Gempa Lombok: Bencana Lokal atau Nasional?

283 views

 

Hari ini bersama rekan-rekan #temannyawisatawan, saya menengok kawasan yang paling terdampak bencana #gempalombok, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tanjung, pusat pemerintahan dan perdagangan di kabupaten termuda di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berjarak sekitar 81 km dari ibukota provinsi, Mataram.

Kami memilih jalur barat menyusur pantai. Sepanjang perjalanan, pemandangan pantai yang cantik tak lagi mampu memesona. Bangunan yang tak lagi utuh, rumah-rumah warga yang porak-poranda rata dengan tanah, terlalu menusuk hati.

Dalam perjalanan, tak terhitung beberapa kali kami berpapasan dengan ambulan. Entah mengangkut apa. Bisa jenazah, bisa juga korban luka berat yang harus dievakuasi untuk mendapat perawatan lebih memadai di Mataram.

Lalu lintas siang tadi cukup padat. Tak jarang terhenti cukup lama. Hari ini sepertinya arus bantuan untuk para korban mulai meningkat. Terutama yang dikirim para dermawan dan relawan kemanusiaan dari luar pulau.

Menjelang magrib, kami tiba di Tanjung. Sebagian besar kawasan masih gelap gulita. Lapangan luas di pusat kota, dipenuhi tenda-tenda besar untuk para pengungsi. Disini pula, posko utama penanggulangan bencana didirikan.

Toko-toko di sekeliling lapangan, tak satupun yang buka. Begitu juga warung makan. Padahal di hari-hari sebelum bencana datang, Tanjung selalu beraroma ikan laut. Kota ini terkenal dengan menu sate ikannya yang lezat. Penjualnya bertebaran di berbagai sudut.

Hari ini angin membawa aroma yang berbeda. Bau anyir darah tak jarang tercium. Pencarian dan evakuasi korban-korban yang tertimbun reruntuhan memang masih terus berlangsung. Entah masih berapa banyak lagi.

Sampai hari ini saja, 381 orang telah dinyatakan meninggal dunia dan dari jumlah itu, 347 orang tercatat di KLU. Korban luka-luka berjumlah 1033 orang, dan 672 orang diantaranya menderita luka berat.

Sementara itu, sedikitnya 270 ribu orang kini berada di pengungsian, termasuk anak-anak, perempuan dan para lanjut usia. Tak dapat dipastikan, sampai kapan mereka masih harus berada di pengungsian. Jika melihat banyaknya rumah yang rata dengan tanah, tampaknya masih akan cukup lama.

Lombok bukanlah pulau yang besar seperti Jawa. Angka korban jiwa, jumlah pengungsi dan kerugian materiil yang tercatat sampai hari ini, bisa dikatakan cukup serius. Lebih dari separuh warga KLU yang selamat dari dampak gempa bumi harus mengungsi.

Bantuan kebutuhan hidup dan relawan kemanusiaan memang masih terus berdatangan. Para penyintas bencana harus ditangani dengan baik hingga hidup mereka normal kembali. Tapi empati dan uluran tangan itu tetap saja berbatas waktu.

Pemerintah Provinsi NTB dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, terus bekerja. Bersama pemerintah kabupaten dan kota terdampak, mereka mengoordinasikan penanggulangan bencana di fase tanggap darurat ini. Tapi masih ada dua fase lagi yang harus dilalui, yaitu fase rehabilitasi dan kemudian dipungkasi dengan rekonstruksi.

Banyak pihak meragukan kemampuan pemerintah daerah menanganinya sendirian. Perhatian pemerintah pusat secara strategis diperlukan. Tak cukup hanya ditandai dengan penunjukan Menko Polhukam Wiranto untuk mengoordinasi.

Perhatian strategis itu butuh sebuah maklumat, bahwa tragedi gempa Lombok adalah bencana nasional. Masalahnya, mungkinkah secara regulasi? Agaknya maklumat itu membutuhkan desakan publik dan dukungan politik.

Ingat, bencana adalah ketidakpastian. Sesuatu yang jelas tak disukai siapapun. Artinya, ini kemudian adalah soal bagaimana pemerintah dan masyarakat keluar dari ketidakpastian yang dicemaskan.

Saya berangkat dari hipotesis bahwa ketidakpastian dalam durasi yang panjang selalu berpotensi melahirkan krisis dan konflik. Artinya, akan ada potensi gangguan keamanan negara baik intensitas rendah hingga tinggi.

Ini mungkin terkesan berlebihan dan tak terbayangkan. Tapi melihat geliat potensi kekerasan ekstrim dan fakta empiris masih tingginya angka kejahatan di daerah ini, kita harus berfikir serius.

Selain itu, adanya opsi yang dapat menjadi pijakan untuk mereduksi dampak turunan dari potensi suramnya sektor pariwisata yang menjadi tumpuan pendapatan utama daerah ini, jika krisis keamanan terjadi dalam durasi panjang dan empati maupun strategi lokal saja tak lagi memadai, memang sangat penting dan mendesak.

Karenanya, sebelum penanggulangan bencana ini berkembang menjadi persoalan sosial ekonomi yang lebih rumit hingga meningkatkan potensi gangguan keamanan serius, semoga hal ini menjadi perhatian para pemangku kebijakan.

Tanjung, 9 Agustus 2018

 

KHAIRUL FAHMI
Pemerhati masalah pertahanan dan keamanan ISESS. Putera Lombok, berdomisili di Jakarta.

author