Berita Terpercaya Tajam Terkini

Setampuk Pinang

0

 

Hari ini, Kamis (7/4/2022) Presiden Joko Widodo ke Jambi untuk melaksanakan kegiatan resmi yakni ekspor pinang. Karena kegiatan resmi Presiden tersebut, izinkan saya menuliskan kembali catatan lama terkait pinang dengan judul “Setampuk Pinang”.

Usai membersihkan pusara tempat jasad almarhum ayahku dimakamkan, aku bergegas melewati jalan setapak Korong Kampuang Tangah, Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman.

Bekas hujan masih terlihat di jalan mulus yang menghitam. Sejak gempa bumi pada bulan Oktober 2009, kampungku memang berubah. Kerajaan Oman membangun kembali kampung yang hancur itu. Walau kini terasa lebih sesak, akibat rumah-rumah yang dibangun Kerajaan Oman diletakkan berdekatan seperti di perkotaan, keindahan kampungku tak hilang. Sebuah jembatan sudah hadir sejak tahun 2010, melintang di atas sungai Batang Nareh yang kini tak lagi mengalirkan air yang banyak.

Kampungku tak lagi terisolasi dari “peradaban”, sebagaimana terjadi sejak aku kecil. Walau lahir di Kampung Perak, Kota Pariaman, aku menjalankan masa sekolah dasar (hingga kelas 3, lalu pindah ke Air Angat), sekolah menengah pertama (pindahan dari SMP Koto Lawas, Pandai Sikat, Tanah Datar), hingga sekolah menengah atas dengan menetap di kampung ibuku itu. Tahun 2002 baru listrik masuk, setelah aku bekerja di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta.

Tahun 2007 sebuah jembatan gantung dipasang. Anak-anak gadis dan emak-emak tak perlu lagi menyimbahkan rok untuk menyeberangi sungai yang teramat deras itu, apalagi jika banjir datang.

Dari jauh, aku lihat seseorang sedang bekerja di sebuah pondok yang menjadi lapau (warung). Aku berhenti dan turun dari mobil. Kawan masa kecilku hingga besar ini namanya Daralih atau Darlis. Ia seniorku di kampung. Aku melihatnya menghamparkan pinang di lapau pinggir sungai Batang Nareh. Di sepanjang tanggul sungai itu, berjejer batang pohon kelapa yang ditulisi namaku oleh pemuda setempat. Selama ini, warga selalu menganggap bahwa setiap pembangunan besar-besaran dalam skala kampungku, ada aku yang mengurusnya di Jakarta. Aku tak perlu menceritakan soal ini. Yang penting kampungku sekarang terlihat lebih cengeh dan segeh dalam menatap dunia baru.

Tentu, aku hanya bertemu sesekali, pas pulang kampung, dengan Daralih. Dulu, dia lebih dulu merantau dariku. Aku mengingatnya sebagai sosok yang membawa mimpi masa remajaku untuk menjajaki hidup di rantau. Pas maota lamak di lapau, aku bilang mau punya rumah sendiri bersama keluarga kecilku kelak setelah menikah. Cita-citaku yang sering ditertawakan oleh senior-seniorku. Mana boleh orang kampung bercita-cita tinggi, walau hanya sekadar memiliki sebuah rumah kecil untuk bersama keluarga.

Cara hidup kami di kampung memang begitu. Bercita-cita setinggi langit, sampai langitnya runtuh, lalu kami tertawa-tawa. Orang-orang di dunia luar tahu betapa Pariaman adalah pusat dari Partai Cimeeh (Cemooh) Indonesia. Kami ada di alam pikiran yang sangat datar. Apapun kami cimeeh dan tertawakan, termasuk diri sendiri.

Barangkali, dalam zaman internet ini, anak-anak Pariamanlah yang menjadi pusat bumi dari segala bully, segala anonim, hingga segala bentuk tertawa menyeringai sebagai bagian dari kultur cimeeh kami. Bagiku, tak ada yang negatif dari kultur cimeeh itu. Yang penting, kami bisa terpingkal-pingkal dan terbahak-bahak usai memenangkan perdebatan.

Darlis seingatku selalu bercerita tentang rantau. Dan kami, junior-juniornya, bakal duduk mencangkung di sekelilingnya. Harapan kami bukan ceritanya, tapi traktirannya untuk sebuah ubi atau pisang goreng di lapau. Biarlah dia bercerita setinggi gunung, kalau perlu lebih tinggi dari gunung, asalkan ia menawarkan goreng singkong yang panas di lapau pinggir sungai. Sungguh, rantau adalah dunia yang asing dan terasa gemerlap bagiku. Di musim lebaran, pakaian Darlis memang mentereng dibanding anak yang tak pernah merantau sepertiku. Aku tak tahu gaya hidup, tak mengerti murah atau mahalnya harga ikat pinggang. Semua yang kupandang terlihat mewah di tubuh Darlis.

Dalam pertemuan ini, Darlispun tetap dengan pakaian kebesaran di zaman kejayaannya era 1980-an itu. Kaos yang berkerah dan berlengan. Beda dengan kaos hitam tanpa kerah pemberian Pariaman Nmax Riders yang kupakai.

Kini? Ia menjalankan hidup yang bagiku adalah bagian dari masa kecil dan remajaku yang syahdu. Hidup yang sederhana, bersahaja. Aku dulu juga memetik dan memungut buah pinang, membelahnya, mengeluarkan isinya, menjemurnya, serta menjualnya ke pasar di hari pekan di Balai Basung: Sabtu.

Kalau ada teman-teman sekolahku, apalagi cewek, datang ke rumahku di Hari Sabtu itu, pastilah aku segera berlari ke atas bukit: bersembunyi. Tinggal emakku berteriak-teriak memanggil namaku. Aku mengintip teman-temanku itu pulang, baru berani keluar dari persembunyianku. Hatiku bakal sangat dongkol, kalau buah pinang yang jadi sumber penghasilanku itu tergeletak di atas karung, apalagi dalam keadaan dijemur di halaman rumahku yang sangat luas itu, saking malu dengan keadaanku. Apalagi rumah kami tak punya jendela, berlantai tanah, kecuali kamar tidur orang tuaku.

Tak banyak yang kujual. Hanya kiloan, tak sampai sekarung apalagi sekuintal. Aku hanya anak sekolah yang mencari uang belanja sekali sepekan untuk uang sakuku. Kalaupun dapat, uang itu kugunakan untuk menyewa buku-buku komik dan novel yang ada di sebuah tempat dekat Bank BRI Kampung Dalam sekarang. Seorang kakek tua menjaga tempat penyewaan itu, sampai akhirnya hilang ditelan zaman.

Aku sering melongokkan kepala dari mobil atau kendaraan umum, tiap kali melewati tempat penyewaan buku-buku itu. Harapanku, kakek tua itu kembali duduk menunggu anak-anak kecil yang mengembalikan buku-bukunya, lalu meminjamnya lagi dengan uang ratusan rupiah. Semoga kakek tua itu kini sedang memegang buku-buku yang kupinjam atau yang lupa kukembalikan di alam sana dalam keadaan terkekeh. Al-Fatihah.

Hidup yang bersahaja bagiku adalah hidup yang tak bisa dipandang sebagai hidup yang merana. Darah belum setampuk pinang, begitu kata pepatah. Setampuk pinang masak adalah nadi dari perjalanan anak laki-laki di Ranah Minang dalam pusaran roda hidup.

Tak ada yang di bawah, tak ada juga yang di atas: karena hidup itu berputar…

JAKARTA, 5 Desember 2017

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.