Pengalaman Pribadi Bertemu Soedomo Setelah Lengsernya Soeharto

151
(foto: istimewa)

Ruang Credential, Istana Merdeka, 21 Mei 1998 terlihat sangat hening. Tepat pukul 09.00 WIB, seluruh perhatian tertuju kepada Presiden Soeharto, karena apa yang ingin disampaikan untuk seluruh bangsa Indonesia.

Waktu itu, Presiden Soeharto memakai pakaian sipil berwarna gelap dan berpeci hitam. Di sampingnya terlihat Wakil Presiden RI Bacharuddin Jusuf (B.J) Habibie dan para ajudan. Mereka berjalan pelan-pelan menuju mikrofon yang terletak di tengah-tengah ruang Credential. Nampak Presiden Soeharto dengan sikap tenang, nyaris tanpa ekspresi, dan mengenakan kaca mata baca mengambil naskah pidato dari ajudannya, lalu menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI dan menyerahkan jabatan Presiden kepada Wakil Presiden RI, B.J. Habibie.

Presiden RI Jenderal Besar Tentara Nasional (TNI) Soeharto, mengundurkan diri setelah tidak memperoleh dukungan terhadap dirinya.

Soeharto telah menjadi Presiden RI selama 32 tahun. Sebelum dia mundur, Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi dalam 6 sampai 12 bulan sebelumnya. B.J. Habibie melanjutkan setidaknya setahun dari sisa masa kepresidenannya sebelum kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid pada tahun 1999.

Kejatuhan Soeharto juga menandai akhir masa Orde Baru, suatu rezim yang berkuasa sejak tahun 1968. Cerita di balik kejatuhan Jenderal TNI Soeharto tersebut memunculkan berbagai cerita menarik lainnya, di antaranya dari Laksamana TNI (Purn) Soedomo. Ia adalah seorang petinggi militer yang terkenal di masanya karena jabatannya sebagai Pangkopkamtib. Dalam posisi pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pada periode 1983—1988 dan juga sebagai Ketua DPA.

Tiba-tiba ketika Soedomo meninggal, Rabu, 18 April 2012, saya teringat kembali kenangan ketika bertemu beliau pertama dan terakhir, di rumahnya, Pondok Indah, Senin 8 Februari 2010.  Pertemuan pertama, karena memang pertamakali saya berbicara empat mata atau secara khusus. Kedua, setelah itu tidak lagi bertemu hingga beliau meninggal dunia.

Pak Domo, panggilan akrabnya, tiba-tiba   bicara tentang peta perpolitikan menjelang Pak Harto lengser dari jabatan Presiden RI.

Diselingi humur- humor kecil, Pak Domo bercerita mengenai tiga orang yang sangat tidak disukai Pak Harto. Pertama, Harmoko, Kedua, B.J. Habibie dan ketiga, Ginanjar Kartasasmita.

Sebetulnya, saya tidak ingin mengetahuinya, karena fokus utama saya ke rumah Pak Domo, adalah menggali informasi tentang Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Rais Abin (anak buah Soedomo) yang dimuat di halaman 218 dan 219 buku biografi tentang beliau: ” Catatan Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamauan PBB di Timur Tengah (1976-1979) (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012) oleh Dasman Djamaluddin.

Tetapi Pak Domo memahami apa yang dicapkannya, menurutnya, agar dalam hidup ini kesetiaan dan pengabdian sangat dibutuhkan.

“Anda  termasuk generasi pelanjut,” ujar Pak Domo dan perlu mengetahuinya. Jika kesetiaan sudah tidak ada di naluri seorang pengabdi, jelas Pak Domo, inilah yang dinamakan penghianatan.

Jadi lanjut Pak Domo, jika Pak Harto diundang ke sebuah pertemuan maka akan selalu bertanya, apakah ketiga orang itu hadir juga di pertemuan itu?  Jika masih ada salah seorang dalam pertemuan itu, Pak Harto menunda kehadirannya. Barulah setelah ketiga atau salah seorang dari ketiganya pulang, Pak Harto hadir.

Pak Domo adalah orang yang ikut menyetujui agar Pak Harto meletakan jabatan, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya.

Cerita Jusuf Wanandi

Jusuf Wanandi tahun 2014 menerbitkan buku terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia berjudul: ” Menyibak Tabir Orde Baru, Memoar Politik Indonesia 1965-1998,” yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas, Februari 2014. Tulisan dalam bahasa Inggris berjudul: ” Shades of Grey, A Political Memoir of Modern Indonesia,” yang diterbitkan tahun 2012 oleh Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd.

Buku ini sangat menarik, karena diungkap dengan bahasa yang sederhana. Pun menyibak tuntas tanpa tedeng aling-aling, boleh jadi siapa pun yang mendengarnya, telinganya pasti merah. Lihatlah misalnya di halaman 387, ia memaparkan dialog antara Benny Moerdani dengan Soeharto setelah lengser dari jabatannya sebagai Presiden RI. Pertemuan itu berlangsung di rumah Sigit, di belakang Jalan Cendana, pada 15 Desember 1998.

Disebutkan dengan jelas betapa Benny mengatakan bahwa Soeharto waktu itu tidak percaya lagi kepada dia, kepada ABRI. Malah lebih percaya kepada Habibie dan ICMI dan semua pembantu Soeharto, seperti Akbar Tandjung, Harmoko, dan Ginanjar Kartasasmita. Ternyata menurut Benny, mereka itu penghianat.

Ada persamaan versi pernyataan Jusuf Wanandi dengan pernyataan Pak Domo kepada saya, yaitu istilah “penghianat.” Bedanya, di buku Jusuf Wanandi muncul nama Akbar Tandjung.

