Wednesday, April 17, 2024
HomeSains TeknologiKesehatanTerapi Sel Punca, Harapan Baru Penderita Jantung Koroner

Terapi Sel Punca, Harapan Baru Penderita Jantung Koroner

 

Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP (K) saat menyampaikan orasi ilmiahnya dalam rangka pengukuhan dirinya sebagai guru besar ke-116 FK Unair di Kampus C Unair, Rabu (27/10/2021). (foto: istimewa)

 

 

SURABAYA – Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang paling sering ditemui dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Hingga kini, terapi PJK masih menjadi tantangan besar bagi dunia kedokteran. Berbagai penelitian dilakukan sebagai upaya untuk menanggulangi masalah ini, antara lain: pengembangan obat-obatan dan tindakan intervensi yang lebih invasif  pada pasien.

Dalam orasinya di acara pengukuhan guru besar Universitas Airlangga (Unair) pada Rabu (27/10/21), Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP (K) menguraikan risetnya mengenai terobosan dengan pendekatan terapi regeneratif menggunakan sel punca. Menurut profesor asal Malang tersebut, intervensi koroner perkutan (IPK) alias pemasangan ring jantung merupakan pilihan modalitas terapi PJK yang berkembang sangat pesat dalam dua dekade terakhir. IKP terbukti dapat memperbaiki gejala dan juga kualitas hidup pasien PJK.

“Namun, terdapat juga limitasi yang tidak dapat dikesampingkan, yaitu penyumbatan mendadak pasca prosedur (stent thrombosis), penyumbatan kembali (in stent restenosis), dan revaskularisasi inkomplit. Pilihan terapi dengan bedah pintas koroner nyatanya juga memiliki beberapa limitasi berupa keterbatasan pada jejas difus, kemungkinan kegagalan graft, dan didapatkannya kondisi no option treatment (tidak dapat menjalani prosedur tindakan),” sambung guru besar Fakultas Kedokteran Unair ke-116 tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Prof Yudi menjelaskan bahwa, hasil penelitian menunjukkan timbulnya penyempitan pembuluh darah koroner berkaitan dengan adanya disfungsi sel endotel (dinding pembuluh darah). Jumlah sel punca didapatkan 40 persen lebih rendah pada penderita PJK. Jumlah ini dikorelasikan pula dengan peningkatan derajat keparahan pasien PJK, sehingga sel punca menjadi modalitas terapi baru dalam penatalaksanaan PJK.

Penerapan terapi sel punca, sambungnya, bertujuan, meningkatkan kadar Endothelial Progenitor Cell (EPC) pada pasien PJK sehingga meningkatkan vaskularisasi pada sistem arteri koroner dan perbaikan fungsi endotel dengan harapan meningkatkan survival dari pasien PJK. Pada tahap lanjut, pemberian sel punca diharapkan mampu membantu mencegah komplikasi in-stent restenosis maupun stent thrombosis.

“Kami melihat potensi yang besar mengenai penggunaan EPC dalam penatalaksanaan PJK. Melalui serangkaian penelitian yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa EPC dapat diisolasi dan dikultur dari Mononuclear Cell yang berasal dari sirkulasi darah tepi pasien PJK. Didapatkan bahwa EPC yang berasal dari darah tepi pasien PJK dapat di proliferasi kan secara signifikan,” jelas spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut.

Selain itu, ditemukan pula proses proliferasi dari EPC berhubungan dengan kaskade sinyal yang disebut Mitogen-Activated Protein Kinase (MAPK). Kaskade sinyal adalah suatu kaskade sinyal klasik dan terlibat dalam beberapa peran biologis seperti pertumbuhan dan perkembangan normal sel serta dapat merespon stress terhadap beberapa stimulus dari luar sel.

Tentunya, dengan ditemukannya jalur yang berperan dalam proliferasi dan diferensiasi EPC, maka akan semakin banyak peran EPC yang dapat dieksplorasi dalam usaha pengembangan terapi regeneratif PJK.

Prof Yudi juga melakukan eksplorasi untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan EPC. Beberapa obat-obatan untuk penyakit jantung, yakni: statin dan penghambat ACE (ACE inhibitors), terbukti dapat meningkatkan jumlah dan fungsi EPC. Tidak hanya itu, terdapat pula peningkatan kadar dan fungsi EPC setelah pemberian beberapa jenis antioksidan seperti ekstrak bawang putih dan ubi ungu.

Pengobatan regeneratif menggunakan sel punca, ujarnya, telah dipelajari secara ekstensif. Hanya saja, perawatan ini ternyata menghadapi tantangan sehingga tim peneliti mulai menggeser paradigma pengobatan regeneratif dari pengobatan berbasis sel menjadi pengobatan bebas sel menggunakan Sekretom.

“Sekretome dapat meningkatkan neovaskularisasi, angiogenesis, dan meningkatkan fungsi sistolik jantung dengan melindungi sel miokard dari apoptosis. Dengan berbagai sifat yang menguntungkan tersebut, tentunya penggunaan sekretom sangatlah berpotensi jika digunakan dalam penatalaksanaan penyakit jantung koroner,” pungkas Alumnus Unair tersebut.

(pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular