
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Seolah tak cukup menunjukkan awal bulan Ramadhan dengan cara biasa, langit Selasa malam ini menghadirkan pesta kosmik dimana matahari, bulan, dan bumi segaris dalam harmoni matematis yang nyaris puitis.
Sebuah gerhana Matahari cincin (ring of fire) terjadi Selasa (17/2/2026). Fenomena ini dimulai pada sore hari waktu Indonesia bagian barat dan mencapai fase maksimum sekitar pukul 19.12 WIB menurut konversi data astronomi global.
Waktu puncak cincin api berada dalam rentang sekitar 18.42–19.41 WIB (11.42–12.41 UTC) sebagaimana dihitung lembaga astronomi internasional seperti NASA dan Timeanddate.
Peristiwa ini telah diprediksi jauh hari sebelumnya dengan ketepatan yang menakjubkan.
Lewat gerhana Matahari cincin ini, alam raya seakan mengumumkan bahwa keteraturan semesta bukan sekadar misteri, melainkan sistem yang dapat dibaca, dihitung, dan dipahami manusia dan tentunya manusia yang dianugerahi akal oleh Allah.
Ya, ini seperti pertunjukan agung sekaligus spiritual. Seolah langit ingin menegaskan bahwa “rukyat” tidak sesempit makna melihat dengan mata telanjang, tetapi menyaksikan fakta alam yang dapat dihitung dengan presisi tinggi.
Ijtimak, peristiwa ketika matahari dan bulan berada pada garis bujur langit yang sama, terjadi sesuai perhitungan astronomi. Tidak maju sedetik, tidak mundur sesaat. Astronomi adalah ilmu kepastian posisi benda langit, berbeda dengan meteorologi yang memodelkan sistem atmosfer yang jauh lebih kompleks dan dinamis.
Ketepatan menghitung hari, tanggal, dan detik peristiwa gerhana ini bukan kebetulan. Ia merupakan konsekuensi dari hukum gravitasi, mekanika orbit, serta keteraturan kosmik yang telah bekerja miliaran tahun.
Ketika gerhana mencapai puncaknya sesuai waktu yang diprediksi, manusia menyaksikan bahwa matematika langit bekerja dengan disiplin yang nyaris sempurna.
Namun ada satu fakta penting bahwa jalur cincin api gerhana ini melintasi Antarktika dan samudra sekitarnya, sehingga fenomena dramatis tersebut tidak dapat disaksikan dari Indonesia.
Di sebagian Afrika selatan dan Amerika Selatan hanya terlihat gerhana sebagian. Dengan kata lain, cincin api itu lebih banyak disaksikan oleh ilmuwan ekspedisi kutub dan mungkin kawanan penguin, ketimbang penduduk wilayah tropis.
Sejak ribuan tahun lalu, manusia belajar membaca langit untuk menandai waktu. Kalender lahir dari pengamatan siklus bulan dan matahari: fase bulan mengatur bulan hijriah, sementara peredaran bumi mengelilingi matahari menentukan tahun syamsiah.
Dalam kalender hijriah, satu bulan dimulai setelah ijtimak, ketika bulan mulai menjauh dari matahari dan memungkinkan sabit tipisnya terlihat.
Perhitungan modern mampu menentukan posisi bulan hingga detik busur dan milidetik waktu karena orbit bulan dapat dimodelkan secara matematis.
Hukum gravitasi Newton, disempurnakan oleh mekanika langit modern dan pengamatan teleskopik, memungkinkan para astronom memprediksi gerhana ratusan bahkan ribuan tahun ke depan.
Ketika perhitungan menyatakan waktu puncak gerhana secara presisi, itu bukan tebakan. Itu hasil persamaan matematis yang menggambarkan gerak benda langit dengan ketelitian luar biasa.
Lalu mengapa hilal sering sulit terlihat? Karena setelah ijtimak, bulan masih sangat dekat dengan matahari dari sudut pandang bumi. Sabitnya sangat tipis, cahayanya lemah, dan posisinya rendah di ufuk barat saat matahari terbenam.
Bahkan dalam kondisi ideal, mata manusia memiliki batas kemampuan. Karena itu digunakan teleskop, kamera CCD, dan teknik pemrosesan citra untuk memastikan keberadaannya.
Ketergantungan pada alat bukan tanda kelemahan iman, melainkan kesadaran akan keterbatasan indra manusia. Kita tidak melihat bakteri dengan mata telanjang, tetapi mikroskop membuatnya nyata. Demikian pula hilal sering memerlukan bantuan optik agar dapat dipastikan.
Dengan demikian, rukyat bukan sekadar melihat dengan mata telanjang, melainkan menyaksikan keberadaan bulan baru dengan seluruh sarana pengetahuan yang tersedia.
Dalam tradisi klasik, pengamatan langsung menjadi metode praktis karena teknologi dan matematika belum berkembang.
Kini hisab astronomis memberikan kepastian posisi bulan, sementara rukyat dengan atau tanpa alat, menjadi verifikasi empirisnya. Keduanya bukan musuh, melainkan dua cara membaca kitab yang sama yaitu alam semesta.
Ilmu astronomi yang memungkinkan perhitungan presisi ini justru berkembang pesat dalam peradaban Islam. Al-Battani memperbaiki perhitungan orbit matahari dan bulan dengan akurasi tinggi.
Al-Biruni mengukur radius bumi dan mengembangkan trigonometri untuk menentukan posisi benda langit. Nasir al-Din al-Tusi menyusun model matematika gerak planet yang memengaruhi astronomi modern. Ulugh Beg kemudian menyusun tabel astronomi sangat presisi dari observatorium Samarkand.
Mereka bukan sekadar ilmuwan, tetapi pembaca langit yang melihat keteraturan sebagai tanda kebesaran Tuhan.
Maka ketika gerhana mencapai puncaknya sesuai hitungan manusia, kita menyaksikan dua hal sekaligus: keakuratan ilmu dan kebesaran Sang Pencipta. Perhitungan manusia tidak mengalahkan kehendak Tuhan; justru menyingkap keteraturan ciptaan-Nya.
Langit tidak berubah karena kita menghitungnya. Kita yang berubah, dari sekadar menatap langit dengan takjub, menjadi memahami bahwa ketertiban kosmos adalah bahasa Tuhan yang dapat dibaca dengan akal dan iman sekaligus.
Barangkali di sinilah makna terdalam rukyat yang bukan sekadar melihat sabit tipis di ufuk senja, tetapi menyaksikan harmoni hukum alam yang konsisten, presisi, dan menenangkan.
Bulan terlalu jauh untuk dipastikan dengan mata saja, tetapi tidak terlalu jauh untuk dipahami dengan ilmu. Dan ketika ilmu menuntun kita membaca langit, kita justru semakin merasakan kedekatan dengan Yang Maha Mengatur orbitnya.
Allahu Akbar. Langit berhitung dengan presisi, dan manusia belajar menghitung untuk memahami kebesaran-Nya.
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tadabbur Al-Quran



