Berita Terpercaya Tajam Terkini

Program Disinfeksi Lingkungan Peternakan Dinilai Efektif Putus Penularan PMK

0
ilustrasi. (foto: ampelsa/antara)

 

SURABAYA – Sejumlah hewan ternak di empat kabupaten di Jawa Timur terjangkiti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Mulai di Kabupaten Gresik, Lamongan, Mojokerto, hingga Sidoarjo. Menilik hal tersebut Pakar Kedokteran Hewan, Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam menyebutkan akan pentingnya program disinfeksi di lingkungan peternakan terutama di daerah ditemukannya kasus.

Menurut Fendik, PMK merupakan penyakit yang menyerang hewan berkuku belah karena virus. Tingkat penularannya juga tergolong tinggi. Penyebarannya dapat melalui berbagai cara mulai dari udara, makanan, kotoran yang menempel pada alas kaki, pakaian, kontak langsung, peralatan kandang dan jarum suntik.

“Disinfeksi dapat diberikan pada kandang. Ini menjadi upaya memutus dan mencegah penularan virus penyebab PMK secara lebih luas,” ujar Fedik, Jumat (13/5/2022).

Fedik menjelaskan bahwa peternak dapat memilih beragam jenis disinfektan seperti Kalsium Karbonat 3%; KMNO4 3%; Formaldehyde 1%; Sodium hypochlorite 3%; Sodium hydroxid 2%; Sodium Karbonat 4%; Citric Acid 0,2%; atau Sodium Chlorite 1%.

“Tidak perlu menggunakan semua jenis disinfektan, namun salah satu saja sudah cukup,” imbuh Fedik.

Menurut guru besar virologi dan imunologi tersebut, dari berbagai disinfektan yang ada, terdapat beberapa jenis bahan yang kemungkinan mengalami resistensi terhadap virus tersebut. Misalnya, Chlorine Dioxide dan Iodophores.

“Untuk disinfektan berbahan Chlorine Dioxide dan Iodophores masih memiliki kemungkinan untuk virus mengalami resistensi atau kurang efektif,” paparnya.

Fedik mengatakan disinfeksi dapat dilakukan efektif pada pagi dan sore. Dengan ketentuan bahan yang dapat dipertimbangkan. Selain itu, ada beberapa bagian tubuh sapi yang harus dibersihkan.

“Untuk alas dapat menggunakan kaporit. Namun karena efeknya oksidator, biasanya untuk alas. Pada bagian dinding bisa menggunakan formaldehaide 1% dengan volume rendah. Sedangkan pada aliran air dapat menggunakan Chloride. Sementara, untuk penyemprotan dengan KMNO4 dapat dilakukan pada kaki sapi, sedangkan mulut sapi yang mengalami luka dapat dicuci menggunakan NaCl 1-2%”, terangnya.

Fedik menyampaikan bahwa disinfektan dapat dibuat sendiri oleh peternak. Terutama bagi peternak di daerah yang tidak mendapat disinfektan komersial.

“Peternak bisa membuat sendiri dengan cukup efektif. Dengan pendekatan virologi, salah satunya menggunakan kaporit dengan suspensi 10%, lalu diencerkan menjadi 2% supaya lebih ringan,” katanya.

Selain itu, penggunaan disinfeksi dosis rendah akan menarget virus secara langsung. “Kaporit tidak berefek buruk bagi hewan, namun kalo terlalu tinggi kadarnya menjadi oksidator sehingga alat (berbahan besi) menjadi berkarat,” ujar Fedik memperingatkan.

Fedik berpesan pada para peternak untuk tidak panik dengan kejadian penularan virus PMK ini mengingat sapi bisa sembuh dengan perawatan, disinfeksi kandang, dan pemberian vitamin.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.