Berita Terpercaya Tajam Terkini

Usulkan Presidential Threshold Cukup 10%, Pakar Politik: Agar Masyarakat Banyak Pilihan!

0
Sosok Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan adalah 3 nama utama yang kerap masuk 3 terbesar survei berbagai lembaga sebagai kandidat kuat Capres pada Pemilu 2024 mendatang. Pakar politik Unair, Ali Sahab meminta Presidential Threshold cukup 10% saja agar masyarakat bisa memiliki lebih banyak pilihan. 

 

SURABAYA – Berbagai perbincangan elit politik menuju kontestasi Pemilu 2024 mulai bertebaran. Adanya berbagai rangkaian peristiwa menambah panas isu perpolitikan di tanah air, seperti diumumkannya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi bakal calon presiden yang diusung Partai Nasional Demokrat (NasDem) dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) NasDem, Jumat (18/6/2022) npekan lalu.

Menurut Pakar Politik dari Universitas Airlangga Ali Sahab, ketua umum partai NasDem, Surya Paloh, mampu melihat sosok potensial untuk menjadi calon presiden (capres) sehingga memberanikan diri untuk mengumumkan bakal calon lebih awal dari partai lainnya.

“Surya Paloh mampu melihat peluang siapa orang-orang yang potensial untuk maju sebagai capres. Namun, pengumuman bakal capres NasDem tidak akan berarti seperti PKS yang selalu menggembar-gemborkan mau mencalonkan Anies Baswedan,” ujar Ali kepada awak media beberapa hari yang lalu.

Ganjar Pranowo, menurut Ali, bisa saja dicalonkan oleh  Koalisi Indonesia Bersatu yang dibentuk oleh Golkar, PPP dan PAN beberapa waktu lalu. Anies baswedan bisa juga  tidak jadi dicalonkan. Hal itu, lanjutnya, dikarenakan Prabowo berkeinginan duet dengan  Muhaimin Iskandar sedangkan Puan Maharani akan mencari sosok selain Anies Baswedan.

“Anies agak sulit berpasangan dengan Puan karena Surya Paloh sudah tidak mesra dengan Megawati, kecuali ada tokoh yang bisa menyatukan,” tegas Ali.

Ali menjelaskan bahwa maju atau tidaknya seorang tokoh akan dikembalikan pada keputusan partai yang berkoalisi. Hal itu merupakan dampak dari kebijakan undang-undang pemilu yang menetapkan  Presidential Threshold 20%. Menurutnya, Presidential Threshold 20% adalah angka yang terlalu tinggi. Menurutnya, angka tersebut harus dikurangi agar lebih banyak pilihan bagi masyarakat dalam memilih presiden.

Presidential Threshold sebaiknya tidak setinggi itu, misal bisa 10%, sehingga bisa banyak calon yang maju. Masyarakat banyak pilihannya,” pungkas Ali.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.