Berita Terpercaya Tajam Terkini

Soekarno-Anies Baswedan Dan Politik Sepak Bola

0

 

Bicara tentang Soekarno dalam dunia sepak bola, tak lepas dari upaya Bung Besar ini menyatukan bangsa Indonesia lewat olahraga, untuk menguatkan rasa nasionalisme Indonesia. Dan sepak bola sering kali dijadikan garda terdepan oleh Soekarno, yang digunakan sebagai alat perjuangan politik mengangkat martabat bangsa Indonesia. Bagi Soekarno, sepak bola memiliki keterkaitan dengan politik kebangsaan Indonesia. Apalagi di jaman baru merdeka, dimana situasi politik Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaan membuat dunia sepak bola sebagi sarana penguatan terhadap nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan. Soekarno sadar betul bahwa sepak bola dan nasionalisme memiliki keterkaitan dan persamaan.

Nasionalisme merupakan spirit atau jiwa dan sepak bola adalah bentuk fisiknya. Nasionalisme menurut Soekarno tidak sebatas rasa mencintai tanah air, tapi sejenis pandangan politik yang mengekspresikan semangat kebangsaan dalam konteks nation-state (negara bangsa) yang didasarkan atas partisipasi publik atau rakyat serta prinsip-prinsip persamaan hak dan kesataraan sosial. Dengan demikian, konstruksi civic-nationalism yang dianut Soekarno berseberangan secara diametral dengan nasionalisme nativistik yang didasarkan atas supremasi ras atau warna kulit tertentu yang biasanya diikuti dengan praktik diskriminasi rasial dan segregasi sosial.

Sepak bola pun demikian, sepak bola tidak mengenal one man show  dan meniadakan kolektifitas antar sebelas pemain yang mana masing-masing pemain memiliki peran yang saling melengkapi. Dalam hal melengkapi sarana olahraga pun, Bung Besar -julukan Soekarno- juga memasukkan nilai kebanggaan rakyat di hadapan dunia internasional dalam bentuk pembangunan Stadion GBK. Presiden Soekarno berupaya mengukuhkan Indonesia bahwa bangsanya mampu melaksanakan pembangunan sebuah kompleks olahraga bertaraf internasional yang pada masa itu dan belum banyak dimiliki oleh negara maju sekalipun.

Soekarno yang ahli dalam propaganda dan agitasi hendak menjadikan sepak bola sebagai salah satu alat untuk membentuk karakter bangsa dalam proses nation building. Dan terbukti prestasi sepak bola Indonesia di era Soekarno pun dapat dibanggakan oleh negara dan rakyat Indonesia. Meski akhirnya prestasi sepak bola Indonesia harus berbanding lurus dengan manuver politik Soekarno setelah kemerdekaan hingga berakhirnya kekuasaannya.

Keterkaitan dan persamaan dalam sepak bola dan nasionalisme yang diusung Soekarno dalam upaya mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional saat ini tengah diteruskan oleh Anies Baswedan. Gubernur Jakarta yang dalam pemerintahannya menggaungkan kolaborasi dan keadilan sosial dalam politiknya, membangun nasionalisme selalu bersandar pada nasionalisme yang dikonsepkan Soekarno yaitu partipasi publik, persamaan hak dan kesetaraan sosial.

Anies Baswedan dan Soekarno sama-sama pecinta olahraga sepak bola. Sedemikian cintanya kepada sepak bola bahkan dalam statementnya menanggapi pandemi Covid-19, Anies memasukkan harapan agar kondisi pasca pandemi bisa bermain sepak bola . “Bahagia itu kalau bisa main sepak bola, motoran, sepedaan barangkali dulu itu, tapi ketika pandemi bukan, bahagianya ketika Jakarta kematian nol, duh sujud syukur kita. Kematian hari itu nol, alhamdulillah. Mungkin aneh ya, tapi itulah kenyataannya yang saya rasakan,” demikian statement Anies Baswedan yang dimuat di sebuah media nasional dengan judul “Anies Baswedan: Dulu Kebahagiaan Saya Main Sepak Bola, Sekarang Bahagia Jika Nol Kematian Covid-19“.

