Berita Terpercaya Tajam Terkini

PSI Bukan Membidik Anies Baswedan, Lalu Siapa?

0
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Ibarat permainan bola, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sudah kalah, dan ketinggalan angka sangat jauh. PSI tidak punya kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), karena pada pemilihan umum 2019 kemarin suara perolehan mereka tidak sampai batas minimal 4%. PSI harus kerja keras, memotivasi semua pemainnya untuk menyerang. Tujuannya? Mengejar ketertinggalan angka.

Saat ini, cara terbaik bagi PSI adalah menyerang. PSI butuh tepuk tangan penonton untuk memompa semangatnya. Dengan tepuk tangan penonton, itu akan jadi motivasi buat PSI.

Ada dua penonton terbesar di negeri ini. Pertama, penonton yang mendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kedua, penonton yang mendukung Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Untuk mendapat apresiasi dari para penonton pendukung PDIP, PSI harus menyerang Anies. Dan benar, setiap PSI menyerang Anies, para penonton pendukung PDIP bertepuk tangan. Serang terus… Serang terus… Serang terus…teriaknya.

Tanpa sadar, para pendukung PDIP pelan-pelan juga menjadi pendukung PSI. Psikologi para pendukung ini, terus dirawat dan dimainkan oleh PSI.

Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang pada ulang tahun (ultah) PSI, Giring Ganesha selaku Ketum PSI, memuji Presiden Jokowi. PSI akan tegak lurus mendukung Presiden Jokowi. PSI nampak lebih tegas dan transparan dukungannya kepada presiden Jokowi, “mungkin” melebihi kader PDIP itu sendiri. Tanpa sadar, presiden Jokowi sudah diakui dan menjadi bagian penting dari PSI ini.

Di ultah PSI, pimpinan PDIP diundang atau tidak, tidak ada beritanya di media. Yang pasti, presiden Jokowi sebagai kader PDIP diundang dan hadir di ultah PSI. Posisi Jokowi sebagai presiden, bukan sebagai kader PDIP. Ini langkah cerdas dan taktis.

Apresiasi PSI yang sangat tinggi kepada presiden Jokowi akan menjadi satu poin tersendiri. Dari sini, PSI ingin mengambil tepuk tangan yang lebih meriah lagi dari para pendukung Jokowi yang notabene banyak dari kader PDIP.

Di depan presiden Jokowi, Giring Ganesha menyerang Anies Baswedan. Giring Ganesha mengungkapkan ketakutannya jika Anies Baswedan  nanti yang jadi presiden. Tentu, ketakutan terhadap nasib PSI ke depannya.

Ini akting yang bagus dari Giring Ganesha di depan presiden Jokowi. Giring tidak hanya ingin mengambil simpati hanya dari presiden, tapi terutama dari para pendukung presiden yang berada di kantong PDIP. Giring Ganesha ingin menarik para pendukung Jokowi ke PSI.

PSI sekarang mengambil posisi terdepan untuk berhadap-hadapan dengan para pendukung Anies Baswedan. Tentu, ini pilihan strategis yang telah matang diperhitungkan. Berhadapan dengan para pendukung Anies Baswedan, PSI telah masuk di kubu para pendukung PDIP. Kalau sudah ada di dalam kubu para pendukung PDIP, akan relatif lebih mudah bagi PSI menggeser dukungan kader PDIP ke PSI. Cara yang jitu.

PSI sesungguhnya fokus menyasar para pendukung PDIP. Menyerang Anies Baswedan adalah cara yang dipilih, dan sepertinya cukup efektif. Boleh jadi, bukan karena Giring Ganesha tidak suka sama Anies Baswedan. Ini hanya soal pilihan strategi untuk PSI. Ah, kayak anda gak tahu saja watak para politisi kita.

Akan ada episode-episode berikutnya untuk memainkan strategi ini. Silahkan buka teori Lewis Coser yaitu “The Function of Social Conflict“. Konflik sengaja dibuat untuk menciptakan solidaritas sosial baru. Nah, PSI nampaknya memainkan teori ini. Konflik dengan Anies Baswedan untuk membuat secoci-sekoci yang anggotanya diambil dari para pendukung PDIP.

Bagi para pendukung Anies Baswedan, serangan Giring Ganesha juga menguntungkan. Dengan serangan Giring Ganesha, maka para pendukung Anies Baswedan muncul, menunjukkan dan memperkuat solidaritasnya. Lalu menggunakan semua persenjataan media sosialnya untuk menyerang balik Giring Ganesha dan PSI.

Terlihat seru, tapi semua punya kalkulasi politiknya. Semakin diserang, PSI juga merasa diuntungkan. Popularitas naik, simpati dari kelompok pendukung PDIP didapat.

Saling serang antara PSI dan para pendukung Anies Baswedan memang tidak menguntungkan bagi PDIP. Ceruk PDIP lama kelamaan akan tergerus oleh PSI. Jika hal ini dibiarkan, PDIP akan banyak kecolongan suara di Pemilu Legislatif tahun 2024 mendatang.

Kesimpulannya: Lawan sesungguhnya bagi PSI adalah PDIP. Anies Baswedan hanya instrumen untuk mengambil suara dari PDIP.

JAKARTA, 10 Januari 2022

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.