Monday, February 26, 2024
HomeGagasanPlus Minus Bencana Nasional

Plus Minus Bencana Nasional

 

Ini menurut pengalaman saja. Hari ke delapan saya sudah sampai di Aceh, pasca tsunami. Layak jadi bencana nasional dan malahan masuk kategori bencana internasional. Saya di Jakarta setelah itu bersama Teten Masduki dan kawan-kawan, menyusun rancangan (draft) BRR. Ada banyak materi di brankas di gudang rumah saya, dari konsep kecil sampai besar. Kami juga menerbitkan buku tentang Aceh. Sumbangan saya terbanyak atas buku itu: 80 halaman buku.

Lalu, muncul gempa bumi di atas 8 skala richer (SR) di Sumatera Barat. Hari kedua saya terbang bersama pesawat jet pribadi keluarga Pak Jusuf Kalla, bersama mas bro Poempida Hidayatulloh. Bang Nirwan Bakrie mengucurkan Rp 100 juta ke rekening saya. Dua bulan lebih saya aktivasi relawan yang bermarkas di Kota Padang. Tiap pekan pergi ke Pekanbaru naik mobil, saya kadang ikut, membeli cabai, ikan asin, dan lauk-pauk lainnya. Beras dibeli di Solok. Karena kesibukan menjadi relawan bencana, saya hampir lupa mengurus pencalonan mas bro Yuddy Chrisnandi sebagai Calon Ketua Umum (Caketum) DPP Partai Golkar. Padahal, saya adalah Campaign Manager bro Yuddy.

Seingat saya, gempa bumi di Sumatera Barat masuk kategori Bencana Nasional. Banyak pesawat besar masuk BIM, dari Russia, Turki, USA, dll. Kapal-kapal besar merapat di Teluk Bayur. Tenda-tenda raksasa dari manca negara. Orang-orang asing: tentara, polisi, satgas, dll.

Lalu, hadir juga kitab-kitab Injil dan para pengkhotbah. Wajar, mereka yang simpati datang dari jamaat-jamaat gereja yang taat yang menyumbang. Ada juga rahib-rahib. Muncul isu aneh-aneh di tengah-tengah massa: Kristenisasi di masayarakat sudah beragama. Muncul juga isu penculikan anak-anak korban gempa yang dipungut bapak atau ibu asuh berbeda agama, guna dibaptis dan lain-lain. Isu banyak, kenyataan? Wallahu ‘alam.

APBN mengucur. Ditetapkan Rp 3,3 Trilyun. Setahun baru dipakai Rp. 2,2 Trilyun. Yang Rp 1 Trilyun lain? Dibatalkan pemerintah pusat. Dihapus Pusat. Saya ngamuk, baik di koran nasional atau lokal. Saya tulis judul besar: “Rp. 6,6 Trilyun Dana e-KTP mudah, Rp 1 Trilyun dana buat rakyat Sumbar susah.” Macam-macam saya tulis. Headlines. Seingat saya, tetap saja dana sisa itu tak ada.

Pak Jusuf Kalla rupanya sudah me-lobby banyak negara Muslim. Yang boleh bantu hingga tahap rekonstruksi adalah negara-negara Muslim. Bertahun kemudian, kampung saya yang rata dengan tanah menjadi kampung paling bagus di Kabupaten Padang Pariaman. Jalan mulus di tepi sungai. Ratusan rumah baru, malah kini banyak yang tak dihuni, padahal dalam kondisi mulus. Mesjid indah. Pemerintah Kerajaan Oman yang membangunnya. Keluarga saya di bawah Datuak Lenggang Basa yang mengurusnya. Walau Datuak Lenggang Basa tak pandai membaca dan menulis, ponakannya bisa speak-speak dalam bahasa Inggris dengan pihak kedutaan Oman.

Banyak masalah muncul. Tukang yang lari. Harga-harga pasir dan batu yang naik. Warga yang semula janji ini gratis, itu gratis, rupanya memberi label harga pada batu, tanah, pasir dan kerja mereka. Untung syeikh-syeikh asal Oman itu baik-baik. Berapapun duit diminta, mengalir lebih banyak. Asal, kampung indah itu segera selesai; lalu pemerintah Kerajaan Oman yang entah dimana itu segera selesaikan laporan keuangan untuk diaudit. Seingat saya, tak ada satupun auditor internasional datang ke kampung kami itu; guna bertanya harga sekeranjang pasir atau sebongkah batu. Luar biasa mereka. Allahu Akbar.

Selesai? Saya nggak tahu. Nanti saya bicara. Yang jelas, pas saya pulang kampung beberapa bulan lalu, sulit mencari tukang, mencari orang yang bisa membelah kolam saya dari dua menjadi enam. Saya hampir bekerja sendiri. Untung ada kawan-kawan SMP dan SMA saya. Pas dia lihat saya masuk ke kolam berlumpur, ikut pula Ramon dan kawan-kawan masuk dan tidur dengan lumpur di badan. Upahnya? Nasi bungkus. Itupun kadang datang telat, karena tak ada ojek yang memandori kami.

Apa warga saya makin materialistis? Saya kurang yakin. Puluhan batang kelapa di pinggir Batang Naras yang saya tanam dan dberi nama “Kelapa IJP” yang berusia 8 tahun, berbuah lebat. Siapapun boleh mengambilnya. Karena saya yang terjun ke sawah; Harimau Sago-nya Sawah Kasiak, Dusun Lansano, Nagari Sikucur, siapapun berpantang menerima atau meminta upah dari saya. Entah kalau orang lain. Coba saja ada yang minta upah ke saya, saya pasti perlihatkan gigi taring saya dan menyemburkan api dari kedua mata saya di malam-malam buta, dari rumah tengah sawah yang besar itu dan tak dihuni sepeninggal saya ke rantau.

Silakan berteriak bencana nasional, kalau perlu internasional sekaligus. Apa sudah keluarkan kalkulator: berapa biaya perubahan-perubahan ekonomi, sosial, budaya, bahkan mentalitas yang dibawa oleh sebutan-sebutan keren itu.

Kalau bangsa ini masih mampu, saya rasa lebih elok jika kita terjun bersama, mandiri, swakelola: karena kitalah yang tahu relung hati bangsa, negara, budaya dan bahkan agama dan adat istiadat kita sendiri.

Termasuk di NTB. Maaf…

Jakarta, 23 Agustus 2018

 

INDRA J PILIANG

Direktur Eksekutif Sang Gerilya Institute

RELATED ARTICLES

Most Popular