Sunday, February 1, 2026
spot_img
HomePolitikaMenelisik Ijazah Asli-Wajah Palsu Bersama Filsafat Immanuel Levinas

Menelisik Ijazah Asli-Wajah Palsu Bersama Filsafat Immanuel Levinas

ilustrasi. (foto: gabungan beragam sumber)

 

“Wajah bukan sekadar permukaan yang terlihat; ia adalah tempat tuntutan etis, yang memanggil kita untuk menjalin hubungan dan bertanggung jawab.”

“Bertemu dengan wajah berarti dihadapkan pada ambiguitas—antara citra dan kehadiran, antara representasi dan yang lain yang tak tereduksi.” — Bernard I. Rhie(50), The Philosophy of the Face and 20th Century Literature and Art (Disertasi, 2005).

Di ruang persidangan perkara ijazah palsu yang menyeret nama Presiden Jokowi atas tuduhan trio RRT, publik kembali diguncang oleh guyonan Rocky Gerung sebagai saksi ahli.

Dengan gaya satir khasnya ketika diserbu jurnalis usai bicara sebagai saksi ahli, ia melontarkan kalimat yang segera viral, “ijazahnya asli, orangnya palsu.”

Candaan itu seketika memantik gelombang respons dari “mahabenar netizen” yang dengan segala kreativitasnya menafsirkan, mengomentari, bahkan menjadikannya bahan olok-olok di jagat maya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa isu ijazah palsu bukan sekadar perkara hukum, melainkan panggung sosial di mana wajah politik diuji, dipertanyakan, dan diparodikan.

Tulisan Dr. Tifa yang beredar di kanal X(OD) menyoroti bahwa wajah palsu dan ijazah palsu sama-sama berakar pada problem kejujuran.

Wajah palsu adalah metafora identitas yang disamarkan, citra yang dikonstruksi untuk menutupi realitas.

Sedangkan ijazah palsu adalah simbol konkret dari manipulasi legitimasi. Keduanya bertemu dalam satu titik yakni penipuan terhadap publik.

Dalam perspektif darug mu’ fakir, wajah palsu adalah wajah yang kehilangan cahaya keikhlasan, sementara ijazah palsu adalah ijazah yang kehilangan ruh ilmu.

Dengan demikian, keduanya bukan sekadar kebohongan administratif, melainkan pengkhianatan terhadap amanah sosial.

Guyonan Rocky Gerung, meski ringan, sesungguhnya membuka ruang refleksi yang lebih dalam.

Ketika ia mengatakan “orangnya palsu,” ia tidak sekadar menyoal dokumen, tetapi menyinggung otentisitas personal dalam panggung politik.

Apakah seorang pemimpin hanya wajah yang dipoles?

Di sinilah filsafat wajah Emmanuel Levinas (1906-1995) menjadi relevan.

Dalam Totality and Infinity: An Essay on Exteriority (1961) dan Otherwise than Being, or Beyond Essence (1991), Levinas menegaskan bahwa wajah adalah medium etis.

Dua ulasan pendeknya dikutip:
“Wajah adalah kehadiran yang hidup; ia adalah ekspresi. Wajah berbicara.”(hal. 66).

“Ekspresi, atau wajah, melimpah ruah dengan gambar.”(hal. 297).

Wajah itu menuntut kita untuk mengakui keberadaan orang lain, untuk bertanggung jawab atasnya.

Wajah bukan sekadar citra, melainkan kehadiran yang tak bisa direduksi.

Lebih jauh Levinas memberi empat kategori wajah berikut ini:

1/ Wajah sebagai kehadiran:
Bagi Levinas, wajah adalah tanda eksistensi yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar gambar atau representasi. Ia adalah kehadiran hidup yang berbicara.

2/ Kejujuran eksistensial:
Wajah menyingkap diri manusia secara langsung, tanpa perantara, sehingga menjadi ekspresi kejujuran terdalam dari eksistensi.

3/ Tuntutan etis:
Pertemuan dengan wajah orang lain bukan hanya pengalaman estetis, melainkan panggilan moral dimana kita dituntut untuk bertanggung jawab terhadapnya.

4/ Ambiguitas produktif:
Wajah selalu melampaui citra; ia tidak bisa ditangkap sepenuhnya oleh konsep atau kategori. Inilah yang membuat wajah menjadi simbol keterbukaan terhadap “yang lain.”

Dengan menekankan wajah sebagai ekspresi kejujuran eksistensial, Levinas menggeser filsafat dari pusat “aku” menuju tanggung jawab terhadap “yang lain.”

Dikutip lagi ulasannya,  “Mendekati Yang Lain dalam percakapan berarti menyambut ekspresinya, di mana setiap saat ia meluapkan gagasan yang seharusnya dibawa oleh sebuah pikiran.

Oleh karena itu, menerima dari Yang Lain melampaui kapasitas diri sendiri berarti, memiliki gagasan tentang tak terbatas.”

Wajah orang lain adalah ujian kejujuran kita, apakah kita melihatnya sebagai sekadar citra, atau sebagai kehadiran yang menuntut kita untuk berlaku etis.

Walhasil, ketika wajah politik dipoles hingga kehilangan otentisitas, dan ijazah dijadikan legitimasi yang dimanipulasi, keduanya sama-sama mengkhianati panggilan etis wajah.

Yang tersisa hanyalah citra kosong, bukan kehadiran sejati. Entahlah.

#coverlagu: Lagu “Balada Sejuta Wajah” dirilis oleh grup rock Indonesia God Bless pada tahun 1980, masuk dalam kompilasi 18 Greatest Hits of God Bless. Lagu ini kemudian kembali dipopulerkan lewat album kompilasi lain, termasuk The Greatest Slow Hits (1999) dan rilis digital oleh PT Aquarius Musikindo pada 2017.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular