Golkar dan Soal Kembali ke Zarrah

697 views

Ukuran terkecil dari kebaikan dan kejahatan, dalam gambaran pengajian masa kecil saya, adalah zarrah. Banyak perdebatan apa yang dimaksud dengan zarrah itu? Seperti apa bentuknya? Dapatkan dilihat dengan mata manusia biasa? Bagi yang memiliki guru, pengajian tentang istilah zarrah itu saja sudah menjadi perjalanan, pengalaman dan peristiwa spiritual luar biasa.

Mari kita rujuk ayat yang dimaksud, terkait dengan kata zarrah atau dzarrah itu, yakni:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.”

Begitu tafsir dalam bahasa Indonesia terkait dengan Al-Qur’an dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 itu.

Tapi, uuups, saya tentu tidak sedang melakukan pengajian. Biarlah para ahli ibadah dan ahli tafsir yang melakukan. Saya sengaja menukilkan ayat dalam kitab suci yang sudah berusia 15 abad itu untuk mendapatkan konteks dari teks tentang zarrah. Dikaitkan dengan keterangan lain, baik ayat-ayat A-Quran lain, Hadis Nabi Muhammad SAW, sampai pembahasan para ulama, satu kesimpulan sudah bisa ditarik betapa zarrah adalah biji dari tumbuh-tumbuhan yang kecil sekali. Tafsiran yang pernah umum adalah biji sawi. Tapi tafsiran itu sudah dikoreksi juga.

Bagi anak alam seperti saya yang terbiasa bepergian ke gunung, laut, sungai, bukit dan tempat manapun siang dan malam di dusun yang sunyi, tentu hafal betul akan biji-bijian yang kecil. Contoh, apabila kaki melewati lapangan bola, maka kaos kaki sampai celana bakal dihinggapi dengan beragam bunga dan biji dari ilalang dan berjenis tumbuhan lainnya. Pun ketika angin berhembus, beragam biji-bijian terbang bak kapas disundul angin.. Biji sawi tentu tak bisa terbang seringan itu.

Sebagai tumbuhan, biji yang sekecil atau setungau (mahkluk paling ditakuti oleh anak sungai seperti saya, karena bisa membuat bengkak bagian paling rahasia anak laki-laki yang kelamaan berendam) zarrah itu tentu tidak bersifat statis. Zarrah untuk tumbuhan berarti bisa menjadi lebih besar, atau sebaliknya mengecil, mati dan hancur menjadi humus. Makna zarrah yang dinamis ini menunjukkan betapa kehidupan yang dibawanya juga bisa berkembang, rimbun dan bahkan menghamparkan hutan belantara yang maha luas. Proses yang dimulai dari sebiji zarrah itu tak bisa diperkirakan ujungnya.

Zarrah yang berzarrah apalagi, yakni zarrah yang menghasilkan zarrah demi zarrah berikutnya. Zarrah yang beranak, berpinak, bercucu, hingga bercicit sampai ke zarrah-zarrah yang lain. Satu zarrah yang menumbuhkan seribu zarrah lainnya sampai bilangan tak berbilang.

Cukup? Ya, mari dicukupkan dulu. Apa pula maksud saya menulis sudah sepanjang ini, tetapi belum sampai juga menyentuh tema politik yang menjadi pokok pikiran dari artikel-artikel saya.

Baik, langsung saja ya? Tulisan ini sengaja ditujukan untuk memberikan perbandingan atas tema atau tagline atau gimmick dari #KembaliKeAkar yang muncul berjibun di media sosial. Tagline itu dilekatkan kepada satu sosok yang sudah lama saya dengar namanya, tetapi baru sempat berbicara beberapa kali selama saya menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Yup, betul: Mbak Titiek Soeharto. Atas kehadiran tagline #KembaliKeAkar dan nama Titiek Soeharto itu pula, saya langsung mengirimkan pesan kepada Nasliwandi (Iwan) Piliang yang diisukan menjadi master mind dari tiga kata mempesona itu: kembali-ke-akar.

Saya tidak sempat membaca apa alasan dari jawaban Iwan Piliang kepada saya. Tetapi intinya tegas: “Saya yakin, jika Mbak Titiek Soeharto memimpin Partai Golkar, niscaya Partai Golkar kembali gemilang.”

