Agar Anak Betah Ke Masjid, PKK Sulawesi Selatan Adakan Workshop Masjid Ramah Anak

Program “Workshop Pembinaan Masjid Ramah Anak” yang diselenggarakan oleh PKK Provinsi Sulawesi Selatan dengan pemateri Prof. Dr. Ir. H. Musbir Tahir, M.Sc di Same Hotel, Makassar, Sulawesi Selatan pada 1-3 April 2019.

 

MAKASSAR – Masjid adalah rumah ibadah umat Islam. Tetapi, selain sebagi tempat ibadah ternyata masjid juga bisa menjadi sebagai sarana edukasi dan bermain anak. Karenanya penting, menjadikan masjid sebagai tempat yang ramah anak (children friendly). Anak bisa tertib dan tidak ramai di masjid tetapi dengan upaya para pengurus dan pihak terkait dan hal  dapat diupayakan. Misal dengan menyediakan arena bermain untuk anak seperti akses bermain sejenis kolam bola, perosotan atau lainnya.
*Muhammad Al-Fatih,penakluk Konstantinopel (Turki) mengatakan*: “Jika suatu masa kamu tidak mendengar gelak tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu.”

Berangkat dari problematika dan harapan tersebut, PPPA Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Pokja 1 PKK Pemprov setempat mengadakan pelatihan “Workshop Pembinaan Masjid Ramah Anak”, selama 3 hari di Same Hotel, Makassar. Program ini didukung penuh Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Selata, Ibu Liestiaty Nurdin, M.Fish.

Acara pembinaan ini sendiri diikuti oleh 60 peserta yang merupakan perwakilan dari Pokja 1 Kabupaten/Kota, Dewan Masjid dan Forum Anak se Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam workshop ini, peserta dilatih mengenai peran keluarga dalam upaya memakmurkan masjid yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. H. Musbir Tahir, M.Sc. Pada kesempatan tersebut Musbir Tahir menyampaikan bahwa peran keluarga sangatlah penting.

“Kelurga mempunyai fungsi edukatif sebagaimana dalam Al-Quran Surah Al-Alaq 1-5. Karena itu upaya membuat masjid sebagai rumah ibadah yang ramah terhadap adalah dengan mengoptimasi peran keluarga terutama orang tua,” ujar Musbir Tahir yang disambut antusias para peserta yang didominasi ibu-ibu tersebut.

Menurut Musbir, fenomena yang terjadi saat ini di kalangan umat Islam terutama di Sulawesi Selatan adalah dimana anak-anak kurang tertarik untuk ke masjid karena dirasakan kurang ramah terhadap kebutuhan mereka sebagai anak. Penyebabnya misal tidak adanya fasilitas khusus yang disediakan untuk anak seperti shaf khusus anak-anak, taman bermain untuk anak dan lainnya.

Antusiasme peserta yang didominasi ibu-ibu mengikuti Workshop “Masjid Ramah Anak”, di Same Hotel, Makassar.

Menurut Ketua Panitia, Ibu Marzuka, tujuan diadakannya workshop ini adalah agar peserta memahami tentang konsep masjid yang ramah terhadap anak sehingga dapat dibuatkan program dan kegiatan, termasuk tempat bermain anak. Diharapkan anak menjadi semangat ke masjid dan tetapi tetap dapat belajar dan beribadah dengan nyaman.

“Adanya fasilitas khusus anak di masjid diharapkan bisa memancing semangat dan antusiasme mereka untuk akrab dan betah ke Masjid,” ujar Marzuka.

Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Anti dari P3A Provinsi Sulawesin Selatan. Ia berkata bahwa masjid ramah anak adalah salah satu solusi menyelamatkan generasi bangsa. Karena menurutnya, masjid ramah anak adalah satuan masjid dimana ia berfungsi sebagai ruang ibadah dan sekaligus menjadi salah satu alternatif tempat anak-anak berkumpul.

“Jadi disini, anak-anak dapat melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif dan reaktif dengan aman, nyaman dengan dukungan orang tua dan lingkungan sekitarnya,” kata Ibu Anti.

Panitia berharap, kegiatan workshop ramah anak ini dapat menjadi momentum dan inisiator gerakan masjid ramah anak di Provinsi Sulawesi Selatan, sehingga masjid menjadi salah satu sarana edukasi yang ramah terhadap anak ke depannya.

(mir/bti)

author