Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (2)

0

Rais Abin cakrawarta

“Menjadi Panglima dari sebuah Pasukan Perdamaian yang dibentuk oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), bukanlah hal yang mudah. Ia harus senantiasa memimpin pasukannya untuk berfungsi dengan baik untuk mencegah timbulnya pertikaian di antara dua negara yang berselisih. Apalagi kalau diingat, bahwa Pasukan Perdamaian PBB dengan sendirinya merupakan produk dari hasil pembicaraan bangsa-bangsa sedunia. Itu berarti bahwa pasukan itu tidak melepaskan dirinya dari pengamatan internasional.”

(Harian Pikiran Rakyat, 19 Januari 1977)

Itulah bunyi salah satu tajuk surat kabar di Bandung, ketika Rais Abin yang pada waktu itu berpangkat Mayor Jenderal, diangkat sebagai Panglima Pasukan Perdamaian atau United Nations Emergency Force (UNEF) PBB tahun 1976-1979. Panglima pertama dari putera bangsa Indonesia dan Asia dalam Pasukan Perdamaian PBB. Banyak pula surat kabar di dalam dan luar negeri menulis hal yang sama, sebagai rasa bangga bahwa peranan Indonesia diakui oleh badan dunia PBB.

“Ya, kami sangat bangga,” ujar Brigjen TNI I Gede Sumertha, waktu saya bertemu masih menjabat Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Mabes TNI Cilangkap. Hari itu, Kamis, 11 Agustus 2011.

“Kami akan mengarah ke sana. Itulah sebabnya pembangunan Markas Besar Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Sentul akan membantu ke arah itu, ” lanjutnya.

Saya juga berkunjung ke Sentul pada waktu itu. “Luar biasa,” ujar saya berdecak kagum. Bayangkan area perkantorannya seluas 65, 8 ha dan area latihan seluas 156, 94 ha. Berikutnya area rumah-rumah dinas (rumdis) seluas 18,2 ha. Terletak di Desa Sukahati, Kecamatan Citeureup, Sentul, Bogor.

Partisipasi Indonesia pada Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB didasari oleh semangat Pembukaan UUD 1945, khususnya Alinea IV, tentang komitmen Indonesia untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Indonesia telah mengirim Pasukan Perdamaian PBB sejak tahun 1956 sebagai partisipasi Indonesia dalam menjaga Perdamaian Internasional.

Rais Abin sudah tentu gembira dengan dibangunnya pusat latihan di Sentul, Bogor ini. Awal karier militer Rais Abin yang sangat menonjol adalah terlibat langsung di dalam Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah. Jabatan yang diserahkan awal mulanya bukan langsung sebagai panglima, tetapi sebagai Pejabat Sementara UNEF II. Mengapa demikian? Karena Panglima sebelumnya yang berasal dari Swedia, yaitu Letjen Bengt Liljestrand sakit. Awalnya Rais Abin diangkat sebagai Kepala Staf Pasukan UNEF II merangkap pejabat sementara Panglima Pasukan UNEF II.

Mengapa disebut UNEF II? Karena sebelumnya ada UNEF I yang bermarkas di Gaza, tahun 1956. Tetapi bulan Mei 1967, Sekjen PBB waktu itu U Thant menarik pasukan UNEF I atas desakan Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ketidakhadiran pasukan UNEF I memberi peluang kepada Israel untuk menyerang negara-negara Arab. Itulah sebabnya pecah Perang Enam Hari yang dimenangkan Israel.

UNEF II kemudian dibentuk. Ini upaya negara-negara besar dan prakarsa negara-negara Non Blok di mana Indonesia pernah memprakarsai berdirinya negara Non Blok ini. Ketika itu dikeluarkan resolusi gencatan senjata, Oktober 1973, yang disponsori Rusia dan Amerika Serikat, serta disetujui Dewan Keamanan PBB.

Pada waktu pembentukan UNEF II ini, delapan negara Non Blok (Indonesia, Guinea, India, Kenya, Panama, Peru, Sudan dan Yugoslavia), mengusulkan agar PBB mengirim pasukan daratnya atau Emergency Force dengan kontingen yang terdiri dari negara-negara anggota PBB di luar lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB (AS, Rusia, Inggeris, Perancis dan RRC).

Usul tersebut kemudian diterima DK PBB pada tanggal 25 Oktober 1973. Begitu UNEF II sah terbentuk, sehari kemudian beroperasi langsung.

Pasukan pertama tiba di Kairo pada tanggal 26 Oktober 1973 malam dan yang mula-mula datang adalah dari Finlandia, disusul pasukan Austria, Swedia dan Irlandia. Mereka diterbangkan dari Cyprus. Pada waktu itu, pasukan-pasukan ini sedang bertugas dalam operasi pemeliharaan perdamaian di Cyprus.

Dalam waktu 48 jam, hampir 600 pasukan UNEF II hadir di tempat. Kemudian banyak lagi kontingen berdatangan, seperti dari Peru, Panama, Ghana, Indonesia, Senegal dan Nepal. Kekuatan pasukan UNEF II berangsur-angsur mencapai 7000 orang, hanya dalam tempo beberapa minggu.

Staf markas besar pun cepat-cepat dibentuk seadanya. Intinya terdiri dari anggota-anggota United Nations Truce Supervisory Organizations (UNTSO). Panglima UNEF II yang pertama adalah Letnan Jenderal Ensio Siilasvuo dari Finlandia. Ia terkenal sebagai veteran misi pemeliharaan perdamaian PBB.

Pasukan Perdamaian PBB waktu itu terpencar-pencar menduduki wilayah penyanggah seluas 7000 km persegi. Jumlah pasukan itu masih ditambah lagi dengan 200 peninjau militer dari 17 negara dan semuanya berada di bawah Panglima Pasukan Perdamaian PBB, yang pada 1 Januari 1977, resmi dikomandani Mayor Jenderal Rais Abin.

Panglima suatu misi perdamaian PBB, seperti UNEF II, otomatis diberi pangkat Assistant Secretary General, pangkat ketiga tertinggi setelah Sekretaris Jenderal PBB. Menilik kronologinya untuk sampai ke posisi terhormat dalam skala dunia itu, jalan yang dilalui Rais Abin sepintas tampak mulus, tetapi kenyataannya tidak demikian. Ada beberapa prosedur yang harus dilalui.

Pertama, Sekjen dan para pembantunya menilai sang bakal calon untuk dipilih memangku jabatan panglima.

Kedua, setelah calon dianggap layak, maka namanya disodorkan kepada pihak yang bersengketa.

Khusus mengenai sengketa Gurun Sinai menyangkut sengketa Mesir dan Israel. Hubungan dengan Mesir, sudah tentu pihak Mesir setuju agar Rais Abin jadi panglima. Tetapi yang jadi masalah, apakah pihak Israel setuju Rais Abin dari Indonesia jadi panglima, karena selama ini tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel?

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan, Penulis dan Sejarawan Senior

Leave A Reply

Your email address will not be published.