Saya tentu tak bisa mengukur atau mendebat tentang keyakinan seseorang. Hanya saja, saya tahu dan alami dengan baik, betapa berjaya atau tidaknya partai politik dalam era demokrasi multipartai sekarang tentulah tak bisa disandarkan kepada seseorang saja. Partai Golkar adalah bukti yang paling sahih untuk itu. Dalam setiap kali menjelang pemilu, biasanya Partai Golkar memampangkan hegemoni yang dimiliki dalam jumlah kepala daerah yang dimiliki, dimenangkan dan diisi oleh kader-kader Partai Golkar. Prosentasenya disebut, daerahnya diarsir, nama tokohnya dipampangkan. Tapi apa lacur? Ketika hasil pemilu diumumkan, Partai Golkar tak juga bisa keluar dari angka psikologis yang terlanjur lekat di benak anak-anak zaman old, yakni berada pada posisi kedua.

Bukti lain yang sulit dibantah sudah diketahui kaum intelektual, aktivis, hingga sejarawan. Kurang kuat apa Pak Harto ketika menjadi Ketua Dewan Pembina Golongan Karya? Apakah Pak Harto seorang mampu menahan laju kejatuhan Orde Baru, berikutnya mencegah perpecahan atau minimal perbedaan pendapat dalam tubuh Golongan Karya? Saya tidak tahu, bagaimana memberikan nilai kepada kehadiran Pak Harto dalam historisisme Golongan Karya yang kini sudah berubah menjadi Partai Golkar.

Apakah Pak Harto gemilang dengan Golongan Karya ini? Ataukah sebaliknya: terjungkang? Tahun pemilu yang mana yang bisa dirujuk betapa (Partai) Golongan Karya pernah berada pada puncak kehebatannya? Pada waktu Orde Baru sedang kuat-kuatnya ataukah manakala Golongan Karya “berhasil” meyakinkan Pak Harto bahwa menurut (daripada) survei perjalanan safari, “Bapak diminta rakyat untuk memimpin kembali ketujuh-kalinya.” Mana puncak yang bisa dirujuk: pada saat Orde Baru mengerdilkan (peran dan kader) Golongan Karya ataukah saat Golongan Karya mampu mendiktekan keinginan yang tak pernah ditanyakan itu kepada rakyat?

Ketika kampanye #KembaliKeAkar disandingkan dengan Mbak Titiek Soeharto, saya sama sekali belum tahu angka tahun yang hendak dituju itu. Akar yang ingin saya lihat dengan mata kepala sendiri, kalau perlu dengan bergelimang lumpur. Tak apa-apa juga menempuh medan yang sulit, sebab kaki saya sudah terbiasa dengan onak dan duri, begitu juga luka dan sengatan bisa. Saya ingin datangi, tempuhi dan pahami.

Kalau yang dimaksudkan adalah akar cendana, perdebatan juga menjadi lain. Atau barangkali akar beringin? Masalahnya, kata “kembali” yang didengungkan itu merujuk kepada masa lalu. Bagi saya yang memiliki seorang ayah yang luar biasa, seorang kader penting Golongan Karya di Tanah Datar dan Pariaman, tentu mengalami sedikit banyak apa yang disebut sebagai “akar” itu. Sudah hampir matematis dalam hitungan yang jelas bagi saya, betapa Golongan Karya dalam konteks masa lalu sama sekali tak memiliki akar. Bagaimana bisa berakar, apalagi dalam konsep partai politik yang ideologis, ketika tiga sumbu utama Orde Baru berasal dari ABRI (TNI), Birokrasi dan Golongan Karya. Apa Golongan Karya masa itu? Ya kader-kader binaan yang cabutan sebagaimana cerita Sarwono Kusumatmadja, Siswono Yudhohusodo dan tokoh-tokoh lain, kala sering diskusi dengan saya sebagai Ketua Balitbang DPP Partai Golkar.

Sebelum ada jawaban yang bisa diterima nalar, tentu saya belum mau lebih maju lagi untuk menggelar diskusi. Sebagai partai politik, tugas Partai Golkar dan seluruh slagordenya adalah menjalankan konsep, definisi dan khittah kepartaian itu secara textbook. Itu bila belum banyak pengalaman yang bisa diambil.

Atau, dalam pandangan kebaikan dan kejahatan dari kalimat pembuka tulisan ini, para kader atau pimpinan Partai Golkar melakukan hal yang paling kecil. Apa itu? Berperilaku seperti zarrah: tumbuh dan menumbuhkan, kembang dan mengembangkan, atau subur-menyuburkan.

Jakarta, 18 Desember 2017

 

INDRA J PILIANG

Penulis dan Kader Partai Golkar

author