Berita Terpercaya Tajam Terkini

Selain Rendang, Apa Perang Dagang Orang Minang?

0
Rendang dan Minang
Ilustrasi Rendang Minang. (foto: istimewa/shutterstock)

 

Sumatera Barat sudah melewati berbagai perang. Sumatera Barat, dari segi perang etnografis, sudah selesai dalam adegan adu kerbau betina Majapahit versus anak kerbau baru menyusui bertandung runcing Pagaruyyung, pada abad ke-13. Perang bersenjata moderen, berhenti dengan kehadiran senjata-senjata yang dibeli dari Kesultanan Turki Utsmani, pada abad ke-16. Sementara perang ideologis, sudah pula berakhir dengan Bukit Marapalam Agreement pada tahun 1840-an. Untuk perang sipil atau civil war, berbentuk Perang Belasting 1908, Perang Silungkang-Sawalunto 1926, hingga PRRI yang dipasok senjata-senjata terbaru kiriman CIA-ASIO dalam bab akhir kekuasaan Presiden Soekarno.

Apakah posisi Minang dalam keseluruhan perang itu? Tentu kita bisa bertanya kepada Audrey Kahin, istri dari George Mc Turnan Kahin. Simpulan Audrey, dari kaum pemberontak (pembangkang) menjadi kaum integrator.

Lalu, apa yang belum selesai? Gerilya ekonomi, dalam terminologi Gerpolek Tan Malaka. Jauh lebih lama, banyak, dan dalam, Tan Malaka hidup dan belajar ekonomi, ketimbang tentang politik, geostrategis, hingga ideologi. Tetapi, peristiwa Kediri membuat ideolog tunggal pergerakan ini terkubur tanpa nisan. Pikiran-pikiran gerilya ekonomi Tan Malaka tak sempat diurai panjang, sebagaimana nukilan pemikiran yang lain. Tan Malaka seakan sosok yang imun dari pikiran-pikiran terkait ekonomi. Bagaimana bisa? Bukankah Das Kapital atau Manifesto Komunisme bicara tentang ekonomi, perjuangan kelas, alat-alat produksi, ghazwul fikri atau perang pemikiran, penguasaan laut dan akses atas laut, dan segala macam masalah perut lain, walau disampaikan dalam diksi ideologi.

Rendang, saya tidak tahu, sejak kapan menjadi ikon Minangkabau. Dokumen mana yang bisa dijadikan rujukan. Keputusan Gubernur-kah, Peraturan Daerah-kah, atau Peraturan Nagari-kah? Yang jelas, rendang hadir meruak ke seluruh area, ketika terjadi bencana alam. Sumbar tak mengirim beras, pasukan Bujang Selamat yang terlatih, perahu dari kayu hitam yang sangat kuat asal Mentawai, rakit terbuat dari bambu makai yang direndam di dalam lumpur, sehingga membangkitkannya butuh ritual adat dan petatah-petitih.

Ya, sudah pasti saya tidak suka rendang. Makanan utama saya sejak kecil, ikan. Bukan saja ibu saya orang pesisir, Pariaman, tetapi ayah saya yang terutama menjadi pemberi titah: orang Jepang cerdas, karena konsumsi yang tinggi atas ikan. Hampir tiap pekan, pada hari Sabtu, ayah berpakaian putih-putih – sebagai Aparatur Sipil Negara –menyangkutkan tuna-tuna besar di motor Honda paling mentereng di Kota Pariaman, masuk kampung kami. Etek, Emak, dan Anduang se-kampung kecil itu, Kampung Tangah dengan lima rumah induk, seperti kenduri mingguan.

Rendang? Bagian dari ritual. Benar, sekali setahun, sehari sebelum lebaran, guna kebutuhan Ratib Patang Bantai. Saking tingginya nilai spiritual rendang, ibu pernah bercerita, betapa ada emak-emak yang memotong payudaranya sendiri, demi memasak rendang untuk anak-anaknya di malam takbiran itu. Tambah mengerikan dan berdarahlah rendang di mata saya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.