Berita Terpercaya Tajam Terkini

Si Tukang Bakso Triliuner

0
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Ilmunya sederhana sekali. Siapa saja yang ingin kaya, wajib hidup dengan biaya lebih rendah dari pendapatannya. Lalu selisihnya dikumpulkan untuk dibelikan sesuatu yang tidak pernah menyusut nilainya. Ini adalah rumus dasar menjadi kaya

Ilmu ini sudah saya peroleh tiga puluh tahun lalu. Tepatnya 1992 saat pertama kali menjadi tukang bakso di Kota Pahlawan. Dan karenanya pada tahun 2015 saya sudah memiliki 6 rombong bakso. Saya sendiri menjalankan satu gerobak. Selebihnya dijalankan kawan-kawan yang saya rekrut desa Kaliabu, Caruban, Madiun. Desa tempat saya lahir dan menjalani masa kecil. Desa yang memberi saya pelajaran hidup super penting. Pelajaran untuk tidak mengambil hak orang lain sejak kanak-kanak.

Sudah menjadi tradisi di desa tepi hutan itu. Jika ada sarang burung liar dimana pun, yang berhak memanen anak burung adalah siapa saja yang melihat pertama. Klaimnya cukup mengatakan “Dip!” di depan kawan sepermainan. Dip adalah kata sakti pelindung hak. Saya menyebutnya ilmu Dip.

Saya pernah mendapatkan burung kutilang ilumu Dip ini. Saya bilang “Dip!” di depan Budi, Joko dan Edi. Tepatnya di sebuah rumpun bambu di tepi Kedung Blibis, sungai besar tidak jauh dari rumah bapak ibu saya. Informasi pun segera menyebar ke seantero anak desa. Mereka semua  turut menjaga hak saya. Sampai anak burung kutilang siap dipisah dari induknya dan dipelihara di rumah. Saat itu, memiliki burung kutilang yang bisa berkicau dan jinak adalah kemewahan bagi anak-anak.

Tidak pernah mengambil hak itulah yang menjadi bekal saya sendiri. Pun bekal yang saya tularkan kepada 5 orang yang menjalankan rombong bakso saya ketika itu. Enam rombong adalah puncak karier saya sebagai tukang bakso keliling.

Tapi ini bukan masalah kejujuran. Bukan masalah mereka mengambil hak. Pelajaran tentang itu sudah tuntas.  Tetapi tentang karier mereka sebagai tukang dorong bakso. Memang tidak ada jenjang karier. Jadi ketika itu mereka yang saya rekrut saat remaja itu pada mundur dan jualan bakso sendiri begitu punya uang untuk beli rombong. Begitu ingin punya pendapatan yang lebih tinggi karena mulai berpikir kebutuhan anak istri yang makin meningkat. Lima rombong bakso saya dijalankan oleh lima orang yang terus berganti ganti. Itu yang membuat berat pertumbuhan. Maka, ternyata tidak cukup pelajaran keuangan dasar tadi. Juga tidak cukup pelajaran sangkar burung tadi.

Saya pun belajar lebih keras lagi. Bermacam seminar bisnis saya ikuti. Mulai dari yang gratis sampai yang membayar puluhan juta. Mulai dari yang  online sampai yang offline. Mulai dari kota pahlawan tercinta tempat saya berjualan bakso sampai berbagai kota di nusantara. Saya haus ilmu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.