Berita Terpercaya Tajam Terkini

Subvarian Omicron BA.4.6 Muncul, Epidemiolog: Walau Belum Masuk Indonesia, Tetap Waspada!

0
Pakar epidemiologi UNiversitas Airlangga, Laura Navika Yamani. (foto: istimewa)

SURABAYA – Penyakit Covid-19 belumlah usai. Di tengah dunia global termasuk di Indonesia tengah dirundung kemajuan kasus subvarian omicron BA.4 dan BA.5, dunia kembali dikejutkan dengan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat yang menyatakan telah ditemukan subvarian omicron yaitu BA.4.6 yang menjadi subvarian pada kluster variant of concern (VOC). Pada akhir Juli 2022, subvarian ini di negeri Paman Sam tersebut telah ditemukan sebanyak 4,1% kasus Covid-19 dan sebanyak 10,7% dari kasus lokal di Nebraska, Kansas, Missouri dan Iowa.

Menanggapi hal tersebut, epidemiolog Laura Navika Yamani, S.Si., M.Si., Ph.D mengatakan bahwa subvarian BA.4.6 tergolong dalam pantauan yaitu jenis mutasi virus yang berkorelasi dengan perubahan karakteristik virus.

“Ya sudah ditemukan kasusnya berdasarkan laporan CDC di Amerika. Karena bukan lagi variant of interest jadi memang harus mendapatkan perhatian penting dari semua pihak termasuk di Indonesia,” ujar Laura Navika Yamani kepada cakrawarta.com, Kamis (11/8/2022).

Meskipun temuan kasus subvarian BA.4.6 ini belum ditemukan di Indonesia, alumnus Kobe University Jepang tersebut mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tetap waspada mengingat mutasi virus Sars-Cov-2 sebagai penyebab Covid-19 memang terus terjadi.

“Kita memang masih didera subvarian BA.4 dan BA.5, sementara di tempat lain sudah ada subvarian BA.4.6, mengingat mutasi terus terjadi dan  arus migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lain mulai berangsur normal maka masyarakat dan pemerintah tetap harus waspada,” tegas Laura.

Kewaspadaan yang dimaksud Laura adalah tetap ketat menerapkan protokol kesehatan dan mengikuti anjuran pemerintah untuk vaksinasi booster.

“Protokol kesehatan tetap menjadi senjata utama untuk melawan subvarian virus BA.4.6 dan tentunya adalah vaksinasi booster untuk meningkatkan imunitas kita yang mulai menurun dalam menghadapi mutasi virus tersebut. Klise memang tapi saya kira penting untuk diperhatikan,” pungkas dosen Epidemiologi Universitas Airlangga itu.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.