di Rusia.

Dia meremehkan Rusia Bersatu –partai utama yang mendukung Putin- sebagai copy dari Partai Komunis di zaman Uni Soviet. Dan dia menegaskan Rusia memerlukan demokrasi yang lebih besar.

“Kami harus melakukan transformasi negara, kami perlu memodernisasi negara kami,” tuturnya.

Dan hal itu, tambahnya, tidak bisa dicapai dengan tekanan maupun dengan mengeluarkan perintah.

“Hal itu hanya bisa dilakukan melakui demokrasi lewat penguatan lingkungan yang demokratis dan bebas dengan partisipasi rakyat.

Dalam pandangannya Rusia jelas harus melakukannya itu sendiri tanpa kuliah dari negara lain.

Kalau Putin kadang-kadang keras, kata Gorbachev, itu lebih merupakan gaya saja, termasuk kepemimpinan bersama antara Perdana Menteri Putin dan Presiden Dmitry Medvedev.

Bagaimanapun dia merasa terprovokasi dengan isyarat terbaru dari Putin untuk kembali ke kursi presiden tahun 2012, yang berarti Putin memerintah negara itu untuk 12 tahun lagi.

“Saya tidak suka perkataan ‘saya akan duduk dengan perdana menteri dan kami akan memutuskan,” katanya tegas.

“Menurut saya hal itu sebaiknya diputuskan oleh pemilih, oleh rakyat dan saya tidak mendengar dia mengatakan rakyat. Saya kira itu tidak benar.”

Tentang Tuduhan kepada Gorbachev

Salah satu tuduhan atas kepemimpinan Gorbachev adalah dia mungkin terlalu cepat mendorong perubahan. Tetapi dibantah Gorbachev,  bahwa perubahan itu tidak cukup cepat.

Tahun 2016, saya membaca sebuah majalah perjalanan Traveller, edisi Januari 2016. Cover majalah tersebut berjudul “Moskow Kini”, menginspirasi  saya untuk  menulis perjalanan saya ke negara yang diberi julukan berbagai nama, Beruang Merah dan Tirai Besi.

Jika di majalah tersebut penulisnya Jeffrey Tayler mengisahkan perjalanannya dengan baik, memang demikianlah situasi dan kondisi kota Moskow sekarang ini. Apalagi penulisnya telah menetap selama 22 tahun  di Moskow. Hal itu sudah tentu  berbeda dengan saya yang hanya pada bulan Desember 1992 itu saja ke Moskow. Tetapi meskipun demikian, banyak hal yang kita lihat dan pelajari dari kota Moskow, yaitu bangsa Rusia menjadikan sejarah sebagai ujung tombak perjalanan bangsanya, sehingga bisa maju.

Saya sedikit menceritakan perjalanan ke ibukota Rusia itu, tanggal 22 Desember 1992 itu. Udara kota Moskow sangat dingin setiap bulan Desember. Salju mulai turun. Saya hadir di sana saat-saat negara itu sedang dalam peralihan. Mikhail Gorbachev yang disebut-sebut sebagai tokoh pembaruan Uni Soviet (nama Rusia waktu itu), ketika itu tidak lagi berada di kantornya. Peralihan kekuasaan  secara damai sedang berlangsung di sana.

Sudah tentu keadaan masyarakat juga sedikit terganggu. Ada di antara mereka acuh tak acuh dengan pembaruan yang dikumandangkan Gorbachev. Yang jelas, sejak dikumandangkannya pembaruan di Uni Soviet, rakyat terjebak ke arah perbedaan pendapat. Di berbagai kota di Moskow, saya menyaksikan dari dekat banyaknya para pengemis dan  kaki lima-kaki lima penjual pakaian bekas. Menyedihkan.

Waktu itu, memang Gorbachev, adalah tokoh pembaharu dan penganut Lenin yang setia. Ia mengumandangkan kosep Perestroika, dan merumuskan prinsip dasar-dasarnya. Pada akhirnya, rakyat Uni Soviet tidak memahami apa yang dilakukannya. Ia pun mengundurkan diri sebagai presiden pada Desember 1991.

Banyak yang mengatakan bahwa ia mengundurkan diri karena masalah kesehatan.Tetapi ada juga yang mengatakan, Gorbachev dikudeta. Gorbachev kemudian digantikan oleh Yeltsin. Jadi kepergian saya  ke  Uni Soviet, berada di bawah kepemimpinan  Yeltsin.