Lebih menariknya buku ini, meski apakah sudah membaca buku tersebut secara lengkap atau belum, Akbar Tandjung yang disebut oleh Benny Moerdani, penghianat itu ikut memberi kata pengantar dalam buku ini. Bisa saja Akbar tidak mempermasalahkan bahwa ia disebut penghianat atau tidak, karena ia terfokus membicarakan tentang teman lamanya, penulis buku tersebut Jusuf Wanandi yang ia kenal sejak Jusuf duduk di SMA Kanisius, Jakarta. Atau bagian ini belum dimasukkan oleh Jusuf Wanandi ketika meminta kata pengantar kepada Akbar Tandjung?

Habibie memang sangat sering disebut dalam buku tersebut. Di halaman 325 dan 326, Jusuf menulis, “Habibie jelas digunakan oleh Soeharto. Sebaliknya, Habibie memanfaatkan Soeharto untuk mendorong proyek-proyeknya tanpa harus mempertanggungjawabkan penggunaan sebegitu besar dana negara. Di kemudian hari, Soeharto baru menyadari bahwa Habibie tidak dapat dipercaya dan telah mengadu domba dia. Tetapi ketika itu semuanya sudah terlambat.”

Pertanyaannya, apakah kesadaran Soeharto muncul ketika ia menandatangani bantuan IMF di Jakarta. Syarat IMF agar mau mengucurkan dananya, jangan bantu PT.Nurtanio (Nusantara). Soeharto pun menuruti kehendak IMF dan mengeluarkan Keppres untuk tidak lagi membantu PT.Nurtanio. Akhirnya industri pesawat kita sempoyongan karena tidak ada dana lagi. Lebih-lebih Habibie yang setelah Timor Timur lepas banyak tinggal di luar negeri akibat konflik antara TNI dan dirinya. Akibat Timor Timur lepas. TNI sangat marah. Lepasnya Timor Timur yang tanpa berkonsultasi dengan Menlunya Ali Alatas membawa luka yang dalam buat Indonesia, yang pada waktu itu telah menjadi Provinsi ke-27 Republik Indonesia.

Jusuf Wanandi juga mengulas mengenai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) mulai dari halaman 59,  bahkan dimasukkan dalam Bab 2. Namun demikian, penulisan Supersemar sama dengan saya ketika menulis buku biografi Jenderal Basoeki Rachmat dan Supersemar. Tidak ada yang baru, hanya menceritakan masalah peristiwa saat itu. Supersemar asli tetap misterius. Bahkan sebagaimana ajudan Basoeki Rachmat, Stany Subakir, mengatakan kepada saya, ditandatanganinya Supersemar itu di Bogor bukan Jakarta, raib entah ke mana. Yang beredar sekarang adalah Supersemar yang ditandatangani di Jakarta. Palsu.  Arsip Nasional pun menyimpan naskah Supersemar yang palsu.

Sedikit keluar dari masalah ini, dari sekian penuturan yang diungkap Jusuf Wanandi, adalah sebuah pertanyaan, kenapa Soekarno tidak melawan Soeharto? (halaman 82-84). Dikatakan:” Soekarno tahu bahwa ia dapat mengalahkan Soeharto kalau ia menginginkannya. Dia masih punya kekuasaan. Gugus Angkatan Laut dan Marinir sudah siap menunggu perintahnya di Teluk Jakarta. Ia dapat memerintahkan Angkatan Bersenjatanya untuk setia kepadanya dan melawan Soeharto. Mungkin ada perlawanan, tetapi Soekarno pasti menang kalau ia mau. Namun ia memilih mundur. Mungkin saja ia sudah sangat sakit ketika itu saat ia harus menghadapi semua tantangan baru yang timbul sesuadh 30 September 1965.”

Ditambahkan Jusuf: ” Saya menganggap ada sesuatu yang lain. Soekarno tidak ingin berkelahi dengan Soeharto dan memecah belah bangsa, sementara kekuatan neokolonialisme dan imperialisme sudah mengepung untuk menjadikan Indonesia kembali sebagai negara jajahan.”

Lanjut Jusuf: ” Begitulah yang diutarakan Soekarno kepada Ibu Supeni, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan pernah menyarankan agar Soekarno mengungsi ke Jawa Timur. untuk menggalang kekuatan Bung Karno  melawan Soeharto. Adalah hatinya yang lunak yang membuatnya tidak tahan melihat pertumpahan darah yang disebabkan oleh perlawanannya.”

Di halaman 87, Jusuf menegaskan: ” Bung Karno tetap dianggap sebagai pemimpin besar, dan salah satu pendiri Republik Indonesia. Selain itu, Bung Karno juga pemimpin yang membangun rasa percaya diri rakyatnya dan berhasil menyatukan berbagai ragam kelompok di Nusantara menjadi satu bangsa…Bung Karno telah berbuat banyak untuk menghidupkan semangat nasionalisme dan menciptakan rasa persatuan.”

Buku ini menarik, hanya ketika berbicara mengenai Soekarno, Jusuf tidak menambahkan penderitaan Bung Karno di dalam tahanan rumah oleh bangsanya sendiri. Tidak boleh membaca dan mendengar radio. Sudah tentu itu santapan sehari-hari seorang intelektual seperti Soekarno. Memang jika ingin membunuh pelan-pelan seorang intelektual, jangan izinkan membaca dan mendengar perkembangan dalam dan luar negeri. Ternyata itu terjadi dengan Soekarno. Ia tidak meninggal saat ditahan penjajah, tetapi ia meninggal di masa kemerdekaan yang diproklamirkannya bersama Bung Hatta.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis dan Sejarawan Senior