Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rahman Sabon: Ratu Loli Kapitan Lingga Layak Menjadi Pahlawan Nasional RI

0
Makam Pahlawan Ratu Loli Kapitan Lingga di Adonara, Nusa Tenggara Timur.
Makam Pahlawan Ratu Loli Kapitan Lingga di Adonara, Flores Timur (Nusa Tenggara Timur).

JAKARTA – Pengamat politik senior Rahman Sabon Nama meminta kepada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla agar menghargai jasa tokoh perang kemerdekaan RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni Ratu Loli Kapitan Lingga. Tokoh besar legendaris pengusir kolonialisme penjajah Portugis dan Belanda dari Adonara NTT itu jasanya baru dihargai oleh Presiden pertama yaitu Ir. Soekarno dengan memerintahkan Kementerian Agama pada 1958 untuk membangun secara permanen Makam Pahlawan Ratu Loli Kapitan Lingga di Adonara ,Flores Timur.

Ironisnya, menurut Rahman Sabon, hingga kini pemerintah seolah lupa akan jasa kepahlawanan Ratu Loli, seakan lenyap ditelan sejarah perjalanan waktu bangsa. Oleh karenanya untuk mengingatkan generasi muda bangsa akan kepahlawanan Ratu Loli, Rahman Sabon yang juga Ketua Umum APT2PHI (Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia) ini mendesak pemerintahan Jokowi-JK memberikan gelar pahlawan.

“Untuk itu saya mengetuk hati untuk mengingatkan presiden Joko Widodo agar dimasa pemerintahnya dapat memberikan gelar pahlawan nasional pada tokoh besar pejuang kemerdekaan RI asal Nusa Tenggara Timur ini. Momentumnya tepat sekaligus menjadi informasi bagi publik yang kerap lupa nama dan sejarah pahlawannya sendiri,” ujar Rahman Sabon saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/01/2017).

Menurut Rahman Sabon, dari berbagai sumber literatur sejarah perjuangan bangsa dan kisah riwayat dari keluarga Kapitan Lingga yaitu Bapa Kuma atau Bapa Loppo pemegang Rumah Adat Putri Paus Kapitan Lingga, dirinya mendapatkan gambaran utuh mengenai sejarah Ratu Loli sehingga siap menceritakan dan menjadi tambahan referensi agar bisa dijakan bahan pertimbangan Pemerintah untuk menetapkan Ratu Loli Kapitan Lingga sebagai pahlawan nasional pejuang pra kemerdekaan RI dari NTT.

“Berdasarkan data sejarah perjuangannya baik melalui literatur dan pemegang Rumah Adat Putri Paus Kapitan Lingga, maka Ratu Loli pantas dan layak menjadi pahlawan nasional RI,” tegasnya.

Untuk diketahui bersama, Ratu Loli bergelar Kapitan Lingga di masanya adalah tokoh pergerakan Indonesia merdeka yang getol memerangi dan mengusir Portugis dan bBelanda mulai dari tanah Adonara melalui perang Lamahala Adonara dan perang Timor, perang Luwu Sulawesi, Perang Lingga Kepulauan Riau , perang Aceh hingga perang di Semenanjung Malaka di Malaysia dan Singapura.

Kapitan Lingga berperang melawan Portugis dan Belanda bermula dari rencana Eropa yang hendak menjajah Indonesia karena sempitnya usaha berdagang di pasar Eropa. Adanya Dekrit Raja Philipus II yang melarang Belanda berdagang di Lisabon dan Perjanjian Saragoza oleh Paus Clemens VII lalu membuat Portugis, Spanyol dan Belanda mencari daerah baru perdagangan ke Indonesia terutama di bagian Timur mulai Maluku hingga ke Flores dan Nusa Adonara dengan mengusai suku bangsa Lamaholot yaitu suku bangsa yang mendiami gugusan dari kepulauan Adonara, Solor, Lembata, Alor dan Flores Daratan atau juga disebut dengan gugusan Solor Watan Lema.

Berdasarkan perjanjian Saragoza itu maka rombongan pertama 800 prajurit dan Padri penyebar agama Katolik Portugis dipimpin oleh Portulano Fransisco Rodques tiba di Lamakera Kepulaun Solor Flores tahun 1575 dan menyusul datang pula bangsa Belanda melalui ekspedisi ll yang dipimpin oleh Yakob Van Neck dan Wythrand Van Waerwijck untuk ikut menanamkan pengaruhnya baik di bidang ekonomi dan politik Devide Et Imperanya melalui raja-raja di Adonara hingga sebelum tahun 1888.

Portugis yang Katolik fanatik selalu benci dan bertentangan dengan Belanda penganut Kristen Klavinis fanatik. Karena itu, Belanda memanfaafkan kesempatan ini bersama raja Lamahala untuk berperang melawan Portugis di Adonara. Perang bermula pada 18 April 1613 antara pasukan Rotu Loli melawan Portugis dan Belanda yang memaksa penduduk Lamahala Pulau Adonara, yang mayoritas beragama Islam dan Animisme menjadi penganut agama Katolik.