Akhirnya Yeltsin pada tanggal 31 Desember 1999, di bawah tekanan internal yang besar,  pun mengumumkan pengunduran dirinya, meninggalkan kursi kepresidenan dan menyerahkan pimpinan Rusia ke tangan Perdana Menteri Vladimir Putin .

Terpilihnya Putin sangat tepat bagi Rusia. Mikhail Gorbachev ketika bertemu dengan Putin pada bulan Agustus 2000 memastikan dia tidak akan merusak Demokrasi Rusia. Begitu pula Boris Yeltsin menyatakan Putin kepada seluruh rakyat Rusia bahwa “Dia dapat mengulangi kejayaan Rusia yang baru pada abad 21”.

Yang menarik pula dari Gorbachev ini, ia pada 1997,  membutuhkan sejumlah uang. Jadi dia membuat iklan Pizza Hut. Tentu saja ada lebih banyak cerita dari itu, tetapi tidak terlalu banyak. Dia dilaporkan menerima $ 1 juta untuk tempat itu. “Saya pikir itu adalah makanan rakyat,” kata Gorbachev kepada “New York Times” setelah syuting. “Inilah sebabnya jika nama saya berfungsi untuk kepentingan konsumen, persetan dengan itu – saya bisa mengambil risiko.”

Selama di Kebijakan Luar Negeri, Paul Musgrave menceritakan kisah itu:

Gorbachev telah mengalami nasib yang sama seperti banyak pensiunan Soviet, yang telah menantikan pensiun yang murah hati hanya untuk menemukan diri mereka dipaksa untuk bergegas dan mengikis untuk bertahan ketika ekonomi Rusia runtuh di sekitar mereka — menyusut 30 persen antara 1991 dan 1998. Yayasan Gorbachev, juga, terhuyung-huyung, bahkan biaya kuliah Gorbachev yang signifikan tidak dapat menopang keluarga dan yayasan serta stafnya, apalagi proyek yang mungkin ingin dikejar untuk meninggalkan warisan. Bahkan sumbangan dermawan dari Ted Turner hanya berjalan sejauh ini.

Gorbachev bertekad untuk tetap di Rusia dan berjuang untuk reformasi, bukan untuk mengambil kehidupan pengasingan yang dibayar dengan baik di luar negeri. Untuk melakukan itu, dia akan membutuhkan uang untuk mendanai pusatnya, stafnya, dan kegiatannya – mendesak. Seperti yang kemudian dikatakan Gorbachev pada “France 24,” ketika ditanya tentang iklan itu, “Saya harus menyelesaikan bangunan. Para pekerja mulai pergi — saya perlu membayar mereka … “

(Setelah berbulan-bulan negosiasi) Gorbachev akhirnya menyetujui — dengan syarat. Pertama, dia akan memiliki persetujuan akhir atas naskah. Itu bisa diterima. Kedua, dia tidak mau makan pizza di film. Pizza Hut yang kecewa itu.

“Kami selalu ingin pahlawan iklan memakan pizza,” (kata Pizza Hut, eksekutif Scott). Helbing berkata.

Gorbachev memegang teguh. ” Sebagai mantan pemimpin, saya tidak akan melakukannya,'” Helbing mengingat perkataan Gorbachev.

Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, pernah diselenggarakan reseps Hari Revolusi  ke-72 Uni Soviet di Hotel Hyatt Aryaduta, Jakarta pada tahun 1989. Menurut laporan Majalah “Tempo,” edisi 18 November 1989, resepsi tersebut dihadiri sekitar 500 undangan.

Sekitar setengah jam setelah minuman cocktail diedarkan, Duta Besar Uni Soviet Vladimir M. Semyonov mengangkat gelasnya. “Marilah kita angkat gelas untuk kesehatan Presiden Soeharto dan kesejahteraan bangsa Indonesia”, ujarnya. Menhankam L.B. Moerdani, yang malam itu bertindak selaku Menteri Luar Negeri ad interim, membalas dengan mengajak hadirin melakukan toast, “Untuk kesehatan Yang Mulia Ketua Soviet Tertinggi Mikhail Gorbachev…”.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan dan Sejarawan Senior