Wednesday, February 28, 2024
HomeGagasanRais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur hingga Ketua Umum LVRI (13)

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur hingga Ketua Umum LVRI (13)

Rais Abin cakrawarta

Karier Rais Abin di militer semakin meningkat setelah tahun 1972 masuk ke Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas). Waktu itu, ia masih berpangkat kolonel. Rais bertemu lagi dengan Ahmad Kosasih yang pangkatnya sudah Letnan Jenderal.

Rais Abin lulusan terbaik. Karier yang gemilang itu bukan berarti tidak mengalami kecewa. Pernah ingin mengundurkan diri dari militer gara-gara selama tujuh tahun tidak dipromosikan. Tetapi ketika Kolonel Hernowo menjadi Deputinya dalam Proyek Pengembangan Pulau Batam, oleh Kosasih tentang prestasi Rais Abin dilaporkan kepada KSAD Jenderal Umar Wirahadikusumah. Akhirnya Rais Abin diangkat menjadi Wakil Komandan Sesko ABRI dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Kemudian tanggal 2 Januari 1976, Rais Abin berangkat ke Sinai menggantikan posisi Mayor Jenderal Erskine sebagai Kepala Staf Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Timur Tengah. Tahun 1976-1979, Rais Abin ditunjuk sebagai panglima. Semasa ini pula pangkatnya naik menjadi Mayor Jenderal.

Setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik di Timur Tengah, Rais Abin ditarik ke Jakarta menjadi Asisten Perencanaan Umum Menhankam/Pangab. Awalnya Rais Abin berpikiran, ia akan ditugaskan dari Mesir ke Namibia, Afrika. Tetapi negara lebih memerlukan pemikiran Rais Abin di dalam negeri.

Selama empat bulan menunggu posisi barunya di Jakarta. Menjadi asisten Menhan/Pangab ABRI (sekarang TNI) M. Jusuf waktu itu bersifat sementara menjelang mendapat pisisi baru di Jakarta.

Ternyata, pada tahun 1981, Sekretaris Militer Presiden Soeharto waktu itu, Marsekal Madya Kardono mendatangi Menhan/Pangab M. Jusuf. Ia menyampaikan berita bahwa Rais Abin dipersiapkan menjadi duta besar, dan agar kepangkatannya segera diselesaikan secara administratif.

Maksud Kardono, Rais Abin akan dipersiapkan akan menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia. Sedangkan masalah kepangkatan masih diurus Departemen Hankam. Oleh karena itu, ketika dilantik menjadi Duta Besar di Malaysia, pangkat Rais Abin tetap Mayor Jenderal, karena menunggu proses pengangkatan, sedang yang digantikan sebagai duta besar adalah Makmun Murod, mantan Kasad, Jenderal berbintang empat. “Masa digantikan oleh seorang bintang dua saja?,” ujar Rais Abin heran.

Kesabaran memang membutuhkan waktu, meski sedikit agak lama, Rais Abin berhasil juga meraih pangkat Letnan Jenderal, dua hari menjelang bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia (1981-1984). Dikarenakan dalam “Protocol Agreement” masih dimuat pangkat Mayor Jenderal, Rais Abin terpaksa segera menemui Menteri Luar Negeri Malaysia untuk meralat.

Peristiwa terjadi ketika Rais Abin sedang di Jakarta. Kembali Sekretaris Militer Presiden, Kardono mendatanginya. “Eh, itu, itu…, Jusuf udah beritahu belum?,” tanya Kardono kepada Rais Abin.

“Apa, apa, Mas,” giliran Rais Abin bertanya ingin tahu tahu.

“Lho, sampeyan itu tambah ininya,” ujar Kardono, seraya menunjuk pundaknya. Artinya pangkat Rais Abin, segera akan menjadi tiga bintang, Letnan Jenderal.

Buat Rais Abin, membicarakan pangkat selalu berhati-hati. Mana tahu jika dibicarakan akan muncul anggapan “Rais Abin minta pangkat…” Tetapi jika tidak dibicarakan, situasi dan kondisi di lapangan berbicara lain, di mana sering terjadi dengan komandan, Rais Abin harus memerintah anak buah, yang pangkatnya lebih tinggi.

Inilah yang terjadi ketika Rais Abin menjabat Kepala Staf UNEF II, 2 Januari 1976, yang kala itu masih Brigadir Jenderal. Tetapi bawahannya seorang Komandan Kanada sudah berpangkat Mayor Jenderal.

Waktu itu, Rais Abin menceritakan permasalahannya kepada Hasnan Habib, Kepala Staf Administrasi Menhan/ Pangab, yang kebetulan datang ke Sinai.

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior, Sekarang tinggal di Depok

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular