Berita Terpercaya Tajam Terkini

REKAN Indonesia Nilai Kadinkes Jakarta Widiastuti Tak Becus Bekerja

0
Ketua Nasional Relawan Kesehatan Indonesia, Agung Nugroho. Ia menilai Kadinkes Jakarta Widiastuti tidak becus bekerja karenanya dia mempertanyakan kinerjanya selama ini. (foto: istimewa)

 

JAKARTA – Baru-baru ini Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jakarta, Widiastuti dituding tidak becus dalam menyelesaikan kisruh tunjangan hari raya (THR) dan insentif untuk dokter dan tenaga kesehatan (nakes).

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dr. Dian Pratama di rapat komisi dengan Kadinkes Jakarta meminta dengan tegas agar Widyastuti tidak masa bodoh dalam menangani kasus tersebut.

“Karena sering pembagian intensif jasa dokter bermasalah, saya minta Kadinkes Jakarta untuk segera membuat aturan yang jelas mengenai dana insentif para dokter dan nakes di RSUD yang ada di Jakarta,” tegas Bendahara Fraksi Partai Gerindra itu pada Jumat (20/5/2022).

Selain itu Dian juga meminta agar persoalan kisruh THR dan insentif tidak lagi terulang.

“Saudari Kadis saya minta tidak masa bodoh dalam soal rancu uang intensif dokter dan nakes di RSUD maupun Puskesmas ini. Bantu dong gubernur Anies dalam membenahi pelayanan kesehatan di Jakarta. Kalau uang intensif dokter dan nakes ini terus bermasalah, pasti akan berdampak kepada pelayanan kesehatan masyarakat,” papar dr Dian.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Nasional Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia, Agung Nugroho menyebutkan bahwa kejadian kisruh soal dana di Dinkes Jakarta sebenarnya sudah sering terjadi hanya tidak ada yang mengungkapkan ke permukaan.

Menurut Agung, Widiastuti sebagai Kadibkes Jakarta masih mewarisi pola yang sama dalam hal dana. Mengingat Widiastuti ini Kadis diduga merupakan hasil dorongan mereka¬† yang kerap disebut sebagai “mafia koruptor” di Dinkes Jakarta dan disodorkan ke Gubernur pada saat seleksi calon Kadis.

“Padahal dia saat menjabat Kabid P2P adalah orang yang paling tidak paham peraturan dan regulasi kesehatan. Karena tujuan ‘mafia Dinkes’ itu bagaimana orang mereka yang bisa dijadikan kepala dinas dan saat itu tidak ada orang lain di Dinkes maka Widi yang didorong untuk jadi kadis” cerita Agung.

Tujuannya adalah melindung kasus-kasus korupsi pejabat sebelumnya seperti temuan dugaan korupsi alkes, dugaan korupsi pembangunan 23 Puskesmas di Jakarta, bancaan dana BLUD, dan lain lain.

“Jadi wajar jika Kadinkes¬† lemah dalam mitigasi masalah dan memutuskan solusi dari masalah karena dia tidak bisa mengambil keputusan cepat akibat tidak paham regulasi dan peraturan yang ada,” sergah Agung.

Menurut Agung, ketidakbecusan Kadinkes bukan hanya dalam persoalan dana THR dan insentif dokter serta nakes, tapi juga tidak becus dalam mengawasi dan membina rumah sakit (RS) dalam pelayanannya kepada warga DKI.

“Sudah bertahun-tahun menjabat sebagai kadis masih juga tidak mampu membenahi rujukan di DKI, setiap harinya masih saja ada keluarga warga yang sakit yang disuruh oleh RS mencari kamar kosong di RS rujukan,” ujar Agung.

“Itu masih ditambah dengan pelayanan di Poli RSUD yang dokternya sering terlambat datang dengan alasan sedang visit pasien. Padahal tertera di SOP jam buka poli jam 8 – jam 10 pagi untuk pendaftaran, tapi kadang sampai jam 10 dokternya belum juga datang,” pungkas Agung.

(bm/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.