Vaksinasi dan Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Pimpinan DPRD Surabaya Gelar Diskusi Pakar

0
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti (tengah) nampak sedang menyampaikan alasannya menggelar diskusi daring bersama sejumlah pakar melalui Zoom Meeting dengan tema “Vaksinasi dan Pembelajaran Tatap Muka” di Surabaya, Senin (21/6/2021). (foto: Listya putri angreni)

 

 

SURABAYA – Seiring positivity rate COVID-19 di Surabaya meningkat, rencana pertemuan tatap muka (PTM) pada Juli 2021 mendatang berpotensi diundur. Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti menggelar diskusi bersama sejumlah pakar dengan tema “Vaksinasi dan Pembelajaran Tatap Muka”. Turut hadir dalm diskusi tersebut Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) Laura Navika Yamani, Perwakilan Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Provinsi Jawa Timur Estiningtyas dan anggota Dewan Pendidikan Jatim M. Isa Ansori. Agenda yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini dilaksanakan pada Senin (21/6/2021) pagi.

Reni Asuti menyampaikan dirinya kerap mendapat pengaduan warga terkait pandemi Covid-19.

“Pandemi terkait hubungan antarwilayah, apalagi Surabaya kota mobilitas jasa dan barang, baik dari Madura maupun kota-kota lain. Orang tua sudah sangat ingin anaknya masuk sekolah, tapi di sisi lain banyak pula yang masih khawatir. Penguatan prokes di anak-anak juga bisa melalui pembelajaran sekolah agar mereka bisa benar-benar siap,” ujarnya saat membuka diskusi.

Bagi Reni – sebagai unsur penyelenggara pemerintah – DPRD Kota Surabaya membutuhkan saran serta masukan dari para pengamat dalam upaya penanganan Covid-19. Hal ini ditujukan agar pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang sesuai. Selain itu, dirinya juga menuturkan bahwa yang perlu diperhatikan adalah tingkat kejenuhan dari masyarakat Kota Surabaya khususnya menyusul rencana sekolah tatap muka.

Sementara itu, Dosen FKM Unair, Laura Navika Yamani menuturkan terkait dengan percepatan vaksinasi dan protokol kesehatan.

“Ada orang yang terpapar walau telah divaksinasi sebanyak 2 kali, lalu terinfeksi sebulan setelahnya. Kondisi tersebut memunculkan keraguan masyarakat mengenai keefektifan vaksin. Dari keraguan tersebut, yang paling dikhawatirkan adalah penurunan partisipasi masyarakat untuk mau divaksin. Ini harus diantisipasi betul,” ujar Laura mengawali presentasinya.

Edukasi tentang vaksin dan program vaksinasi, lanjut Laura, diperlukan bukan hanya tentang manfaat pentingnya vaksin, melainkan juga bagaimana vaksin bekerja. Selain itu juga untuk mengetahui efek sampingnya, KIPI, atau juga pasca imunisasi, sehingga warga mendapat pengetahuan secara utuh dan tidak merasa ragu lagi. Informasi tersebut perlu didukung bukti-bukti ilmiah untuk menghentikan penyebaran hoax yang diterima mengenai vaksinasi.

Lebih lanjut, perwakilan PERSAKMI Jatim, Estiningtyas menekankan tentang keberhasilan pelaksanaan vaksinasi yang harus lebih sosiologis.

“Ada 8 kunci sukses vaksinasi di antaranya data sasaran, sosialisasi untuk memerangi hoax dan resistensi, rekrutmen dengan pendekatan socio-cultural, penyelenggaraan, distribusi, pengendalian KIPI, monitoring dan evaluasi, serta dokumentasi roses,” papar Pembina PERSAKMI Jatim itu.

Menurut Esti, PTM tidak berbeda dengan aktivitas masyarakat lain. Maka, harus ekstra hati-hati dalam penyelenggaraannya karena pelaku kegiatan belum mandiri secara bio-psycho-eco-cultural. Karenanya, memerlukan peranan pihak orang tua/wali murid dan pihak penyelenggara sekolah terkait persepsi yang sama relevansinya dengan kegiatan PTM Juli mendatang. Selain itu, durasi kegiatan anak di sekolah diharapkan hanya berkisar 3-4 jam selebihnya, disarankan menghabiskan waktu di luar sekolah.

Sementara itu, anggota Dewan Pendidikan Jatim Isa Ansori menekankan alasan mengapa PTM harus segera dibuka. Pihaknya juga telah melakukan survey pada September 2020 yang menyasar 5000 guru dan 1000 sekolah untuk mengetahui kesiapan sekolah tatap muka di Jatim jenjang TK-SMA

“Dari 4800 responden guru dan 932 sekolah. Tingkat kesiapan sekolah menunjukan 80% dan kesiapan guru mencapai 95%. Data ini didukung juga dengan kondisi Surabaya per 19 Juni 2021 bahwa tidak ada kelurahan dengan zona merah sementara kelurahan dengan zona hijau berjumlah 53, zona kuning 96 kelurahan, dan zona oranye 5 kelurahan. PTM nantinya dibatasi maksimal 25% kapasitas sekolah,” papar Isa Ansori.

Isa Ansori juga menanggapi soal inkonsistensi kebijakan Pemkot Surabaya yang memperkenankan tempat hiburan beroperasi namun sekolah tidak kunjung dibuka. Itulah alasan mengapa ia juga berharap PTM pada Juli mendatang tetap dilaksanakan, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

(nunung/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.