Berita Terpercaya Tajam Terkini

Unair Siapkan Tim Pendamping Korban Kekerasan Seksual Di Kampus

0
Kekerasan Seksual di kampus
ilustrasi. (foto: times higher education)

 

SURABAYA – Kekerasan seksual di lingkup kampus tengah menjadi buah bibir di masyarakat. Satu-persatu kasus yang muncul membuktikan bahwa masih banyak penyintas yang enggan melaporkan kejadian tersebut. Alasannya beragam, mulai dari tekanan oleh lingkungan sekitar, hingga ancaman dari pelaku yang memiliki kekuasaan lebih tinggi.

Melalui tim pendamping yang telah dibentuk berdasarkan Permendikbud no.30 tahun 2021, penyintas tak perlu ragu untuk melaporkan pelaku. Pada lingkup Universitas Airlangga (Unair), penyintas dapat menghubungi Help Center Unair sebagai lembaga pendamping melalui instagram @help_centerunair, telepon Whatsapp di 081615507016, atau dengan mendatangi kantor administrasi Help Center Unair yang terletak di gedung Student Center. Penyintas dapat menceritakan kejadian yang terjadi, dengan juga  membawa bukti-bukti yang mendukung.

“Walaupun kejadiannya sudah lama, bukti-buktinya harap disimpan, karena akan sangat membantu untuk prosesnya,” sebut Liestianingsih D. Dayanti selaku ketua Help Center Unair, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (6/1/2022).

Setelah laporan diterima, Liestianingsih mengatakan bahwa akan ada konselor yang mendampingi penyintas dan memastikan kesehatan mental penyintas dalam kondisi yang baik.

“Bila perlu, penyintas yang memiliki ketakutan atau gangguan kecemasan akan dirujuk ke psikolog, rumah shelter, ataupun tempat pelayanan medis lainnya,” imbuhnya.

Liestianingsih memaparkan bahwa tim pendamping nantinya akan memeriksa laporan, sekaligus mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung adanya kejadian tersebut.

“Karena kami sangat menginginkan jangan sampai penyintas dirugikan dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh pelaku,” tegasnya.

Liestianingsih menegaskan bahwa pihak Help Center menjamin adanya perlindungan bagi identitas penyintas, sehingga penyintas tak perlu takut identitasnya terbongkar saat melaporkan pelaku.

“Kami memakai kode etik konselor, sehingga identitas pelapor tidak akan terbongkar. Kami juga memfasilitasi yang bersangkutan, apakah keluarga ingin kami yang memberitahu? atau kalau tidak mau, ya tidak kami hubungi,” tutur Lies sapaan akrabnya.

Lies sendiri menyadari bahwa bermacam-macam keadaan psikologi penyintas kerapkali membuat mereka takut untuk speak up.

“Memang kami tidak bisa mengintervensi, tapi kami berharap Help Center Unair dapat dimanfaatkan secara optimal, mungkin melalui temannya dapat membantu melaporkan kepada kami. Melalui dukungan semua unsur kampus, kami berharap dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman, sehat, serta bebas dari kekerasan seksual ,” harap Lies sekaligus mengakhiri keterangannya.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.