Sunday, April 21, 2024
HomeGagasanTransformasi Ekonomi China dan Dampak Investasinya di Indonesia

Transformasi Ekonomi China dan Dampak Investasinya di Indonesia

images (12)

Laporan dari China Development Forum di Diaoyutai State Guesthouse di Beijing http://m.chinadaily.com.cn/en/2016-03/19/content_23965734.htm pada Sabtu (19/3/2016) menampilkan diskusi Jack Ma, pemilik situs Alibaba dengan Mark Zuckerberg, pendiri dan bos situs sosial Facebook. Dalam forum tersebut, Jack Ma mengatakan masa 30 tahun keemasan China sudah berakhir dan saat ini masuk jaman kelesuan ekonomi China yang sangat mendalam. Kelesuan ekonomi China itu ditandai dengan mulai ditutupnya pabrik-pabrik dan tambang-tambang milik pemerintah, adanya PHK besar-besaran dan jutaan buruh pabrik dan tambang yang belum menerima gaji.

Kelesuan ekonomi China adalah dampak yang harus dibayar akibat 30 tahun era keemasan ekonomi China yang berhasil menempatkan Negeri Panda itu menuju negara ekonomi kelas menengah.

Setidaknya, ada tiga isu besar yang harus dipersoalkan oleh China dalam menghadapi kelesuan ekonomi menurut Jack Ma yaitu consumption, service dan high technology.

Sementara itu, menurut Mark Zuckerberg, China sudah menjadi negara ekonomi kelas menengah yang sudah tiba waktunya membutuhkan teknologi tinggi untuk memenuhi konsumsi masyarakat China. Artinya China tidak lagi melakukan impor commodity bahan mentah seperti batu bara untuk memenuhi kebutuhan industri pembangkit listrik, alat-alat elektronik serta industri otomotifnya tidak perlu lagi mengunakan banyak bahan tambang mentah yang diimpor. Sudah saatnya China menurut Mark, menuju negara ekonomi maju dan modern yang lebih berbasis teknologi tinggi.

Kelesuan ekonomi China yang terjadi saat ini hampir sama dengan yang dialami Jepang pada 1983 ketika Jepang menjadi negara kelas menengah dan bergeser ke negara kelas maju yang mengunakan high technology dimana mereka mulai mengurangi impor bahan baku tambang untuk energinya.

Lalu apa dampak dari kelesuan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu dengan sektor ekonomi Indonesia? Apalagi menurut enurut Jack Ma kelesuan ekonomi di negaranya menjelang melakukan transformasi ekonomi menuju negara ekonomi maju membutuhkan waktu sekitar 3 tahun lamanya dan bisa lebih jika mengalami kegagalan.

Yang pasti ekspor Indonesia berupa batubara dan bahan tambang mentah lainnya akan mengalami penurunan drastis. Begitu juga dengan komoditi crude palm oil (CPO) akibat turunnya permintaan CPO oleh China. Padahal tujuan ekspor bahan mentah Indonesia yang terbesar adalah negara asal Jack Ma tersebut.

Makanya tidak heran jika Pemerintah mulai rajin berhutang dengan menerbitkan obligasi, Surat Utang Negara (SUN) dan bahkan menerbitkan obligasi berbasis syari’ah (sukuk) mengingat sektor ekonomi syari’ah tengah bergeliat di tanah air.

Kalau Presiden berharap investasi China akan datang besar-besaran dalam bentuk investasi infrastruktur maka perlu ekstra hati-hati. Investasi China itu hanyalah investasi pembangunan pembuangan “sampah-sampah” hasil produksi ekonomi China seperti mesin pembangkit listrik batubara, kereta cepat dibawah 250 km/jam kecepatannya.

Investasi-investasi tersebut di-pull atau dikumpulkan oleh “pemulung-pemulung” dari Indonesia yang berdasi dan bermodal sedikit. Nah, secara kilat langsung Presiden kemudian membuat Paket Kebijakan Ekonomi X untuk mempermudah dalam menampung “sampah-sampah” hasil jaman keemasan ekonomi China itu.

Karenanya, Presiden tidak perlu kaget jika tiba-tiba kurs USD melompat tinggi dan terjadi ledakan pengangguran di Indonesia. Semoga saja tidak terjadi demikian.

ARIEF POYUONO
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular