Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rusia Lakukan “Langkah Militer” di Donets dan Luhansk, Dunia Di Ambang Perang Dunia?

0
Donetsk dan Luhansk dimasuki militer Rusia
ilustrasi. (gambar: istimewa)

SURABAYA – Hari ini, jagad media sosial ramai dengan narasi “dimulainya perang” oleh Rusia terhadap Ukraina. Berbagai media arus utama mulai merilis berita bahwa perang benar-benar dimulai.

Awal mula narasi perang telah dimulai berasal dari pemberitaan mengenai langkah militer Rusia yang memasuki wilayah Donetsk dan Luhansk, dua wilayah Ukraina Timur yang mencoba melepaskan diri dari kendali Kiev dengan memproklamirkan “kemerdekaan” mereka sebagai Republik terpisah pada 2014.

Menariknya, pada Senin (21/2/2022), Rusia mengakui Donetsk dan Luhansk sebagai wilayah yang “merdeka” dan “independen”. Sebagai dampaknya tentu Rusia dapat masuk ke dua wilayah ini jika ada permintaan atau undangan dari otoritas setempat. Menurut pengakuan Kremlin melalui juru bicaranya Dmitry Peskov mengatakan bahwa para pemegang “otoritas” wilayah Donetsk dan Luhansk menulis surat kepada Putin untuk meminta bantuan.

“Menekankan bahwa surat itu menunjuk pada adanya “korban sipil di wilayah Donbas”. Karenanya, pemerintah masing-masing meminta bantuan presiden Rusia dalam memukul mundur ‘agresi angkatan bersenjata Ukraina’,” ujar Dmitry Peskov sebagaimana rilis Anadolu Agency, Kamis (24/2/2022).

Media di Rusia menulis bahwa berdasarkan keterangan Putin, “operasi” militer Rusia hanya ada di wilayah Donetsk dan Luhansk dan tidak ke wilayah lain di Ukraina. Alasan Kremlin adalah untuk “penjagaan perdamaian” atau peace keeping.

Berbeda dengan pandangan Rusia, otoritas Ukraina dan negara-negara Barat masih bersikukuh bahwa wilayah Donetsk dan Luhans masih menjadi wilayah Ukraina. Pandangan inilah yang kemudian membuat beberapa media arus utama menganggap militer Rusia melakukan okupasi wilayah tersebut sehingga muncul istilah “menyerang” dan kemudian muncul istilah “perang” telah dimulai. Apalagi muncul informasi mengenai ‘aktifitas peralatan militer” di wilayah Donetsk dan Luhansk.

Menariknya kasus Rusia-Ukraina ini adalah, referendum sudha selesai dilakukan di Donetsk dan Luhansk sejak tahun 2014 silam, dengan hasil “ya” untuk menjadi sebuah Republik yang “indipenden” dan bukan menjadi bagian dari Ukraina dan juga bukan bagian dari Rusia. Meskipun banyak masyarakat di wilayah Donetsk dan Luhanks ini yang masih berharap mereka menjadi bagian Rusia. Inilah yang membuat referendum di Donetsk dan Luhansk agak¬† berbeda dengan Krimea, meski sama-sama terjadi di tahun 2014. Krimea sejak awal memang ingin menjadi bagian dari Rusia.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendukung Ukraina dan akan melakukan langkah-langkah diplomatis-taktis untuk membantu Ukraina dari apa yang disebut Gedung Putih sebagai “serangan yang tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan yang dilakukan oleh militer Rusia.”

“”Kami akan terus memberikan dukungan dan bantuan kepada Ukraina dan rakyat Ukraina,” ujar Joe Biden sebagaimana dirilis Anadolu Agency, Kamis (24/2/2022).

Saat berita ini dimuat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam video terbuka kepada publik telah mengumumkan darurat militer dan mendesak warganya untuk tidak panik saat Rusia melancarkan “provokasi militer”nya.

Tak ayal, situasi terkini Rusia-Ukraina termasuk “langkah militeristik” Rusia terhadap Donetsk dan Luhansk membuat sebagian warga Kiev mulai meninggalkan kota tersebut dan harga minyak dunia mulai terkerek ke level tiga digit untuk pertama kalinya sejak 2014.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.