Seperti Soekarno, Anies Baswedan menggunakan sepak bola sebagai alat perjuangannya mewujudkan keadilan sosial dalam dunia olahraga. Hal ini diwujudkan oleh Anies Baswedan dengan membangun 5 stadion sepak bola bertaraf internasional. Pembangunan 5 stadion bertaraf internasional yang dilakukan Anies Baswedan berdasarkan kondisi sosial warga Jakarta yang begitu menyukai olahraga sepakbola namun tidak memiliki kesempatan untuk bermain di lapangan yang standar dengan rumput yang bagus karena ketidakmampuan menyewa lapangan standar yangd dimiliki oleh swasta dengan harga sewa yang tidak dapat dijangkau warga Jakarta.

Anies menyebut dirinya beberapa kali memerhatikan lapangan sepa kbola yang rumputnya amat bagus dan berkualitas internasional. Namun sayangnya, kata dia, hampir semuanya dimiliki oleh sekolah ternama atau dibangun secara komersil. Di satu sisi, masih banyak anak Jakarta yang tidak memiliki biaya untuk mengikuti latihan sepak bola di klub yang berbayar mahal.

Mimpi Anies Baswedan juga sama dengan mimpi Soekarno, yaitu sama-sama bermimpi sepak bola Indonesia bisa mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia internasional dengan prestasi kelas dunia dan menjadi salah satu kekuatan sepak bola dunia. Pesannya begitu tegas agar 5 stadion sepak bola berstandar internasional tersebut tidak dikomersilkan, bahkan dituliskan di sekeliling lapangan bahwa lapangan ini tidak untuk dikomersialkan. Jangan sampai fasilitas ini jadi lapangan berbayar. Mengapa? Agar yang tak bisa bayar tetap bisa bermain. Agar klub-klub di perkampungan punya kesetaraan kesempatan untuk tumbuh, berkembang dan berprestasi maka Anies Baswedan menginginkan lapangan sepak bola ini jadi tempat untuk tumbuhnya potensi, tinggikan mimpi dan inspirasi anak-anak dari semua kalangan. Bahwa suatu saat nanti, anak-anak yang kini bisa bermain sepak bola di lapangan kelas dunia ini kelak bisa menjadi pemain kelas dunia.

Perhatian Anies Baswedan yang begitu tinggi pada sepak bola membuat prestasi sepak bola Jakarta meningkat. Sepak bola Jakarta dibawah kepemimpinan Anies Baswedan berhasil menunjukkan prestasinya di tingkat nasional. Bukan hanya Persija Jakarta yang berhasil menjuarai Liga pada tahun 2018 dan menjuarai Piala Menpora pada tahun 2021, Batavia FC sebagai salah satu klub sepak bola Jakarta juga berhasil masuk ke Liga 3.

Mengikuti Soekarno, Anies Baswedan juga memasukkan nilai kebanggaan rakyat Indonesia dihadapan dunia internasional dalam bentuk pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Meski dibangun
oleh Pemprov Jakarta, JIS oleh Anies Baswedan disebut sebagai maha karya dari Jakarta untuk bangsa Indonesia. Anies Baswedan bahkan menyebut stadion ini merupakan pembuktian ucapan Presiden RI
pertama Soekarno. Anies Baswedan menyebut Soekarno atau Bung Karno pernah mengatakan bangsa Indonesia pasti mampu membuat karya besar yang diakui oleh dunia.

JIS kini berdiri sebagai satu dari deretan bukti bahwa kita adalah bangsa yang besar. Kita adalah bangsa yang mampu mempersembahkan karya kolosal, karya yang setara dengan karya yang terbaik di dunia. JIS yang berkapasitas 82.000 penonton dan fitur atap buka tutup. JIS menjadi stadion beratap penuh terbesar di Asia Pasifik, berbeda dan lebih besar daripada National Stadium di Singapura dan Tokyo Dome di Jepang yang berkapasitas 55.000 orang.

Melalui kecintaannya terhadap sepak bola, kemegahan stadion atau stadium, baik Soekarno maupun Anies Baswedan menunjukkan pada dunia internasional bahwa Indonesia Bisa, Indonesia Setara!

AGUNG NUGROHO

Ketua Nasional REKAN Indonesia, Pecinta Sepak Bola dan Tinggal di Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.