Disebutkan bahwa Belanda dan Portugis mendatangkan 200 ekor babi untuk dipelihara penduduk Lamahala yang beragama Islam serta memaksa penduduk menyetor 2 ekor babi tiap satu keluarga kepada pemerintahan kolonial di Lamakera Solor. Sebagai pemuka agama Islam, Ratu Loli meminta kepada Portugis di Lamakera agar babi itu disalurkan pemeliharaannya pada penduduk pribumi beragama Katolik. Akibat permintaannya itu, Ratu Loli ditangkap dan dituduh telah menghasut penduduk Islam Lamahala untuk menyerang bangsa Portugis.

Akhirnya, Ratu Loli dipasung dengan rantai kapal dimasukan ke dalam lubang tanah di Benteng pertahanan Lohayong. Mengetahui penahanan tersebut, sahabatnya Raja Lamahala Swaudin Bapa Bulu dari Suku Selolong berusaha membebaskan Ratu Loli dengan mengirim 2 mata-mata yakni Kabi de Tama dan Nuha Sala hingga berhasil membawa kabur Ratu Loli dengan bantuan Ata Banda, seorang tawanan dari pulau Banda yang ikut ditawan di Benteng Lohayong.

Larinya Ratu Loli dan Ata Banda dari tahanan di Benteng Lohayong Lamakera membuat Portugis marah hingga memerintahkan armada pasukannya menyerang dengan membombardir Lamahala dengan arteliri dan meriam dari laut dan darat, sehingga Raja Lamahala Swaudin Bapa Butu ditangkap.

Portugis pun mengadakan perjanjian dengan Raja Lamahala dengan syarat Ratu Loli harus diserahkan kembali ke tangan Portugis dan Lamahala tunduk di bawah kekuasaan Portugis. Tentu saja, perjanjian itu ditolak oleh pimpinan Suku Atapukan, suku Selolong dan Suku Malakalu.

Ketika perang berlangsung, sebenarnya Ratu Loli sedang pergi meminta bala bantuan berupa senjata dan kapal perang dari Kerajaan Buton dan Sultan Hira di Ternate. Didapatlah sebuah kapal perang bernama Putri Paus Benang Sutra dan Ratu Loli menjadikannya sebagai pusat kekuatan armadanya. Dengan bantuan Belanda, akhirnya Portugis pun dikalahkan dan Benteng Lohayong berhasil direbut dan namanya berubah menjadi Benteng Port. Hendrikus. Sementara Ratu Loli dan pasukannya terus mengejar dan mengusir bangsa Portugis hingga ke Timor Leste (Timor Portugis).

Perang Kapa Gota Lamahala Melawan Belanda

Belanda memang licik setelah bersama membantu pasukan Ratu Loli memenangkan perang melawan Portugis, kini Belanda berbalik berperang mengepung Lamahala dengan kapal perang dari segala jurusan. Penyebab Perang Lamahala dikarenakan penganiayan tentara Belanda pada rakyat, hasutan Belanda agar Raja Lamahala dan Raja Adonara tunduk pada Raja Larantuka hingga akibat penolakan pembayaran pajak kepada Belanda.

Perang melawan Belanda ini dipimpin Kapitan Blae Sarakah namun kalah sehingga Blae Serakah dihukum seumur hidup dan dibuang ke Pekalongan di Jawa. Dalam pengasingannya ini, Kapitan Blae Serakah didampingi putranya yaitu Bapa Lake. Setelah bapanya meninggal dalam tahanan di Pekalongan, Bapa Lake kembali ke Adonara dengan mengganti namanya menjadi Longa Jawa sebagai kenangan dari pulau Jawa kata Longa arti dari Kota Pekalongan.

Ketika perang Belanda di Adonara, Ratu Loli diminta oleh Kerajaan Buton untuk memimpin perang melawan penjajah di Kerajaan Luwu Sulawesi, kemudian menundukkan Kerajaan Lingga Riau sehingga akhirnya ia diberi gelar Kapitan Lingga. Dari Lingga, Ratu Loli terus berusaha mengusir penjajah dari Indonesia dengan berperang melawan penjajah di Palembang (Sumatera Selatan) dengan meninggalkan sejarah berupa situs Senapan Batu.

Ratu Loli juga pernah menjadi panglima perang dan berkolaborasi bersama kerajaan di Aceh Barat hingga berhasil mengusir Belanda dari Bumi Serambi Mekah itu. Bukti jejak sejarahnya bisa ditemukan dengan adanya petilasan di Tapak Tuan Aceh dan jejak bekas telapak kakinya di pesisir pantai kota Tapak Tuan Aceh.

Sebagai panglima perang, Ratu Loli berhasil mengejar armada Portugis yang mundur hingga ke Malaka (Malaysia). Bukti dari peristiwa ini adalah dibangunnya pangkalan perang bernama Pelabuhan Meong-Meong di Malaka dan situs pemandiannya, Aimoa yang ramai dikunjungi turis di Malaka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.