Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rabu Ini, Rusia Kembali “Hentikan” Kiriman Gas Alam Ke Jerman

0
Aliran pipa gas alam yang menghubungkan Rusia ke Jerman, Nord Stream 1. (foto: hannibal hanschke/Reuters)

 

JERMAN – Rabu (31/8/2022) Perusahaan raksasa energi milik pemerintah Rusia, Gazprom, kembali memutus aliran gas alamnya yang melalui saluran pipa penting yang menghubungkan Rusia ke Jerman, Nord Stream 1. Apa yang dilakukan oleh Gazprom tersebut dinilai semakin meningkatkan kekhawatiran baru tentang pasokan energi khususnya gas alam ke Eropa.

Alasan resmi yang dikeluarkan pihak Gazprom adalah bahwa pemutusan yang dilakukannya ini bersifat sementara karena alasanya perlunya pemeliharaan. Setelah tiga hari, kata Gazprom, pipa akan dimulai kembali “asalkan tidak ada malfungsi yang diidentifikasi.” Disebutkan bahwasanya pengurangan aliran gas alam tersebut dilanjutkan dengan kapasitas 20%. Penting diingat bahwa Gazprom pernah melakukan tingkat pengurangan yang sama yang telah diberikan sejak akhir Juli. Pihak pemerintah Jerman dan badan eksekutif khusus energi menganggap langkah Gazprom bermotif politik.

Tentu apa yang dilakukan oleh Gazprom ini akan diawasi dengan cermat olehh “pasar energi” untuk melihat apakah pasokan dilanjutkan sesuai jadwal sebagaimana pernyataan pihak Gazprom. Hal tersebut mengingat pihak Gazprom pernah menutup pipa aliran gas alamnya juga pada Juli lalu selama 10 hari, dengan alasan yang sama yakni untuk kepentingan pemeliharaan.

Seperti negara-negara Eropa lainnya, Jerman memang tengah bersiap untuk mengisi fasilitas penyimpanan gas alamnya sebelum musim dingin tiba pada Desember mendatang. Hal tersebut penting bagi Jerman sebagai konsekuensi terhadap pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Rusia dampak dari krisis Ukraina-Rusia yang belum usai hingga sekarang.

Apa yang dilakukan Jerman tersebut terlihat terbaca oleh Rusia sehingga pihak pemerintah Rusia tampaknya berusaha menghalangi upaya itu serta menciptakan ketidakpastian atas pengiriman gas di masa depan.

Sejauh ini, hasilnya beragam. Fasilitas penyimpanan gas Jerman telah mencapai lebih dari 83% kapasitas dan tampaknya akan memenuhi target pemerintah sebesar 90% pada 1 November 2022 mendatang.

Di sisi lain, pemutusan aliran dan kekhawatiran tentang pasokan gas alam dalam beberapa bulan mendatang telah mendorong harga gas alam di Eropa ke level baru hingga meraih rekor dalam beberapa pekan terakhir. Situasi tersebut menimbulkan beberapa dampak buruk pada sektor ekonomi yang dinilai “sengaja” dilakukan Rusia dengan tujuan untuk mencegah upaya-upaya menyimpan gas.

Gazprom ternyata tidak hanya membidik Jerman. Pada hari Selasa (30/8/2022), Engie, sebuah utilitas besar Prancis, mengatakan bahwa Gazprom telah memberi tahu perusahaan tersebut bahwa mereka memotong pasokan gas karena perselisihan kontrak.

“Rusia menggunakan gas sebagai senjata perang dan kami harus bersiap menghadapi skenario terburuk dari gangguan pasokan,” kata Menteri Transisi Energi Prancis, Agnes Pannier-Runacher, kepada radio France Inter, seperti diberitakan media Reuters.

Sementara itu, Senin (29/8/2022), Uniper, utilitas Jerman yang merupakan salah satu pembeli dan pemasok gas alam terbesar di Eropa, mengatakan bahwa mereka telah menghabiskan fasilitas kredit 9 miliar euro atau $9 miliar dari pemerintah Jerman dengan meminta kreditnya sekitar 4 miliar euro lebih atau sekitar Rp 59,3 Triliun.

Pihak Uniper mengatakan bahwa dengan pasokan yang dikontrak dari Gazprom turun 80% sehingga mereka harus membeli gas di pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi untuk memasok pelanggan sehingga menyebabkan kerugian sekitar 100 juta euro lebih per hari. Atau nilai kerugian mereka per harinya mencapai Rp 1,48 triliun.

Uniper sendiri telah menyetujui bailout pada bulan Juli 2022 lalu dimana bailout tersebut artinya pemerintah Jerman mengambil saham di perusahaan tersebut meskipun membutuhkan persetujuan Uni Eropa sebelum resmi berlaku sepenuhnya.

Kepala eksekutif Uniper, Klaus-Dieter Maubach, mengatakan bahwa Uniper bekerja dengan pemerintah Jerman untuk “solusi permanen untuk keadaan darurat ini.” Jika tidak, dia sendiri memperingatkan, perusahaan tidak akan dapat memenuhi apa yang dia sebut sebagai “fungsi kritis sistem” sebagai pemasok gas alam untuk kota dan pabrik di Jerman.

(Stanley Reed/The New York Times/ original article here)

(bm/bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.