
“Allah memerintahkan mereka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dengan niat ikhlas karena Allah semata. Hal itu karena puasa menyucikan jiwa dan membersihkannya dari keburukan yang bercampur dengannya serta dari akhlak yang buruk.” — Ismail ibn Umar ibn Katsir al-Dimashqi (701–774 H/1301–1373 M) dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim (Terjemahan 1980)
Pada abad ke-8 SM di Yunani, masyarakat polis lebih suka mendengar orakel dari dewa untuk memahami tugas dan wewenang manusia di dunia.
Dalam karya Homer yaitu The Iliad dan The Odyssey -meski istilah “disclaimer” dalam arti modern belum dikenal- teks-teks ini sering dikaji sebagai awal tradisi retorika dan klaim moral klasik.
Homer membuka The Iliad dengan seruan kepada para dewa untuk mengisahkan murka Achilles.
Seruan ini berfungsi sebagai pengakuan bahwa kisah yang dituturkan bukan sepenuhnya milik penyair, melainkan berasal dari inspirasi ilahi.
Dengan cara ini, Homer membatasi klaim pribadinya dan menegaskan bahwa ia hanyalah medium. Hal ini mirip dengan fungsi disclaimer modern: menegaskan batas tanggung jawab.
Dalam The Odyssey, Homer juga menggunakan strategi serupa. Ia mengakui keterbatasan manusia dalam memahami perjalanan Odysseus dan kembali menyerahkan otoritas kisah kepada para dewa.
Disclaimer hadir dalam bentuk pengakuan bahwa kebenaran dan makna cerita tidak sepenuhnya bisa diklaim oleh manusia, melainkan harus dipahami sebagai bagian dari tatanan kosmik.
Makna disclaimer dalam konteks ini adalah penegasan batas klaim bahwa Homer tidak mengklaim otoritas penuh atas cerita, melainkan menempatkan dirinya sebagai penyampai.
Tradisi Yunani kuno menunjukkan bahwa retorika dan historiografi sering dimulai dengan pengakuan keterbatasan, sebuah cara untuk menjaga kredibilitas sekaligus menegaskan bahwa kebenaran ada di luar kendali manusia.
Dalam The Iliad dibuka dengan seruan, “Sing, O goddess, the anger of Achilles…”
Homer menyerahkan otoritas kisah kepada dewi puisi (Muse).
The Odyssey juga dimulai dengan,
“Tell me, O Muse, of that ingenious hero…”
Lagi-lagi Homer menegaskan bahwa ia hanyalah medium, bukan pemilik penuh kisah.
Ini adalah bentuk disclaimer kuno dimana ia menegaskan bahwa kebenaran cerita bukan berasal dari dirinya, melainkan dari inspirasi ilahi.
Homer menegaskan keterbatasan manusia dalam mengklaim kebenaran, menggunakan inspirasi ilahi sebagai otoritas untuk kisahnya.
Dengan demikian, Iliad dan Odyssey menunjukkan bahwa praktik disclaimer dalam bentuk pengakuan keterbatasan sudah ada sejak awal tradisi sastra Yunani, meski istilahnya baru muncul jauh kemudian.
Datang pada abad ke-7 di jazirah Arab, tepatnya di Mekah, tiba semacam disclaimer spiritual.
Menurut riwayat, kewajiban puasa Ramadan diturunkan pada tahun kedua Hijriyah (2 H), tepatnya bulan Sya’ban. Nabi Muhammad ﷺ kemudian menunaikan puasa Ramadan selama sembilan kali hingga wafatnya.
Sebagai disclaimer spiritual, perintah kewajiban berpuasa bagi umat Islam terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–185:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2:183).
Sementara, Muhammad Ibn Ishaq (704–767 M), penulis awal sirah nabawiyah di era Abbasiyah, memang tidak menggunakan istilah “disclaimer spiritual” dalam karyanya itu.
Akan tetapi, jika kita membaca riwayat-riwayat yang ia kumpulkan tentang pewajiban puasa Ramadan, kita bisa menafsirkan bahwa ia melihat perintah itu sebagai bentuk penegasan batasan manusia di hadapan Allah.
Dalam sirah yang disusun Ibn Ishaq, perintah puasa turun pada tahun kedua Hijriyah, di bulan Sya’ban, dan segera menjadi kewajiban kolektif umat Islam.
Ia menekankan bahwa puasa adalah tanda ketaatan, penyucian jiwa, dan pengendalian hawa nafsu, serta bahwa praktik ini sudah dikenal dalam tradisi umat-umat terdahulu.
Jika ditilik dari perspektif modern, riwayat Ibn Ishaq dapat dibaca sebagai “disclaimer spiritual” dimana Allah menegaskan bahwa manusia tidak bebas sepenuhnya, ada kewajiban menahan diri sebagai tanda ketundukan.
Dengan cara ini, perintah puasa membatasi klaim manusia atas kebebasan konsumsi dan nafsu, sekaligus menegaskan sumber otoritas Ilahi.
Sama seperti Homer dalam Iliad dan Odyssey menyerahkan otoritas kisah kepada para dewa, Ibn Ishaq menampilkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penerima wahyu yang menegaskan bahwa kebenaran dan aturan hidup berasal dari Allah, bukan dari manusia.
Allah menegaskan bahwa puasa juga diwajibkan atas umat-umat sebelumnya, sehingga umat Islam harus melaksanakannya dengan lebih taat.
Puasa dipandang sebagai sarana untuk membersihkan hati dari keburukan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Pada abad ke-20, Martin Lings dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (1983) menekankan bahwa pewajiban puasa Ramadan merupakan tonggak penting dalam pembentukan identitas spiritual umat Islam.
Ia melihat puasa sebagai latihan kolektif yang memperkuat solidaritas umat, sekaligus menegaskan dimensi transenden dalam kehidupan sehari-hari Nabi dan para sahabat.
Jika ditilik dari sudut ekoteologi praksis dan retorika, perintah puasa dapat dipandang sebagai semacam disclaimer Ilahi pada umat Muhammad di era itu.
Manusia tidak bebas sepenuhnya, ada kewajiban menahan diri sebagai tanda ketundukan. Allah menegaskan bahwa puasa bukan sekadar tradisi, melainkan perintah langsung dari-Nya.
Sebagaimana disclaimer modern membatasi tanggung jawab, puasa membatasi konsumsi dan nafsu, mengingatkan manusia akan keterbatasannya di hadapan Tuhan.
Dengan demikian, perintah puasa Ramadan bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga sebuah disclaimer spiritual yang menegaskan batasan manusia, sumber otoritas Ilahi, dan tujuan luhur berupa takwa serta kesadaran ekologis dan sosial.
Karena itu, untuk saya pribadi dan keluarga menyambut puasa Ramadhan Karim 2026 sebagai disclaimer spiritual, ditunaikan sesuai akidah dan tentu juga dengan membatasi aktivitas di dunia daring media sosial seperti WA, IG, X dan FB, cukup hanya untuk menulis esai-esai dan puisi (esai?) bertema sekitar puasa dan bulan ramadhan. Taqaballahu minna wa minkum taqaballah ya karim.
Walallahu alam bi sawab ❤️ إله محمد.
#coversongs: Lagu “Ramadan Is Coming” dirilis oleh DM Production pada 31 Januari 2023. Karya ini kemudian tersedia di berbagai platform digital seperti YouTube, SoundCloud, TikTok, Spotify, Instagram, dan Facebook.
Komposernya adalah Metty Yunik Sawitri dan lagu ini masuk dalam genre pop dengan nuansa religi yang menyambut datangnya bulan Ramadan.(*)
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



